Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian berharap situasi keamanan di Kabupaten Nduga, Papua, segera pulih setelah peristiwa pembantaian pekerja proyek Trans Papua di sana oleh kelompok bersenjata akhir pekan lalu.

Tito berterus terang, pengerjaan proyek itu tentu saja dihentikan sementara akibat penyerangan yang menewaskan puluhan pekerja warga sipil. Tentu pula, katanya, peristiwa penyerangan mengganggu proyek pembangunan infrastruktur di Papua.

"Begitu terjadi gangguan keamanan, jalan enggak bisa hidup, jembatan enggak bisa dibangun," kata Tito saat ditemui wartawan di Markas Polda Banten, Serang, Kamis, 6 Desember 2018.

Dia mengingatkan, pembangunan infrastruktur di Papua, termasuk di Kabupaten Nduga, digalakkan pemerintah sebagai bagian meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Bagaimana pun, katanya, harga-harga kebutuhan pokok dan komoditas lain yang lebih mahal di Papua akibat biaya tinggi distribusi sebagai dampak keterbatasan sarana infrastruktur.

Tito berkisah ketika dia menjabat kepala Polda Papua pada 2012-2014. Waktu itu, katanya, harga-harga komoditas jauh lebih mahal dibanding di provinsi lain, apalagi di Jawa.

Contoh, bensin Premium Rp50.000 sampai Rp100.000 per liter. Bahkan, mi instan Indomie saja Rp20.000 per bungkus.

Kala itu semua kebutuhan pokok sehari-hari harus dikirim dari Wamena melalui jalur udara, sehingga menyebabkan harga kebutuhan pokok tinggi atau mahal.

Karena itulah, menurut Tito, pemerintah bertekad mengakhiri situasi itu dengan, di antaranya membangun jalan Trans Papua agar distribusi barang dan jasa lebih lancar serta ongkosnya lebih murah. Namun, semua itu membutuhkan jaminan keamanan.

"Jaminan keamanan menjadi penting, situasi aman menjadi penting. Ekonomi jalan, pembangunan jalan; masyarakat bisa gerak bebas ke sana-ke sini. (Keamanan) itu bisa memberikan efek domino keberlangsungan pada ekonomi," katanya.