Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo.

Capres Prabowo-Sandi diprediksi bakal meraih suara hingga 69 persen pada Pilpres 2019 mendatang. Prediksi ini dikemukakan oleh Waketum Badan Pemenangan Nasional Nanik S Deyang.

Wanita ini meyakini kemenangan 69 persen merupakan hasil survei internal tim Prabowo-Sandi.

Padahal September-Oktober 2018 lalu, survei internalnya masih 40% dari 29%. Praktis, sisa kampanye yang tinggal empat bulan lebih, bila survei internalnya inibenar, Anda Capres Prabowo tinggal mencari kenaikan 29%.

Bila diprosentasekan dengan total pemilih yang 191 juta, Anda Capres Prabowo, bakal meraup suara 131,79 juta. Tetapi bila dari 191 juta calon pemilih itu yang menggunakan hak pilihnya 65%, maka perolehan Capres Prabowo, hanya mengais 85,66 juta. Ini angka yang luar biasa.

Mengingat dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang meraih 62.576.444 suara (46,85 persen). Sedangkan Capres Jokowi, memperoleh eraih kemenangan 70.997.85 suara (53,15 persen) . dari total suara sah sebanyak 133.574.277.. Catatan KPU, suara golput mencapai 24,89 persen.

Dengan keinginan capaian 69 persen suara, Sandiaga menjual kembali sahamnya di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Penjualan sahamnya ini agar bisa allout berkampanye memenangkan Pilpres 2019 mengalahkan petahana, Capres Jokowi.

"Bahwa saya dengan Pak Prabowo untuk memastikan giat kampanye tetap bergulir. Karena sampai kini belum ada donasi, dan saya sampaikan siap untuk terus all out. Saya harus all out, berapapun yang dibutuhkan,” terang Sandiaga saat berkampanye di Kota Malang, Rabu (5/12/2018) kemarin.

Pada tanggal 8 Oktober 2018, sebanyak 28 juta lembar saham dijual pada harga Rp 3.776 per lembar. Total nilai transaksinya mencapai Rp 105,7 miliar.

Transaksi kedua dilakukan pada 9 Oktober 2018 sebanyak 2,1 juta lembar saham pada harga Rp 3.802, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,98 miliar

Kini dana yang dikantongi Sandiaga dari penjualan saham mencapai Rp 113,89 miliar. Sebelumnya, Sandiaga, menjual saham SRTG senilai Rp 194 miliar.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo.

Sandiaga, Cawapres muda. Jauh lebih muda dari usia Cawapres Ma’ruf. Apalagi punya latar belakang pebisnis di sektor keuangan. Naluri berspekulasi tidak bisa diremehkan.

Mungkin, Sandiaga membaca kampanye politik, bisa seperti perjudian. Ada prediksi dan ada angka pasti.

Bisa jadi ia pernah mengikuti kisah seorang politisi asal Kanada, bernama John Turmel. Pria ini di negerinya sempat dijuluki sebagai politisi pecundang. Mengapa?, Turmel gagal menjadi pejabat sebanyak 95 kali dalam 95 pemilu.

Dikutip dari Kompas.com, Senin (24/9), meski sudah maju hingga puluhan kali dan selalu kalah, namun John Turmel (67) tak menyerah begitu saja.

Kini dia tengah maju dalam pemilihan walikota Brentford, tempat di mana ia bertempat tinggal.

Cara berkampanye Turmel cukup unik namun juga merepotkan dirinya sendiri. Antara lain kampanye dengan mengunjungi rumah-rumah para penduduk unttuk menyampaikan visi misinya.

Pada pemilu pertamanya tahun 1979, ia hanya meraih 193 suara dan kalah. Tapi Turmel tak berhenti sampai situ, ia seperti keranjingan mengikuti pemilu-pemilu lain di Kanada.

Selama hampir empat dekade, Turmel telah mengikuti 95 kali pemilihan mulai dari anggota dewan kota hingga anggota parlemen.

Turmel selalu maju melalui melalui jalur independen tanpa partai politik di belakangnya. Bahkan ia pernah meraup 4.500 suara namun tetap saja kalah. Sebaliknya ia juga pernah hanya meraup 11 suara saja.

Turmel juga kadang berkampanye dengan isu perubahan iklim yang ia sebut sebagai tipuan para korporasi besar.

Sebuah surat kabar di Kanada bahkan menyebut Turmel sebagai politikus super pecundang karena selalu gagal dalam pemilu. Tapi Turmel tak ambil pusing dengan hal tersebut.

"Apakah saya merasa buruk dengan hal itu? Tidak," ujar Turmel saat diwawancarai di kantornya di Brantford.

Turmel yang mengaku sebagai penjudi terjun ke dunia politik disebabkan karena polisi menggerebek tempat judinya di Ottawa dan ia ditahan.

Dari situ ia berinisiatif untuk melegalkan perjudian di negaranya kelak ketika ia jadi pejabat. "Saya terus ditangkap. Itu mendorong saya untuk mencalonkan diri untuk parlemen pada 1979 agar dapat melegalkan perjudian dan berhenti menangkap saya," ujarnya.

Tapi kampanye politiknya mulai dianggap ngawur karena Turmel juga menginginkan dilegalkannya narkoba juga prostitusi di Kanada. Bahkan Turmel tidak takut sama sekali dengan orang-orang yang mengecamnya dan bersedia didebat siapapun mengenai sikap politiknya.

Ketika disinggung mengenai dana kampanyenya berasal dari mana, Turmel menjawab hasil dari perjudian. Saat ditanya apakah masa 40 tahun yang dihabiskannya untuk maju pemilu dan kalah layak untuk dilakukan, Turmel mengaku tidak menyesal.

"Siapa yang peduli? Saya hanya sedang melakukan tugas saya. Saya muncul, melakukan yang terbaik, kemudian duduk dan melihat apa yang terjadi. Saya sama sekali tidak menyesal. Untuk seseorang yang tanpa modal, melakukan ini semua dari hasil menang berjudi, apa yang saya sesali," pungkasnya. Luar biasa kegigihan politisi asal Kanada. Apakah Sandiaga, diilhami oleh keuletan Turmel. wallahualam bissawab.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo.

Saya mencukil kisah politisi Kanada ini, karena menurut akal sehat saya ada persamaan kegigihan dengan Sandiaga. Termasuk dengan pernyataan Sandiaga tentang tekadnya akan all out berapa pun biaya yang dibutuhkan untuk berkampanye.

Bahasa halusnya, Sandiaga, bersama timnya ingin berupaya melakukan yang terbaik, total, dan habis-habisan, melawan Anda Cawapres Jokowi-Ma’ruf.

Akal sehat saya menyerap sepertinya Sandiaga memiliki filosofi F be all out. Atau bahasa motivasinya, kita lebih baik all out dalam semua kesempatan.

Bahkan bisa lebih garang yaitu What ever result-nya, dapat atau tidak, kita tidak akan menyesal karena itu yang terbaik dari dana yang sudah dikeluarkan.

Semangat all out, pernah saya alami 20 -25 tahun yang lalu. Saya dipercaya seorang pengusaha dan saya bertekad bekerja secara total. Bekerja all out untuk capaian suatu kepuasan. Artinya, saat berhasil, ini menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi saat kalah, saya harus belajar, belajar dan belajar untuk tak pernah pernah menyesal.

Apalagi dalam politik. Ada satu model dalam hubungan survei dan perilaku pemilih yaitu efek bandwagon.

Dalam efek bandwagon, selalu ada kecenderungan dari seorang pemilih untuk memilih seorang kandidat, karena kandidat ini diopinikan akan memenangkan pemilu.

Maklum, dalam masyarakat kelas menengah bawah, pemilih cenderung mengikuti pendapat mayoritas. Artinya, meski tak semua kandidat yang diopinikan menang akan keluar sebagai pemenang pemilu.

Bahkan hasil poling yang dilakukan pra-pemilu bisa mempengaruhi keputusan seorang pemilih. Artinya, kemenangan dalam poling bisa menghadirkan kemenangan sungguhan di hari pencoblosan, atau menjadi self-fulfilling prophecy.

Namun, tak selamanya demikian. Dalam Pilpres di Amerika Serikat pada 2016, dunia dikejutkan dalam kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton. Istri Bill Clinton itu awalnya diprediksi akan memenangkan pilpres berdasarkan berbagai lembaga survei. Banyak pemilih yang mendukung Clinton salah satunya karena tak ingin Trump yang memimpin.

Inilah makna sebuah kampanye politik. Kadang tidak ada kepastian. Apalagi yang dilakukan oleh lembaga survei. Maklum sebuah kampanye politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih.

Nah, bisa jadi, keputusan Sandiaga, menjual saham perusahaannya, untuk all out memenangkan kampanye Pilpres 2019 bersama Capres Prabowo, sebuah keyakinan dari Sandiaga untuk menang. Dan bisa juga meniru politisi Kanada, John Turmel, yang harus berkali-kali ikut pemilu hingga memetik kemenangan.. Kita tunggu hasil all out Sandiaga. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung).