Gubernur Jatim Soekarwo dan Presiden Jokowi berbincang-bincang sambil ngopi di Benteng Van Den Bosch (Benteng Pendem), Ngawi, Jumat (1/2/2019).

Provinsi Jawa Timur kaya akan kopi. Biji hitam ini bukan hanya dinikmati warga Jatim, namun sudah diekspor hingga manca negara. Kopi Selondo, satu di antaranya. Kopi khas Ngawi ini bikin Presiden Joko Widodo sampai kepincut saat menyeruputnya.

-----

Solehan Arif,

Wartawan Surabaya Pagi

“Kopinya enak banget, padahal harganya hanya Rp. 8.000 per cangkir. Kalau di daerah itu murah-murah dan enak sekali,” puji Presiden Jokowi yang diamini Gubernur Jatim Soekarwo saat ngopi bareng di Benteng Van Den Bosch atau biasa disebut Benteng Pendem, Jl. Untung Suropati, Ngawi, Jumat (1/2/2019).

Lebih jauh kata Jokowi, menikmati kopi di salah satu destinasi warisan sejarah seperti Benteng Pendem mempunyai taste tersendiri. “Terasa sangat nikmat,” sambung dia.

Selain bersama Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim, saat ngopi bareng itu Presiden Jokowi juga didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Istri Gubernur Jatim Nina Soekarwo, Bupati Ngawi Budi Sulistiyono beserta istri, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Jokowi bersama Pakde Karwo dan rombongan terlihat santai berbincang dan menikmati kopi Selondo khas Ngawi. Ibu Negara Iriana juga terlihat menikmati suasana dan ngobrol bareng Bude Karwo sapaan akrab istri Gubernur Jatim dan istri Bupati Ngawi.

Selain ngopi, Presiden Jokowi juga berkeliling di berbagai stand UMKM yang memamerkan aneka kerajinan khas Ngawi. Diantaranya produk makanan dan minuman, beras unggulan Ngawi, dan kerajinan kayu. Bahkan, Presiden Jokowi terkesan dengan beras merah putih organik dan beras singkong yang dijual. “Harganya memang relatif mahal karena minim glukosa, ini baik untuk kesehatan. Saya sudah beli semua,” tukasnya.

Pada kesempatan sama, Presiden Jokowi juga menyetujui untuk merestorasi/memperbaiki bangunan seluas 15 hektare yang dibangun sejak tahun 1839 tersebut. Restorasi ini perlu dilakukan untuk mendukung pengembangan wisata pusaka di daerah Ngawi.

“Tahun ini akan langsung dikerjakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum (PU), tadi sudah saya telpon dan sudah disiapkan. Targetnya Insyallah dua tahun rampung, tahun ini separuh dan tahun depan separuh,” urainya.

Benteng Van Den Bosch didirikan kolonial Belanda untuk menghadapi perlawanan masyarakat di Ngawi pimpinan Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Benteng itu dipakai tentara Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830).

Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 meter x 80 meter dengan luas tanah 15 hektare. Adapun letaknya berada di sudut pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Bengawan Madiun.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi gencar melakukan pembangunan dan promosi untuk mengenalkan objek wisata pusaka tersebut. Tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisata. "Saya berharap ada perhatian khusus untuk merenovasi bangunan tua peninggalan zaman penjajahan Belanda ini. Sehingga bisa memajukan pariwisata lokal," ungkap Bupati Ngawi Budi Sulistyono. n