Kombes Pol Rudi Setiawan menunjukkan sajam yang digunakan pelaku saat beraksi, Rabu (6/2/2019). Dalam penangkapan itu, Ridan Furqon (19) ditembak mati, sedang Biska Bagus Prakoso (24) warga Jalan Dupak Baru No. 41A, Surabaya. Ridan ditembak mati, sedangka

Firman Rachman,

Wartawan Surabaya Pagi.

Pilpres dan Pileg yang digelar serentak pada 17 April 2019, tak hanya membuat suhu politik memanas. Gangguan keamanan juga menjadi ancaman. Termasuk di Jawa Timur. Entah terkait atau tidak, akhir-akhir ini aksi kejahatan jalanan di kota Surabaya membuat resah warga. Pasalnya, banyak wanita dan ibu-ibu menjadi korban komplotan bandit jalanan. Mereka tak segan-segan melukai korbannya hingga nyawa pun terancam. Sedang aksi pelaku tak hanya menyasar di jalan protokol, tapi juga di kawasan perumahan elit seperti Citraland di Surabaya barat.

-----

Mulai maraknya kejahatan jalanan ini terlihat dari sejumlah pelaku yang ditangkap polisi. Tanggal 7 Januari 2019, misalnya. Unit Resmob menembak dua pelaku jambret bernama Sultan Agung dan Rudianto. Kejadiannya di kawasan Tidar, Surabaya.

Unit Reskrim Polsek Tegalsari juga menangkap dua pelaku jambret, Dayat Topik dan Widjanarko, pada 20 Januari 2019. Kedua pelaku ditembak karena berusaha kabur saat ditangkap di daerah Dinoyo, Surabaya.

Keesoakan harinya, 21 Januari 2019, unit reskrim Polsek Sukolilo mengamankan jambret bernama Ferry. Pria ini dimassa oleh warga saat melakukan aksi di bundaran ITS, Sukolilo.

Berikutnya, pada 22 Januari 2019, dua ABG bernama Robi Afriza dan Arda Kirana ditangkap unit reskrim Polsek Tenggilis Mejoyo. Keduanya ditangkap usai merampas handpone milik seorang bocah di Siwalankerto.

Aksi serupa terjadi 23 Januari 2019. Seorang jambret tertangkap saat razia cipta kondisi oleh Polsek Mulyorejo. Pelaku bernama Tomi Anugerah tertangkap usai menjambret di depan Samsat Manyar Surabaya.

Kemudian, Polsek Tegalsari kembali menangkap jambret, pada 28 Januari 2019. Pelaku merupakan driver ojek online bernama M Agus Maulana.

Terbaru, dua bandit sadis yang sering membuat korbannya luka parah hingga kritis setiap beraksi di Surabaya ditangkap Unit Jatanras Polrestabes Surabaya, Rabu (6/2/2019) dinihari sekitar pukul 03.00 Wib. Satu diantaranya terpaksa ditembak mati setelah menyerang polisi dengan senjata tajam.

Dua bandit sadis itu Ridan Furqon (19), warga Balung Panggang, Gresik dan Biska Bagus Prakoso (24) warga Jalan Dupak Baru No. 41A, Surabaya. Ridan ditembak mati, sedangkan Biska ditembak kedua kakinya.

Dua bandit jalanan itu diburu setelah keduanya teridentifikasi beraksi di Jalan Emerald Mansion, Citraland, Surabaya pada Sabtu (2/2/2019) sekitar pukul 23.30 Wib. Di lokasi ini, keduanya merampas tas seorang mahasiswi bernama Nurina (22), warga Jalan Bukit Tengger I, Surabaya hingga jatuh dan mengalami luka patah kaki.

"Korban dari kedua pelaku ini rata-rata luka parah karena ditendang bahkan dibacok," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (6/2/2019).


Biska ditembak kedua kakinya.

Berbekal Senjata Tajam

Kombes Pol Rudi Setiawan dengan tegas akan menindak para pelaku kejahatan jalanan yang kerap membawa korban jiwa di Surabaya. "Ini adalah keseriusan kami dalam menindak para pelaku kejahatan jalanan yang bisa dibilang sangat sadis dalam melakukan aksinya. Mereka berbekal senjata tajam dan tak segan melukai para korbannya," beber Rudi, Rabu (6/2).

Dari hasil pemeriksaan, kawanan ini berjumlah sepuluh orang. Mereka membagi tugas kewilayahan untuk beraksi. Ridan dan Biska adalah kelompok yang kerap beraksi di wilayah Surabaya Barat. Terakhir, korbannya adalah seorang perempuan yang melintas di jalan Emerald, Lakarsantri, Surabaya. Bahkan, korban harus mengalami luka patah kaki dan luka parah pada bagian wajah dan matanya hingga harus dioperasi.

Dalam beraksi, kawanan ini menyasar target perempuan yang mengenakan tas selempang saat di jalan. Bahkan setiap harinya, komplotan ini menarget dua korban. "Targetnya adalah perempuan dengan tas selempang yang mencolok. Mereka memepet korban setelah diikuti dan mengeksekusinya di jalanan dengan rute panjang. Para pelaku ini tidak akan menyasar calon korban yang menggunakan tas selempang tapi ada didalam jaket. Dalam sehari mereka dua kali menarget korban. Semuanya dilakukan saat malam hari," tambahnya.

Sasaran Perempuan

Dari tangan dua pelaku ini, polisi sempat menggeledah tempat persembunyiannya dan menemukan 73 tas milik korban yang berisi kosmetik dan handpone yang sudah dijual. Hasil penjualan handpone itu digunakan para pelaku untuk membeli serbuk haram sabu dan pesta miras. "Sebelum beraksi memang pesta miras dulu. Uang hasil kejahatan pun digunakan untuk foya-foya," ujar perwira tiga melati itu.

Rudi juga mengimbau kepada para masyarakat agar tidak mengundang dan memberi kesempatan para pelaku kejahatan jalanan untuk beraksi."Jangan menggunakan perhiasan mencolok. Tas juga harus dimasukkan kedalam jaket atau lebih aman dimasukkan kedalam bagasi motor. Hindari jalanan lengang terutama pada aktifitas malam hari. Seperti yang kita dengar, bahwa para pelaku ini menyasar tas yang dicangklong diluar jaket," tandasnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran menjelaskan, kedua bandit itu sudah beraksi sejak 5 bulan terakhir. Dalam sehari, keduanya bisa melakukan perampasan hingga dua kali di seluruh wilayah Surabaya. "Kami sita dari tangan keduanya 73 tas wanita. Artinya, dalam 5 bulan, keduanya sudah beraksi lebih dari 73 kali," beber Sudamiran.


73 tas wanita dan dompet berbagai merk, kacamata, puluhan kosmetik dan puluhan cas HP, hasil perampasan komplotan ini

Dari penggeledahan di rumah komplotan bandit di daerah Kandangan, belakang Stasiun Kandangan, Benowo, Unit Jatanras mendapatkan 73 tas wanita berbagai merk dan warna, 35 dompet wanita berbagai merk dan warna, 2 buah pisau penghabisan, 12 kaca mata wanita, puluhan alat kosmetik wanita serta puluhan biji charger HP berbagai Merk. "Modus kelompok ini yaitu mencari sasaran wanita dengan cara memepet, tendang, rampas. Jika korban melawan, tak segan dibacok," lanjut Sudamiran.

Komplotan Lain

Saat ini, polisi tengah memburu sisa komplotan yang masih berada di luar. Polisi juga menghimbau agar para pelaku yang merupakan rekan dari dua tersangka ini untuk menyerahkan diri sebelum dilakukan tindakan tegas. Sudamiran menyebut dua orang pelaku yang tersisa itu diketahui berinisial Mn dan Lg. n