Yudhis Thiro Kabul Yunior dan Irwanto Limano yang mengembangkan alat budidaya ikan air tawar berbasis Internet of Think.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Inovasi industri berbasis digital menjadi sangat masif dalam dua tahun terakhir. Kemajuan teknologi mendorong anak muda diberbagai negara, bersaing untuk semakin menunjukkan peran dalam revolusi 4.0 ini.

Seperti anak muda di Surabaya. Yudhis Thiro Kabul Yunior yang mengembangkan alat budidaya ikan air tawar berbasis Internet of Think. Yudhis, menamakan perangkatnya fishgator. Menurutnya, alat tersebut mampu mengeliminir hal-hal yang tidak efektif dalam proses budidaya ikan air tawar. Selain itu, melalui alat ini, petani ikan juga dipermudah dalam berbagai sisi hingga menghasilkan panen yang optimal.

"persoalan budidaya ikan ada tiga, kualitas air, pemberian pakan dan treatment. Alat ini menjadi solusi dari problem tersebut dan semua bisa disetting serta dikontrol menggunakan smartphone," ujar Yudhis kepada Surabaya Pagi.

Lebih lanjut, ia menuturkan teknis kerja alat tersebut. Pertama, fishgator mampu menghitung tingkat keasaman air dan mengaturnya secara otomatis sesuai dengan kondisi ikan yang dibudidaya. Kedua, alat buatan arek Suroboyo itu juga mampu memberikan pakan secara otomatis dengan kadar yang sesuai dan tidak dikira-kira. Ketiga, proses treatment otomatis yakni penambahan cairan asam dan basah serta naik turunnya suhu agar ikan berada dalam tingkat survival yang tinggi.

"Semuanya, mampu meningkatkan angka survival sampai 70 persen. Jadi kita bisa optimasi hasil panen dengan cara yang sangat mudah. Semua diatur dan nanti ada notif melalui aplikasi bawaan yang terintegrasi dengan internet. Kapan waktunya ikan makan, Ph nya berapa, semua bisa diatur. Jadi petani ikan tidak perlu keluar banyak tenaga. itu bisa diaplikasikan ke semua kolam termasuk bioflog," tandasnya.

Sementara itu, Irwanto Limano, konsultan bisnis yang bekerjasama dengan CV Gance membuat PT Kelola MinaPadi Nusantara untuk memasarkan alat buatan anak dalam negeri ini.


fishgator

Irwanto, menarget akan memasarkan 500 sampai 1000 unit alat dengan menyasar petani ikan millenial.

"Keuntungannya jelas, dengan harga sekitar 8 juta dua kali panen sudah BEP. Optimalisasi panen jelas didapat, hitungannya satu kilo pakan itu untuk satu kilo daging ikan. Angka Survival ikan juga duatas 70% dibanding budidaya konvensional yang hanya berada diangka 50% kebawah," katanya Irwanto yang juga pembina bisnis start up dan UKM di Surabaya ini.

Setidaknya, fisgator sudah di trial di beberapa wilayah seperti Bondowoso, Jember dan Banyuwangi dengan 48 kolam ikan yang terdiri dari ikan Nila, ikan Lele, dan ikan Gurame.

"Kami juga kerjasama dengan komunitas petani ikan millenial di berbagai daerah Jatim, juga pesantren. Kami berikan kemudahan untuk dapat menggunkan alat ini, bisa beli putus, bisa kerjasama dengan bagi hasil panen dalam bentuk ikan ataupun rupiah. Kami juga siapkan bekal maintance alat ini kepada para petani," tandasnya.

Dengan fishgator ini, diharapkan generasi millenial tidak lagi malu untuk berdikari dengan menjadi pembudidaya ikan air tawar. fir