Habib Rizieq Syihab

Riko Abdiono-Jaka Sutrisna,

Wartawan Surabaya Pagi

Pilpres 17 April 2019 yang makin dekat, membuat persaingan dua kubu calon presiden (capres) makin memanas. Seperti ulama kubu 02, Habib Rizieq Syihab (HRS), yang menginstruksikan umat Islam menjalankan door to door guna memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Namun kubu 01 tak gentar. Bahkan, instruksi yang dikeluarkannya dari Arab Saudi dinilai tidak memberikan dampak apa-apa. Termasuk di Jawa Timur. Justru Tim Kampanye Daerah (TKD) Jatim, suara Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin masih yakin meraup suara kemenangan 70 persen.

------------

Tokoh muda Nahdhatul Ulama (NU) di Jawa Timur, KH Zahrul Azhar Asad meyakini instruksi HRS tersebut tidak berdampak apa-apa di lingkungan warga NU di Jawa Timur. "Menurut saya bagus ya imbauan dia (HRS), ini menunjukkan kepada publik bahwa dia itu politisi yang punya target-target politik seperti para politisi lainnya," jawab pria yang akrab disapa Gus Hans ini, Minggu (10/3/2019).

Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini mengatakan, seperti biasanya setiap politisi selalu membawa misi untuk meraih kemenangan. "Bedanya dia (HRS) bisa membungkus gerakannya seakan murni agamis," sebut Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur ini.

Apakah efektif instruksi door to door dan pergi ke TPS 17 April untuk mencoblos Prabowo-Sandi? Gus Hans meyakini lagi, bahwa itu tidak akan efektif. "Dia menyuruh orang lain datang ke TPS untuk nyoblos, Lha apa dia nanti juga akan ikut nyoblos?," tanya Gus Hans.

Menurutnya, perintah tersebut juga pasti akan membingungkan bagi para pendukung Prabowo-Sandi di Jatim. Terutama bagi kalangan masyarakat di Jawa Timur yang mayoritas NU. "Perintah itu membingungkan, karena yang nyuruh background-nya simpatisan HTI yang anti demokrasi, masak anti demokrasi tapi mengikuti proses demokrasi," ungkapnya.

Dijelaskan Gus Hans yang juga Sekjen Jaringan Kyai dan Santri Nasional (JKSN) yang didirikan bersama Hj Khofifah Indar Prawansa ini, warga NU sudah cukup dewasa untuk mengikuti anjuran siapa. Tradisi NU itu mirip dengan tradisi pesantren yang mebutuhkan uswah (contoh). "Mana mungkin orang NU akan mengikuti anjuran politik dari orang yang sedang bermasalah hukum di Indonesia," tandas Gus Hans.

Hanya Gimmick

Pernyataan hampir sama juga dilontarkan Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Makruf Jawa Timur, Mahfud Arifin. Menurutnya, instruksi HRS itu tidak berpengaruh di Jawa Timur. "Tidak ngefek. Seruan HRS tidak ngefek di Jatim," tandas Mahfud.

Machfud menegaskan, mayoritas warga Jawa Timur adalah jamaah NU yang dalam Pilpres 2019 ini menempatkan KH M’aruf Amin sebagai cawapres, sebagai pendamping Jokowi. Sebelum Cawapres, KH Ma’ruf Amin merupakan Rais Aam PBNU alias pemimpin tertinggi NU. Sementara berdasarkan survei, mayoritas atau lebih 80 persen warga Jawa Timur merasa bagian dari NU.

"Seruan HRS itu cuma gimmick politik saja, di bawah tidak terpengaruh. Kami tetap konsentrasi penuh menuju 17 April dengan target menang 70 persen di Jatim," ungkap mantan Kapolda Jatim tersebut.

Strategi 02

Sebelumnya, Imam besar FPI Habib Rizieq Syihab bertemu dengan Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Jenderal (Purn) Djoko Santoso di Mekah, Arab Saudi, Kamis (7/3) lalu. Pertemuan itu untuk merapatkan barisan pendukung Prabowo-Sandi. "Habib sudah minta umat Islam door to door. Umat yang mendukung Prabowo-Sandi itu door to door. Rumah umat Islam menjadi posko-posko pemenangan Prabowo-Sandi di Indonesia," kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade.

Andre belum bisa menyampaikan ada atau tidaknya strategi baru pasca pertemuan antara Djoko Santoso dengan Habib Rizieq. Namun, dia menyebut, rapat konsolidasi akan dilakukan setelah Djoko Santoso kembali ke Tanah Air.

Survei Terbaru

Dalam beberapa waktu ke belakang ini, sejumlah lembaga survei merilis hasil survei tentang elektabilitas dua pasangan calon dalam Pilpres 2019. Dari hasil-hasil survei tersebut, pasangan Jokowi-Ma’ruf disebut lebih unggul dari paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Selisih kemenangan Jokowi-Ma’ruf di kisaran 20 persen.

Sejumlah lembaga yang telah merilis hasil surveinya adalah LSI Denny JA, PolMark Indonesia, Populi Center, Cyrus Network, Charta Politika, Media Survei Nasional, Y-Publica, Alvara Research Center, dan Indikator Politik Indonesia.

Di luar lembaga survei dalam negeri, pada akhir pekan lalu lembaga riset pasar yang berbasis di Australia, Roy Morgan, juga menampilkan hasil survei mereka sendiri. Dari semua hasil survei beberapa lembaga itu seluruhnya menunjukkan petahana lebih unggul dari Prabowo.

Terbaru dilakukan Saiful Mujani Research Consulting (SMRC). Data yang diolah akhir Januari 2019 didapati pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul 54,9 persen dari pasangan Prabowo-Sandi yang hanya mendapatkan suara 32,1 persen.

"Survei dilakukan pada akhir Januari 2019 ini selisih 23 persen dan 13 persen masih tak menjawab (undecided) selisih ini secara statistik signifikan dan nyata, calon satu unggul atas calon yang lain, tapi preferensi politik tak pernah stabil bisa berubah tergantunng sitatuasi kondisi," kata Direktur Riset SMRC, Denny Irfan, di Kantor SMRC, Jakarta Pusat, Minggu (10/3/2019).

Terkait undecided voters sebanyak 13 persen, menurut Denny, jumlah tersebut tidak dapat berbuat banyak sekali pun seluruhnya bermuara ke Prabowo-Sandiaga. SMRC melihat Jokowi-Ma’ruf masih tetap unggul dengan selisih 10 persen. "Bila 13 persen undecided semuanya ke Prabowo maka Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul sekitar 10 persen. Angka ini lebih besar dari selisih Pilpres 2015 yang sekitar 6 persen," beber dia.

Survei ini dilaksanakan SMRC pada 24-31 Januari lalu. Respondennya ialah WNI yang telah memiliki hak pilih pada Pemilu 2019. Responden dipilih secara multistage random sampling sebanyak 1.620 orang. Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut plus minus 2,65 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. n