Peserta pelatihan saat berpose bersama para dirut RSUD Dr Soegiri. FOTO : SP /MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Manajemen RSUD Dr Soegiri Lamongan terus berupaya meningatkan mutu pelayanan, mulai dari menyediakan berbagai sarana prasarana medis, hingga meningatkan skill para tenaga mendisnya, seperti saat menggelar pelatihan BLS Bagi Dokter & Team Code Blue belum lama ini.

Pelatihan di Aula Lt. 2 RSUD Dr.Soegiri tersebut, seperti yang disampaikan oleh dr Moch Khaidir Annas direktur RSUD dr Soegiri Lamongan, melalui Budi Wignyo Siswoyo Kasubbag Humas RSUD setempat, Kamis (6/12/2018) digelar dan bekerja sama dengan Emergency Medical Technician 118 Surabaya, dan Himpunan Perawat Bencana dan Gawat Darurat Jawa Timur (HIPGABI) menyelenggarakan Seminar dan Pelatihan “Pelatihan Basic Life Support.”


Peserta saat mempratekan bagaimana cara melakukan pertolongan pasien kecelakaan. FOTO : SP /MUHAJIRIN KASRUN

Kegiatan ini lanjutnya, merupakan rangkaian dari Seminar dan Pelatihan “Manajemen Komite Medis dan Keperawatan” yang akan diselenggarakan keesokan harinya."Pelatihan seperti ini setidaknya untuk bisa memantapkan kemampuan tim medis, agar penanganannya bisa maksimal kepada pasien,"terangnya.

Acara sendiri lanjutnya, dimulai dengan sambutan oleh Ketua Tim EMT118 SBY dr. Antonius Beni, Sp.An dilanjutkan pembukaan Pelatihan BLS oleh dr. Chaidir Annas, MM.Kes. selaku Direktur RSUD Dr. Soegiri.

Acara ini diikuti oleh tidak kurang dari 70 peserta. Yang erdiri dari Dokter dan Tim Code Blue RSUD Dr. Soegiri Lamongan.

Disebutkan olehnya, pelatihan BLS dan Aktivasi Code Blue Rumah Sakit (RS) adalah hal yang niscaya harus dikelola dengan baik oleh RS.

Selain sebagai pra-syarat akreditasi RS versi KARS 2012 maupun standar Joint Commmitte International (JCI), sistem pengelolaan keadaan gawat darurat yang dapat diaktivasi dengan cepat dan tepat setiap saat sangat diperlukan.


Peserta saat melakukan penyelamatan kepada pasien dengan memacu jantungnya. FOTO : SP /MUHAJIRIN KASRUN


Aspek ini katanya, mendukung pelayanan RS secara keseluruhan, maupun keselamatan pasien secara khusus. Dalam, standar akreditasi setiap staf RS harus mengetahui bagaimana sistem ini dapat dijangkau untuk diaktifkan segera.

"Pimpinan RS harus menjamin bahwa setiap staf baik medis maupun non-medis memiliki kemampuan dasar BLS (Basic Life Support), serta menyiapkan sistem dan sarana prasarana yang diperlukan guna memastikan Code Blue tersebut dapat terlaksana,"kata Budi menirukan narsumber kala itu.

Sementara itu, Dirut RSUD Dr Soegiri Lamongan dr. Chaidir Annas menyinggung tentang pentingnya kepedulian manajer klinik dalam mencapai Good Clinical Governance. Manajer klinik lanjutnya, seharusnya dapat melaksanakn peran ganda dalam hal fungsional dan struktural.

"Karena itu mereka seharusnya dapat mengaplikasikan profesi klinis (ilmu medis/ keperawatan) dan peran sebagai manajer (ilmu manajemen dan administrasi),"ungkapnya.


Peserta pelatihan saat mendengarkan penjelasan teknis soal penanganan pasien oleh narasumber. FOTO : SP /MUHAJIRIN KASRUN


Lebih jauh Annas meyebutkan tentang fakta di lapangan bahwa peran manajer klinik di RS khususnya medik masih kurang, terutama bila dibandingkan dengan manajer klinik keperawatan. Oleh karenanya, peran komite medik dan keperawatan seharusnya dapat dioptimalkan guna mendukung tercapainya hal tersebut.

"Para dokter harus dapat memahami clinical leadership serta tanggung jawabnya tidak hanya dalam hal terapi medik (profesi medik), namun juga manajer pelayanan dalam tingkat yang sesuai,"terangnya.jir/adv