M. Mufti Mubarok, Director of Institute For Development and Economic (IDE)

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Proyeksi ekonomi 2019 tampaknya akan masih akan sama dengan kondisi ekonomi pada 2018, bahkan bisa lebih buruk dari 2018. Hal ini, disebabkan situasi makro ekonomi global yang menyebabkan mikro ekonomi nasional ikut berimbas.

Situasi dalam negeri juga akan menambah situasi ekonomi menjadi kurang menentu, adanya masalah carut marut tahun politik dan banyaknya kasus KKN serta bencana alam yang betubi-tubi ditambah dengan kriminalitas yang tinggi akan menjadi indikator semakin semrawutnya ekonomi 2019.

Dari fenomena ini, saya sedang meneliti tentang pengaruh investasi sektor terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja serta kesejahteraan masyarakat provinsi di Indonesia periode 2014 sampai dengan 2018 dengan menghubungan investasi seluruh sektor termasuk sektor infrastruktur yang menjadi fokus pemerintah Jokowi terhadap penyerapan tenaga kerja, kemiskinan dan kesejahteraan.

Hasil penelitian IDE menunjukan investasi sektor primer dan skunder termasuk sektor infrastruktur belum menunjukkan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, tetapi berpengaruh sedikit terhadap kesejahteraan masyarakat.

Indonesia pernah mengalami jatuh bangun perekonomian, pernah minus di tahun 1997 dan pernah juga membawa perubahan fundamental bagi perekonomian menjadi plus, yakni tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, khususnya di era sebelum Indonesia mengalami krisis moneter.

Era kepemimpinan Presiden SBY pertumbuhan relatif konstan rerata 6 persen, namum di era Presiden Jokowi rerata pertumbuhan ekonomi 5 persen.

Meski demikian belum stabilnya pertumbuhan ekonomi masih menjadi alasan bagi para ekonom pembangunan untuk mengelompokkan negara Indonesia sebagai Negara yang akan maju.

Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil ini ternyata belum mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan pembangunan lainnya, misalnya kesejahteraan masyarakat, pengangguran, serta kemiskinan.

Memang pembangunan bukan semata tingginya pertumbuhan ekonomi suatu negara, namun merupakan sebuah proses multidimensi yang mencakup berbagai perubahan mendasar dalam struktur sosial, yakni berupa perubahan mendasar dalam sikap, atau perilaku masyarakat dan kelembagaan (institusi), akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan, serta terlaksananya program pengentasan kemiskinan.

Karena itu, pembangunan bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, ada proses pengurangan ketidakmerataan/disparitas yang diikuti dengan adanya pengentasan kemiskinan.

Dilihat dari berbagai indikator makroekonomi, Indonesia termasuk negara masih lambat dalam pemulihan (recovery) ekonominya, dibanding negara asia lainnya.

Tahun 2018 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dibawah negara Laos, Vietnam, Kamboja, Nyanmar, Philipina dan Malaysia. Untuk Kurs Dolar Indonesia pun masih belum menguat rata rata Rp 14.500, berdampak pada ekspor dan impor.

Pertumbuhan ekonomi negara Indonesia pada tahun 2018, menunjukkan angka pertumbuhan cukup rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya, angka pertumbuhan ekonomi negara negara di Asia dibawah 7 persen, hal ini disebabkan terjadinya masalah ekonomi di negara-negara Asia secara hampir serentak sehingga menimbulkan dampak pertumbuhan ekonomi yang relatif.

Di sisi lain, pembangunan ekonomi merupakan salah suatu indikator makroekonomi untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara.

Pembangunan ekonomi ditandai dengan meningkatnya pendapatan per kapita atau kenaikan output per kapita yang disertai dengan terjadinya transformasi struktural yang menggambarkan perubahan peranan (share) relatif sektor-sektor ekonomi dalam pembentukkan PDB dan penyerapan tenaga kerja.

PROYEKSI EKONOMI 2019
Bagaimana prediksi ekonomi 2019, tahun 2019 di tandai oleh tahun politik, semua potensi bangsa akan terpusat pada pemilu 2019 artinya faktor ekonomi hanya menjadi isu pembahasan, bukan menjadi fokus utama pembangunan.

Maka situasi pada makro ekonomi akan di pengaruhi oleh perang dagang antara USA dan Cina yang akan merembet ke Asia termasuk Indonesia, kurs dollar terhadap rupiah rata rata akan berkiras di level Rp.14.500, harga BBM akan mengalami kenaikan dan inflasi akan terjadi.

Fakta ini menunjukkan bahwa transformasi investasi infrastruktur yang diprioritaskan pemerintah tidak mengikuti pola normal sebagaimana yang terjadi di negara-negara industri. Hal ini tampak dari masih dominannya peranan sektor infrastruktur dalam penyerapan tenaga kerja.

Idealnya, penurunan peranan sektor ini dalam pembentukan PDB juga akan diikuti oleh menurunnya peran sektor tersebut dalam penyerapan tenaga kerja.

Investasi dan hutang melalui pembentukan modal baik dari dalam maupun asing sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kegiatan proses berproduksi termasuk produktivitas maupun distribusi input atau output setiap sektor baik sektor primer, skunder, infrastruktur,dan industri maupun jasa.

Melalui investasi, kapasitas produksi dan outputnya dapat ditingkatkan, sehingga dapat meningkatkan sumber pendapatan bagi tenaga kerja. Selain mampu meningkatkan produksi, maka investasi berperan juga dalam membuka kesempatan kerja bagi masyarakat tergantung dari tujuan investasi yang dilaksanakan baik labour intensive maupun capital intensive.

Sektor industri merupakan sektor yang memiliki bagian terbesar dari realisasi investasi baik yang berasal dari dalam negeri maupun swasta dan asing, di mana tingginya investasi akan mampu memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDB nasional. Hal ini sesuai dengan ciri negara berkembang yang cenderung mengutamakan pembangunan sektor industri dari pada sektor pertanian.

Namum faktor yang paling fundamental dalam pertumubuhan bangsa adalah keberhasilan pembangunan suatu negara adalah pembangunan sumber daya manusia.

Para pakar ekonomi pembangunan, mengkritisi tolak ukur keberhasilan pembangunan ekonomi yang hanya mengacu pada pendapatan per kapita, karena tolok ukur keberhasilan tersebut mengandung kelemahan dan bersifat materialistik serta tidak menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya.

Pembangunan ekonomi melalui peningkatan kegiatan investasi harus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

Pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan pendapatan per kapita menunjukkan adanya kenaikan daya beli yang selanjutnya akan meningkatkan permintaan yang efektif (effective demand ) terhadap barang-barang dan jasa, sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari berbagai kegiatan ekonomi, misalnya, produksi, konsumsi, dan investasi serta perdagangan domestik dan mancanegara. Investasi merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang dapat mendorong atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik di negara-negara industri maupun di negara berkembang, termasuk di Indonesia.

Hal yang langsung mempengaruhi kegiatan investasi di Indonesia adalah kondisi sumber daya yang berada pada wilayah tersebut.

Pembangunan berbasis Sektor merupakan aset paling melimpah yang dimiliki Indonesia, sehingga sangat memungkinkan menjadi lahan investasi pembangunan ekonomi jangka panjang bagi negara asing.

Namun aset terbesar tersebut berasal dari laut, pertambangan, kelautan, dan gas bumi. Akan tetapi, hingga saat ini berbagai aset sektor primer tersebut banyak dikelola pihak asing.

Untuk itu Indonesia harus segera membangun kemandirian bangsa dengan lebih mengutamakan produk dalam negeri untuk bisa dikelola dengan mandiri, mengurangi ketergantungan investasi asing.

Mengutamakan ekspor ketimbang impor, mengutamakan investasi dalam negeri ketimbang asing. Cinta produk dalam negeri dari pada produk asing. Indonesia harus keluar dari carut marut ekonomi, menuju ekonomi yang stabil dan bertumbuh.

Maka tahun 2019 kita harus mengencangkan ikat pinggang dan menunda segala macam investasi. Bertahan pada line/core business usaha masing-masing dan mencari passive income yang produktif. Berhemat ditahun 2019 untuk menyongsong tahun 2020.