Fenomena pasangan calon fiktif, Dildo, atau Nurhadi-Aldo. FOTO: instagram.com/nurhadi_aldo/

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Perpolitikan Indonesia akan diramaikan dengan pesta demokrasi pada April mendatang. Pemilihan presiden tersebut tidak lepas dari fanatis-fanatis politik yang semakin intens antara kedua calon pasangan.

Hal ini menyebabkan peningkatan tensi antar kedua pihak yang menjadi tidak terkendali, salah satunya adalah melalui “perang” lewat sosial media. Namun, terdapat sesuatu yang hadir di tengah peperangan antar para penggemar fanatis kedua calon yaitu munculnya capres dan cawapres fiktif, Nurhadi-Aldo atau dikenal sebagai Dildo.

Kemunculan Nurhadi-Aldo seperti angin segar diantara terlalu intensnya peperangan antar kedua calon pasangan. Pakar Sosiologi-Politik Agus Mahfud dari Unesa memandang fenomena ini sebagai suatu kritik sosial yang muncul di tengah kerasnya persaingan pilpres mendatang.

“Pertama tama, secara tidak langsung masyarakat ingin menghadirkan proses demokrasi tanpa dipandang kaku. Kedua, ekspresi masyarakat yang disampaikan secara menarik dan kreatif. Ketiga, harapan terhadap kedepannya siapapun yang terpilih agar menunjukkan konsistensi baik di panggung depan maupun belakang.” Ujarnya pada Kamis (10/1).

Sementara itu, salah satu dosen Ilmu Politik, Hari Fitrianto menyatakan fenomena ini sebagai bentuk dari suara millennial yang seringkali dianggap apatis terhadap dunia perpolitikan Indonesia.

“Sebenarnya kaum millennial ini bukannya apatis melainkan jengah sekaligus jenuh dengan gaya berpolitik yang konvensional seperti saat ini. Maka dari itu, muncul pasangan Dildo ini yang menjadi kritik terhadap gaya konvensional tersebut.” Ujarnya pada Surabaya Pagi, Kamis (10/1).

Tidak ada ketakutan untuk munculnya antipati pada politik ketika bermunculan fenomena ini, Agus Mahfud justru menyatakan dapat menjadi daya tarik tersendiri. Orang yang semula tidak melirik politik sama sekali akan memandangnya melalui satir segar dari Nurhadi-Aldo.

Seolah olah mencairkan suasana 17 Januari yang merupakan debat pilpres mendatang. Seperti halnya dengan Agus Mahfud, Hari Fitrianto juga memandang fenomena ini akan mempertegas pilihan masyarakat khususnya kaum millennial.

“Ketika pemerintahan merespon negatif maka masyarakat bisa merasa seolah dipidana pendapatnya seperti pada era orde baru. Namun, semuanya cenderung mengapresiasi tindakan kreator dibalik Nurhadi-Aldo sendiri hingga memunculkan rekonstruksi terhadap politik.” Tambah Agus Mahfud yang memandang shitposting dari Nurhadi-Aldo sebagai tindakan yang positif di tengah ramainya perpolitikan Indonesia.

Kaum millennial yang memiliki andil besar dalam pilpres mendatang seharusnya diperhatikan dengan baik oleh para calon. Tidak bisa menggunakan cara berpolitik yang cenderung kuno karena hanya berakibat pada pilihan untuk tidak memilih.

Mereka membutuhkan cara baru yang menarik tanpa harus saling ngotot menyuarakan program program, meskipun berujung pada omong kosong belaka.