Dhimam Abror, mantan Ketua Harian KONI Jatim.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Dhimam Abror, mantan Ketua Harian KONI Jatim mengungkapkan Vigit Waluyo ini ibarat bom waktu. Vigit yang ‘bernyanyi’ dalam penyidikan dugaan pengaturan skor pertandingan sepabakbola, bisa menghancurkan jaringan mafia sepakbola di Indonesia.

Bahkan, Vigit menyampaikan hampir 90 persen petinggi PSSI turut terlibat.

"Vigit ini seperti bom waktu, kalau dia meledak akan hancur. Karena seluruh jaringan mafia sepakbola Indonesia akan terbongkar dan 90 persen orang puncak di PSSI bisa ditangkap karena terlibat match fixing maupun match setting. Kalau Vigit mau buka-bukaan, akan terbongkar semua mafia di liga 3, 2 dan 1," beber Abror saat dihubungi Surabaya Pagi, tadi malam (24/1).

Menurut Dhimam, Vigit bukanlah satu-satunya operator match fixing di Indonesia. Ia juga berharap Vigit mau buka-bukaan terkait semua jaringan dan siapa god father sepakbola Indonesia.

"Vigit bukan satu-satunya operator match fixing dan match setting. Ada operator-operator tersendiri di masing-masing wilayah. Kalau kompetisi PSSI dulu mengenal pembagian wilayah, maka para mafia ini juga punya pembagian wilayah, ada di wilayah timur, tengah, maupun barat. Di Papua ada operatornya di Kalimantan ada operator dan di Jawa juga ada," tambah mantan wartawan yang kini maju sebagai caleg DPR RI dari PAN.

Saat ini, menurut Dhimam, bagaimana keseriusan satgas mafia bola bentukan Polri untuk mengusut tuntas kasus mafia bola di Indonesia. "Sekarang tinggal satgas mau benar-benar tuntas atau tidak," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Asprov PSSI Jatim, Ahmad Riyadh yang juga ditunjuk sebagai Ketua Komite Ad Hoc Integritas PSSI pusat, mendukung penuh upaya penyelidikan yang dilakukan satgas mafia bola.


Ahmad Riyadh, Ketua Asprov PSSI Jatim.

Meski begitu, Riyadh juga menyatakan jika perlunya menimbang asas praduga tak bersalah terhadap siapapun yang diduga terlibat dalam match fixing maupun match setting.

"Prinsipnya kami mendukung penuh apapun yang dilakukan tim satgas mafia bola ini. Kami menghormati, itu sebagai bentuk jika ada komitmen bersama untuk membenahi pesepakbolaan di negeri ini. Meski begitu, harus ada asas praduga tak bersalah," kata Riyadh.

Riyadh berharap, langkah satgas mafia bola dalam membersihkan praktik curang pengaturan skor di sepak bola Indonesia berdampak baik bagi prestasi timnas Indonesia ke depan.

"Harapannya tentu agar semua bersih, harus bersih dan lebib baik. yang jelek jadi baik,yang baik jadi lebih baik. Semoga ke depan timnas bisa lebih berprestasi," pungkasnya. n