Ilustrasi letusan Gunung Krakatau 1883.

SURABAYAPAGI.com - Gunung Krakatau punya catatan sejarah yang panjang terkait aktivitas dan bencana alam yang disebabkan olehnya. Begitu pun dengan Anak Krakatau, yang baru-baru ini aktivitas dan longsorannya memicu tsunami di Selat Sunda dan berdampak ke pantai di Pulau Jawa dan Sumatra pada Sabtu, 22 Desember 2018.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, akibat tsunami Selat Sunda tersebut, lebih dari 400 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 100 orang lainnya masih hilang.

Kejadian serupa, berupa volcanogenic tsunami atau tsunami yang dipicu oleh gunung api, pernah terjadi di Selat Sunda oleh Gunung Krakatau. Pada 1883, terjadi erupsi Krakatau yang menyebabkan tsunami setinggi antara lima hingga 35 meter. Tsunami itu mencapai jarak 800 kilometer dan membunuh lebih dari 36 ribu orang.

Berdasarkan data dari Oregon State University, ketinggian Krakatau mencapai 813 meter. Itu adalah ketinggian tertinggi salah satu dari tiga corong gunung api yang membentuk Krakatau.

Sementara Anak Krakatau, berdasarkan makalah ilmiah karya Indyo Pratomo yang terbit di Jurnal Geologi Indonesia, ketinggiannya kini telah mencapai lebih dari 300 meter di atas permukaan laut. Ada perbedaan tinggi sekitar 500 meter antara Anak Krakatau dan Krakatau saat ini.

Meski tingginya berbeda, cara terbentuknya dua gunung api ini agak mirip. Masing-masing bangkit dari "mayat" ibunya.

Krakatau Terbangun
Encyclopaedia Britannica mencatat Krakatau adalah sisa-sisa dari sebuah gunung Krakatau kuno. Gunung api kuno itu punya tinggi 1.800 meter di atas permukaan laut dan diduga meletus pada tahun 416 Masehi.

Letusan itu menghancurkan puncak gunung dan membentuk sebuah kaldera atau kawah sepanjang enam kilometer. Dari situ muncul tiga gunung api, Rakata, Danan and Perbuwatan. Ketiga gunung itu perlahan menyatu dan membentuk Gunung Krakatau.

Krakatau pada akhirnya meletus dahsyat pada 1883 dan letusan ini menyebabkan lebih dari 70 persen bagian Krakatau hancur.

Dampak letusan Krakatau sangat besar. Letusan terdengar hingga jarak 5.000 kilometer. Abu vulkanik terlontar ke langit hingga ketinggian 80 kilometer dan membuat area seluas 800 ribu kilometer persegi di sekitarnya ditutupi awan hitam.

Selama dua setengah hari area tersebut gelap karena Matahari yang tertutup asap hitam. Abu dari letusan itu menyebar hingga ke seluruh dunia dan menyerap sinar Matahari.

Akibatnya, suhu dunia saat itu turun sebesar 1,2 derajat Celcius dan kondisi suhu dunia baru kembali normal pada 1888.

Kehancuran Krakatau membuat aktivitas vulkanik di kompleks Krakatau seolah terhenti. Tapi di sana ada kaldera atau fitur vulkanik sisa letusan.

Dari kaldera di salah satu sudut sisa-sisa Krakatau, kemudian muncul "bayi" Krakatau yang kemudian kita sebut sebagai Gunung Anak Krakatau.

Munculnya Anak Krakatau
Keberadaan Anak Krakatau mulai diketahui pada 1928, ketika dilaporkan telah terjadi lagi erupsi dari gunung bawah laut di lokasi tersebut. Menurut catatan Smithsonian Institution, Anak Krakatau tumbuh di suatu titik di antara bekas Gunung Danan dan Perbuwatan.

Sutawidjaja drr., (2006) dalam laporannya menyebutkan, seorang ahli gunung api (Stehn) pada 20 Januari 1929 mengamati suatu tumpukan material di permukaan laut membentuk satu pulau kecil yang kemudian dikenal dengan kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Anak Krakatau menjadi pemenang dalam hal jumlah erupsi. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, erupsi Anak Krakatau terjadi setiap hari sejak Juni 2018.

Untuk Krakatau sendiri, menurut Encyclopaedia Britannica, sebelum erupsi 1883, satu-satunya erupsi yang terkonfirmasi terjadi sebelumnya adalah pada 1680. Catatan erupsi Krakatau yang belum lengkap ini bisa jadi akibat belum majunya teknologi informasi dan ilmu geologi kala itu. km