SURABAYAPAGI.com - Ahli ekonomi dari Universitas Nasional Singapura (NUS) telah menyelesaikan studi ekstensif yang mengungkapkan bahwa paparan polusi udara selama beberapa minggu bukan hanya tidak sehat, tetapi juga dapat mengurangi produktivitas karyawan.

Rekan Profesor, Alberto Salvo, dari Departemen Ekonomi di NUS Fakultas Seni dan Ilmu Sosial dan seorang penulis penelitian, menjelaskan bahwa sebagian besar dari kita mungkin telah mengenal dampak negatif pencemaran udara terhadap kesehatan.

“Namun, sebagai pakar ekonomi, kami ingin mencari hasil sosial ekonomi lainnya. Tujuan kami dengan penelitian ini adalah untuk memperluas pemahaman tentang polusi udara dengan cara yang belum dieksplorasi. Kami biasanya berpikir bahwa perusahaan mendapat ’keuntungan’ dari peraturan polusi yang longgar dengan menghemat peralatan kontrol emisi dan sejenisnya. Di sini, kami mendokumentasikan efek buruk pada produktivitas tenaga kerja mereka,” jelas Salvo dalam pernyataan.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam American Economic Journal: Applied Economics pada 3 Januari 2019 silam.

Tim NUS, termasuk para rekan profesor Haoming Liu dan Dr. Jiaxiu He menghabiskan lebih dari setahun mengumpulkan informasi dari pabrik-pabrik di Tiongkok.

Mereka mewawancarai manajer di selusin perusahaan di empat provinsi yang terpisah. Kemudian, mereka mendapatkan akses ke data untuk dua pabrik, satu di Henan dan yang lainnya di Jiangsu.

Pabrik yang diteliti adalah pabrik tekstil. Sistem pembayaran buruh dilakukan sesuai dengan jumlah kain yang mereka selesaikan. Artinya, catatan produktivitas harian pekerja dapat diakses.

Selanjutnya, peneliti membandingkan berapa banyak potongan yang diproduksi pekerja setiap hari dengan ukuran konsentrasi partikel udara yang terpapar oleh pekerja dari waktu ke waktu.

Cara standar untuk menentukan tingkat keparahan polusi dengan mengukur berapa banyak partikel halus yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) di udara.

Mayoritas orang yang tinggal di negara berkembang terpapar konsentrasi partikel yang dianggap berbahaya oleh otoritas kesehatan.

Tingkat polusi pada dua lokasi pabrik terbilang variatif secara signifikan dari hari ke hari. Secara keseluruhannya tingkatnya cukup tinggi.

Di satu lokasi, tingkat PM2.5 rata-rata sekitar tujuh kali lebih tinggi dari batas aman yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS, yakni 85 mikrogram per meter kubik.

Hal menarik yang disimpulkan oleh peneliti, tidak seperti literatur sains sebelumnya, fluktuasi polusi harian tidak langsung memengaruhi produktivitas pekerja.

Namun, ketika peneliti mengukur paparan polusi secara lebih lama hingga 30 hari, penurunan menjadi semakin signifikan.

Studi ini juga memperhatikan kendali faktor-faktor yang membingungkan seperti aktivitas ekonomi dalam lingkup regional.

"Kami menemukan bahwa peningkatan PM2.5, sebesar 10 mikrogram per meter kubik yang bertahan selama 25 hari, mengurangi produktivitas harian sebesar satu persen. Kondisi ini merugikan perusahaan dan pekerja," kata Liu. "Efeknya perlahan, tetapi sangat signifikan,” imbuhnya.

Para peneliti tetap agnostik tentang alasan yang menjelaskan mengapa produktivitas kerja turun ketika polusi naik.

"Tingkat partikel yang tinggi terlihat dan dapat memengaruhi kesejahteraan individu dalam banyak cara," ungkapnya.

Dia menambahkan, polusi masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah mungkin juga melahirkan efek psikologis.

“Bekerja dalam lingkungan yang sangat tercemar untuk jangka waktu yang lama dapat memengaruhi suasana hati atau kecenderungan Anda untuk bekerja,” pungkasnya.