Suasana Sarasehan Pendidikan dan Silaturahim Nasional (Silatnas) Organisasi Profesi Guru Indonesia.

SURABAYAPAGI.com - Serbuan berita-berita hoaks mengancam ketenangan dan kerukunan hidup berbangsa dan bernegara. Berita-berita tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga bagi masyarakat pada umumnya semua isi berita terkesan valid dan seolah-seolah ditulis berdasarkan fakta dan data yang benar-benar terjadi.

Pada kasus tertentu, kepintaran mengemas mampu mengalahkan logika dan nalar sehingga memicu terjadinya konflik dan hilangnya rasa saling percaya.

Apabila kondisi ini dibiarkan, tidak diatasi atau dicegah dengan cara-cara cerdas (elegan) bukan mustahil akan terjadi kekacauan. Pencegahan paling efektif melalui pendidikan yang mengutamakan penguatan karakter dan akhlak mulia.

Penguatan karakter akhlak mulia yang dimaksud adalah praktik-praktik pendidikan yang membumi, aplikatif dan realisatis, bukan sekedar seremonial dan normatif.

Demikian kesimpulan yang diperoleh dalam kegiatan Sarasehan Pendidikan dan Silaturahim Nasional (Silatnas) Organisasi Profesi Guru Indonesia di gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, akhir pekan lalu.

‘’Berita-berita hoaks tersebut terus bermunculan, dan sampai saat ini kita telah menghapus ribuan situs hoaks dalam berbagai bentuk seperti blog, vlog, website, FB, instagram dan sebagainya, ‘’ kata Ketua PBNU dan Staf Kepresidenan, Juri Ardiantoro saat membuka sarasehan, Selasa (27/11).

Juri yang juga ketua IKA-UNJ menambahkan, jika dibaca dan dicermati isinya, berita-berita hoaks itu sangat mengerikan dan sangat mengkhawatirkan apabila isi berita itu diterima dan diperlakukan sebagai sebuah kebenaran.

‘’Untuk itu, kita perlu menyelamatkan anak-anak dari pengaruh berita itu. Dengan demikian kita bisa menyelamatkan masa depan bangsa,’’ ujarnya.

Rektor Universitas Terbuka, Prof Ojat Darojat, selaku keynote speaker menekankan bahwa pada abad sekarang ini orang tua tidak bisa menghindarkan anak-anak dari pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). ‘’Sebab, mereka lahir di era iptek, makanya kita sebut mereka sebagai genarasi milenial,’’ kata Ojat.

Untuk itu, Ojat menambahkan, anak-anak perlu dibekali bagaimana cara-cara menyikapi dan memahami cara-cara mendeteksi sumber-sumber berita yang valid.

‘’Mereka perlu dibiasakan untuk mengenali sumber-sumber berita atau data yang benar, cara atau metode pengumpulan data, dan cara menarik kesimpulan yang benar. Cara-cara ini akan membantu mereka untuk mengenali dengan mudah mana yang hoaks dan mana yang bukan hoaks,’’ ujarnya.

Dia mencontohkan, salah satu caranya adalah apa yang dilakukan di Universitas Terbuka. ‘’Kita siapkan berbagai cara dan aplikasi. Bahkan ketika mahasiswa ujian sendirian melalui perangkat komputer dan gadget yang nereka punya dapat diketaui apakah dia mencontek atau melakukan kecurangan. Hal dapat diketahui dengan mudah sekalipun tidak ada pengawas ujian,’’ katanya.

Zulfikri Anas dari Indonesia Emas Institute menekankan, penguatan karakter dan akhlak mulia merupakan sasaran utama pendidikan di Indonesia. “Jika kita benar-benar konsisten menjadikan agama sebagai basis penyelenggaraan pendidikan, maka semua kompetensi keilmuan dan sikap-sikap spiritual yang mendorong setiap orang untuk berpikir dan bertindak secara bijak akan terealisasikan secara otomatis,” kata Zulfikri.

Ia mengemukakan, pembelajaran saintifik akan menghindarkan orang dari sifat-sifat negatif seperti ghibah dan sejenisnya. Saintifik”merupakan sikap yang didasari oleh cara berfikir yang mengikuti metode ilmiah dalam menghadapi suatu persoalan atau fenomena.

Saintifik, Zulfikri menambahkan, artinya jujur, kritis, dan dapat dipercaya. Sebab, sebelum menyampaikan sebuah informasi, anak telah terbiasa melakukan rangkaian proses pembuktian bahwa informasi yang disampaikan benar-benar valid.

Sehingga, dapat dipertanggungjawabkan, terbebas dari prasangka, tidak manipulatif, dan bebas dari unsur penipuan.

Cara-cara ini sekaligus akan melidungi anak dari pengaruh negatif berita-berita hoaks. Mereka tidak langsung percaya. Mereka akan mencari keabsahannya karena terbiasa berpikir saintifik. “Pembelajaran santifik adalah proses menuju pribadi yang dapat dipercaya (Siddiq), Amanah, Fathonah, dan Tabligh,” tegas Zulfikri Anas.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional ini mengundang para pimpinan organisasi profesi guru seperti Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU), Forum Guru Independen Indonesia (FGII), Ikatan Guru Indonesia (IGI), Ikatan Guru Madrasah Indonesia (IGMI), dan Indonesia Emas Institute (IIE).

Menurut Zulfikri, forum ini melahirkan gagasan-gagasan operasional dan pemikiran-pemikiran yang praktis yang dapat menjadi masukan bagi kebijakan nasional khususnya di bidang pendidikan.

Hal ini menjadi penting karena dalam menyikapi situasi saat ini perlu program-program nyata yang mudah diimplementasikan di sekolah.

“Di samping itu, melalui forum seperti ini kita dapat menguatkan peran sekaligus perlindungan terhadap guru sesuai dengan tema ‘Guru Terlindungi dan Sejahtera, Bangsa Cerdas’,” papar Zulfikri Anas.