Dr. H. Tatang Istiawan, Wartawan Senior Surabaya Pagi

Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak, Rabu (13/02/2019) hari ini akan dilantik oleh Presiden Jokowi, sebagai Gubernur Jatim periode 2019-2024.. Pelantikan dilaksanakan di Istana Negara pukul 15.30 WIB. Catatan saya, Khofifah, Gubernur pertama di Jawa Timur yang sejak mahasiswa sudah menjadi aktivis. Saat kampanye Anda dipanggil Bude Khofifah. Ibaratnya Khofifah, adalah tokoh pergerakan yang tidak pernah lekang oleh perubahan politik apa pun. Maklum, Bude Khofifah adalah santri Gus Dur. Beda dengan Pak De Karwo, Gubernur Jatim yang digantikannya. Dr. Soekarwo, birokrat karir yang baru menjadi politisi setelah karirnya melejit, kemudian aktif di diskusi-diskusi ilmiah hingga menulis beberapa buku tentang ekonomi dan politik. Bila Khofifah, santri Gus Dur, Soekarwo, lebih tepat disebut ‘’murid’’ Soekarno, karena ia pengagum ajaran-ajaran Soekarno yang pro-rakyat. Sebagai jurnalis, saya mengenal keduanya dan akan menulis surat terbuka tentang sosok seorang aktivis, problem kepemimpinan transisi yang sering diterpa dengan isu mutasi, pembelaan terhadap capres Jokowi hingga visi-misi Khofifah-Emil, yang terlalu rinci. Berikut surat terbuka saya yang pertama.

Dr. H. Tatang Istiawan

Wartawan Senior harian Surabaya Pagi

Bude Khofifah dan Mas Emil,

Saya memanggil Anda dengan sebutan Bude dan Mas, karena saat kampanye yang lalu, Anda sudah diperkenalkan dengan sebutan Bude. Sebutan ini mengesankan Anda memang cocok sebagai penerus kepemimpinan Pak De Karwo, ketimbang Gus Ipul, yang saat itu masih menjadi Wagub Jatim. Panggilan Mas kepada wakil gubernur Anda, karena usianya yang tahun 2019 ini menginjak 34 tahun.

Anda, praktis arek Suroboyo yang pernah dua kali menjadi pembantu presiden. Pertama Menteri Pemberdayaan Perempuan era pemerintahan Abdurahman Wahid. Dan kedua Menteri Sosial, kabinet pemerintahan Jokowi .

Anda yang dilahirkan di Surabaya, 19 Mei 1965 sudah mengenal dunia politik sejak duduk di bangku kuliah. Menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Sosial dan Anda sejak muda dikenal sebagai aktivis kampus. Selain pernah kuliah di Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya, Anda juga belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Surabaya. Baru kemudian mengikuti pendidikan magister Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (1997)

Sejarah mencatat, nama Anda mulai diperhitungkan di kancah politik tingkat nasional, saat mewakili Fraksi Persatuan Pembangunan. Anda dalam usia yang masih muda berani mengkritisi Pemilu 1997 yang Anda tuding sarat dengan kecurangan. Sorotan Anda menggema saat Sidang Umum MPR tahun 1998.

Catatan yang saya miliki, Anda termasuk aktivis perempuan yang punya setumpuk rekam jejak tidak hanya di legislatif, tetapi juga eksekutif dan organisasi kemasyarakatan.

Anda tercatat pernah duduk sebagai anggota DPR RI pada 1992-1999, dan masuk di gedung Senayan lagi pada 2004-2008.

Di parlemen, Anda bukan sekedar anggota biasa. Anda pernah menjadi Ketua Fraksi PPP, Ketua Komisi VIII Bidang Agama dan Sosial, Ketua Komisi VII Bidang Energi Ristek dan Lingkungan Hidup, Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa, sampai Wakil Ketua DPR.

Dalam Organisasi kemasyarakatan, Anda sempat menjadi Ketua Cabang PMII perempuan se-Indonesia. Selain Ketua Umum Muslimat organisasi sayap perempuan NU, hingga sekarang.

Sekarang, saat Pilpres 2019 berlangsung, Anda memimpin Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) se Indonesia. JKSN ini mendukung pasangan capres-cawapares nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf.

Bude Khofifah dan Mas Emil,

Sebagai aktivis Anda merasa dibesarkan oleh pergerakan mahasiswa Islam Indonesia. Anda mengakui saat dipilih sebagai Ketua cabang perempuan pertama di PMII se-Indonesia, ada resistensi dari sejumlah senior. Berkat komunikasi yang Anda bangun hasilnya menggembirakan.

Pada akhirnya para senior dan alumni PMII sepakat dan sepaham atas kepemimpinan Anda seorang aktivis perempuan. Dan di PMII, Anda cukup lama berkiprah.

Anda saat Pilgub lalu didukung oleh Dewan pengasuh Ponpes Darul Karomah Gunung Jati, KH Jazuli Munif. Alasannya, Anda santri Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang cukup tawaduk.

Kiai Jazuli di acara silaturahmi yang digelar di pondok pesantrennya, di Desa Kramat, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jumat (26/1/2018), menyakinkan para hadirin, kalau Khofifah memiliki kemampuan sebagai pemimpin.

Antara lain, sebagai alumni alumnus Ponpes Tambakberas, Jombang Anda dinilai banyak menyerap ilmu dari Gus Dur, baik ilmu politik, strategi, dan lain sebagainya.

Saya juga pernah membaca sebuah artikel yang berjudul "World’s Biggest Muslim Country Puts More Women Into Senior Roles".

Dalam artikel ini Anda disebut sebagai tokoh berpengaruh dalam pemerintahan di Indonesia. Selain itu, Anda juga danggap sebagai simbol kesuksesan perempuan di kancah politik nasional.

Artikel yang diterbitkan oleh media massa asal Amerika Serikat Bloomberg. ini ditulis oleh reporter Rieka Rahadiana, Molly Dai, and Karl Lester M Yap.

Tiga reporter ini menuliskan bahwa Anda adalah salah satu contoh menteri perempuan di negara muslim terbesar di dunia. Sekaligus menjadi contoh kesuksesan sebuah negara dalam memecahkan streotip gender dan agama.

Bude Khofifah dan Mas Emil,

Masyarakat Jawa Timur yang saya serap dalam 10 tahun ini umumnya mengenal gaya kepemimpinan Pak De Karwo. Pria sederhana yang tidak suka protokoler ini dikenal sosok pemimpin yang merakyat.

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, misalnya, sejak awal menjabat di Jawa Timur kesengsem (tertarik) dengan kepemimpinan Pakde Karwo, yang sangat dekat dengan masyarakat. Makanya, Irjen Luki berjanji akan meniru gaya kepemimpinan Pak De Karwo.
Bagaimana dengan Anda?

Beberapa akademisi bahkan mempertegas gaya kepemimpinan Soekarwo, suka mengeluarkan kebijakan-kebijakan populis.

Nah, dengan gaya kepemimpinan seperti Pakde Karwo, seperti itu, provinsi Jawa Timur akhirnya mampu menurunkan angka kemiskinan dari 18,51 persen di tahun 2008 menjadi 10,98 persen pada Maret 2018.

Saya belum pernah mengikuti gaya kepemimpinan Anda saat menjadi Menteri Sosial. Tetapi saya beberapa kali mengikuti kunjungan Anda menghadiri pengajian fatayat NU di beberapa Kabupaten di Jawa Timur. Hal yang saya simak, Anda memiliki gaya pidato bak orator. Gaya pidato Anda mirip-mirip Soekarno, saat berpidato di alun-alun ketika masih berkuasa sebelum tumbang tahun 1966.

Meski demikian, dalam catatan saya, Anda termasuk tokoh perempuan yang sangat matang di dunia politik. Apalagi telah menggeluti dunia pergerakan sejak mahasiswa di Unair.

Meski Anda sudah dilantik sebagai Gubernur Jatim sore ini, dalam jangka pendek sampai 17 April mendatang, bisa jadi Anda tidak akan melepaskan penugasan dari Presiden Jokowi untuk mengamankan Jatim. Anda bisa jadi menjadi proxy.

Apalagi dalam Pilpres 2019, provinsi Jatim dinilai oleh capres Jokowi, sebagai kantong suara terbesar kedua setelah Jawa Barat.

Selamat mengabdi untuk masyarakat Jawa Timur bersama Mas Emil, yang sebelum ini menjabat Bupati Trenggalek.

Prediksi saya, sebagai santri Gus Dur, Anda bisa menerapkan gaya kepemimpinan seperti Gus Dur, tegas, suka berpikir untuk rakyatnya sebagai sosok pluralis.

Saya prediksi dengan fakta-fakta seperti ini, gaya kepemimpinan Anda dan Pak De Karwo, meski sama-sama pro rakyat, bisa berbeda. Terutama pendekatan. Maklum, Pak De Karwo, tokoh nasionalis sejati yang dikenal sebagai ‘little Soekarno’. Lalu Anda tokoh muslimat yang santri sejatinya Gus Dur.

Anda yang menjadi pimpnan Ormas perempuan, menurut akal sehat saya, bukan tidak mungkin saat memimpin provinsi yang mayoritasnya warga NU, bergaya Panglimanya orang santri. Termasuk fenomena munculnya fenomena populisme agama. (tatangistiawan@gmail.com/ bersambung)