Menperin Airlangga Hartarto

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Menteri Perindustrian Airlangga Hartato memaparkan pekembangan program santripreneur yang dilaksanakan melalui sejumlah pelatihan pengembangan usaha di acara Seminar Nasional Pengembangan UMKM dan Workshop Menembus Pasar Digital yang digelar di Surabaya, Kamis (7/2).

"Program pemerintah ini sedang berjalan dan akan terus ditingkatkan. Ada beberapa pesantren yang nanti terus akan kita tambah," kata Airlangga Hartato pada seminar dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2019.

Menurut dia, Kemenperin telah melakukan berbagai pelatihan untuk mendorong program santripreuneur di kalangan santri, seperti halnya pesantren di Jawa Barat yang telah dibantu peralatan untuk membuat roti.

"Roti itu kemudian dikonstruksi sendiri oleh santri-santri di sana," ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, Kemenperin sudah melakukan pembinaan dan bantuan kepada 16 pesantren. Adapun programnya mulai daur ulang, konveksi, makanan minuman, kemudian perbengkelan, kerajinan organik yang secara generik mempunyai komunitas cukup dan mempunyai keahlihan cukup untuk dikembangkan di pesantren-pesantren.

Airlangga sebelumnya mengatakan selama ini pesantren turut berperan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat sudah banyak yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit usaha baik skala kecil maupun menengah, bahkan ada yang memiliki inkubator bisnis.

Dengan perkembangan era digital saat ini, Menperin pun optimistis para santri mampu menjadi agen perubahan yang strategis dalam membangun bangsa dan perekonomian Indonesia di masa mendatang.

Untuk itu, ia berharap santri bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, baik agama maupun wirausaha. Para santri yang mayoritas generasi milenial juga perlu menguasai teknologi terkini.

Selain itu, Airlangga juga membahas persoalan lain dalam seminar tersebut, yakni seputar kontribusi manufaktur Indonesia terhadap pendapatan domestik bruto menduduki peringkat lima besar dunia. Data yang ada, capaiannya mencapai 20,5 persen pada 2017.

Dalam hal ini, Indonesia berada di atas Amerika, Meksiko, India, Rusia, dan Spanyol, serta di bawah China, Korea, Jerman, dan Jepang.

Airlangga juga memaparkan PDB industri UMKM dalam periode 2015 hingga 2018 mencatat pertumbuhan positif.

"Rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas periode 2015-2018 adalah 4,87 persen dengan nilai PDB pada tahun 2018 Rp2.555,8 triliun," ujarnya.

Sementara itu, dia menyebut untuk industri dengan pertumhuhan tertinggi adalah industri makanan dan minuman, disusul industri tekstil, perhiasan, logam hingga alat angkut.

"Untuk distribusi, rata-rata industri dengan pertumbuhan tertinggi adalah makanan dan minuman pada angka 8,71 persen dan yang masih belum optimal industri tekstil dan pakaian jadi yaitu 1,64 persen," katanya. Sb-01