Kepala Dikbud, Asrofi. Foto: SP/IST

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Pengrusakan bangunan SDN Wadungasri, Waru, membuka aib permainan kotor pemborong. Kejadian dipicu rekanan CV Sido Rejo, melakukan wanprestasi dengan menunda pembayaran hutang material proyek.

Pihak suplier yang sebelumnya hanya diberi janji palsu terhadap hutang-hutang. Akhirnya bertindak dengan main hakim yakni merusak genteng sekolah itu, sementara rekanan kabur. Saat ini pihak suplier melaporkan penipuan ini ke Polda Jatim.

Akibat peristiwa pembongkaran bangunan SDN Wadungasri, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kab Sidoarjo, meminta seluruh pekerjaan fisik yang selama ini ditangani Dikbud untuk dievaluasi.

Dikbud akan menyerahkan pembangunan gedung sekolah, ruang kelas, ke Dinas Pengerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Kab Sidoarjo.

Kepala Dikbud, Asrofi menyatakan, alasan pihaknya tidak menerima pengerjaan fisik lantaran itu tanggungjawab Dinas PUPR. Sedangkan Dikbud akan dikembalikan pada fungsi dan tujuannya. Fungsi Dikbud meningkatkan mutu, kualitas pendidikan di Sidoarjo.

”Jadi, segala pengerjaan yang bentuknya fisik, biar ditangani Dinas PUPR,” ucap Asrofi, Selasa (4/12).

Diakui Asrofi, selama ini pembangunan fisik baik pembangunan gedung, renovasi sekolah masih ditangani Dikbud. Menjadikan dinas yang berkutat di dunia pendidikan menjadi tidak fokus.

”Tahun depan, Dinas Pendidikan akan fokus pada pengembangan mutu dan kualitas. Kami tidak mau ambil pengerjaan yang sifatnya fisik,” tandasnya.

Seperti diketahui, di SDN Wadungasri, Waru, ada penambahan ruang kelas baru yang didanai APBD 2018 senilai Rp468.258.000. Proyek pembangunan itu dimenangkan oleh CV Sido Rejo yang mulai dikerjakan sejak Juli hingga Pertengahan Desember mendatang.

Belakangan, menuai persoalan lantaran beberapa orang yang mengaku dari penyuplai bahan material dan pemodal, meminta kontraktor agar bertanggungjawab atas sejumlah dana yang dikeluarkan oleh keduanya dan belum terbayarkan hingga saat ini.

Mereka antara lain, Budiono warga Dukuh Menanggal Surabaya yang mengaku sebagai pemodal proyek, serta Wahdan Ma’ruf warga Nginden Surabaya yang selama ini menyuplai material ke proyek itu.

Budiono mengaku sudah mengeluarkan sekitar Rp610 juta. Sedangkan Wahdan Ma’ruf menyuplai material sekitar Rp215 juta yang terbagi di tiga sekolah. Yakni, SDN Bareng Krajan, SDN Sidorejo dan SDN Wadungasri. Sd