Baliho salah satu caleg di kawasan Jojoran, Surabaya. Foto: Sherly

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Jawa Timur, menjadi salah satu provinsi sasaran para calon legislatif yang akan duduk di kursi pemerintahan nantinya. Namun, sepinya Jawa Timur ketika tidak ada partai yang melakukan kampanye membuat kemunculan pertanyaan terhadap peristiwa ini.

Tidak seramai ketika datangnya pasangan calon yang datang pada kesempatan tertentu untuk secara langsung melakukan kampanye. Ternyata, setelah diketahui, salah satu penyebabnya adalah pada lamanya waktu yang diberikan yaitu sekitar enam bulan untuk berkampanye.

“Sebenarnya beberapa akan lebih memilih untuk bergerak pada tempat tertentu yang menjadi acuannya namun tidak muncul di permukaan. Sehingga, cenderung berfokus pada titik tersebut daripada secara besar besaran melakukan kampanye,” ujar Agus Mahfud, salah satu pakar Sosiologi-Politik dari Universitas Negeri Surabaya yang diwawancarai pada Kamis (10/1).

Waktu kampanye yang dikatakan terlalu panjang ini sebenarnya memiliki tujuan untuk membuat masyarakat memahami visi, misi, kinerja, dan program para calon calon legislatif maupun pasangan pres-wapres.

Hari Fitrianto, salah satu dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga memperkirakan kampanye akan ramai pada Maret yang mana mendekati bulan April.

“Kendala utama yang muncul ketika melakukan kampanye adalah logistik sehingga mereka sudah memperhitungkan semuanya sebelumnya,” ujarnya.

Peristiwa sepinya kampanye di Jawa Timur ini dianggap tidak mempengaruhi banyaknya masyarakat yang memilih golput.

Meskipun diharapkan kampanye dapat menambah wawasan pada masyarakat namun ternyata menurut Hari Fitrianto tidak akan mengubah perkiraan presentasenya yaitu sekitar 20-30 persen.

Pemilihan legislatif maupun pres-capres pada saat bersamaan juga tidak menjadi salah satu faktor sepinya kampanye oleh pihak partai, seharusnya semakin memarakkan pesta demokrasi yang akan segera dimulai.

“Sebenarnya pada saat yang bersamaan ini lebih menguntungkan untuk capres dan cawapres daripada legislatif. Namun, ketika calon legislatif menunjukkan sosok ternama dari partainya bisa jadi sangat menguntungkan,” tambah Agus Mahfud.