Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Dalam catatan saya kemarin, akal sehat saya menilai RG, dalam pilpres 2019 bukan pengamat politik, apalagi akademisi. Kuat dugaan RG partisan Capres-cawapres Prabowo-Sandi.

Dari berbagai jawaban dan komentar di TV maupun debat publik, ia merupakan pengikut paslon 02. Masuk akal RG, memiliki kesetiaan pada figur paslon 02 sebagai sebuah kesatuan.

Akal sehat saya menilai sebagai partisan, RG telah menunjukkan kesetiaan bak seorang kader partai pendukung paslon 02. Terutama dalam mengerahkan segala kemampuan untuk menunjukkan dharma bhakti dirinya kepada paslon 02.

Dengan gambaran seperti in, akal sehat saya meragukan keahlian Rocky Gerung sebagai lulusan filsafat. Keraguan ini saat ia menyindir pertumbuhan ekonomi era pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebagai penipuan yang sistematis.

Tudingan semacam ini secara keilmuan, menurut akal sehat saya, bukan domain seorang lulusan filsafat yang tak pernah kuliah ekonomi. Saya heran, filsuf, kata Wikidia, RG bisa (berani) membuat penilaian yang bukan disiplin ilmunya. Masuk akal bila kemudian tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, balik menyerang RG.

"Dunia akan jadi jungkir balik kalau Rocky Gerung yang mengaku ke mana-mana sebagai filsuf namun bicara tentang ekonomi, yang ilmunya sama sekali tidak dikuasainya. Sehingga yang dipakai bukan akal sehat. tapi akal bulus," tuding juru bicara TKN, Ace Hasan Syadzily, Minggu (10/3/2019)

Akal bulus yang dimaksud Ace adalah dengan kepentingan sebagai tenaga kontrak untuk mendongkrak elektabilitas paslon 02 di kalangan kelas menengah terpelajar. Karena akal bulus, kata Ace, RG dianggap hanya mengandalkan logika-logika jungkir balik.

"Lihat aja cara Rocky Gerung membandingkan pertumbuhan ekonomi di era SBY dengan era Jokowi. Rocky Gerung tidak melihat variabel-variabel eksternal seperti tekanan akibat pelambatan ekonomi global. Kalau mau memperbandingkan seharusnya dengan kondisi yang dihadapi negara lain yang terkena dampak yang sama. Ini artinya Rocky Gerung memakai akrobatik akal bulus," tambah Ace.

***

Saya termasuk penggemar acara ILC yang disiarkan TvOne. Sebagai pengemat saya sampai menyimpan rekaman ILC yang ada panelis Rocky Gerung.

Dalam forum diskusi publIk ILC, yang saya rekam, saya mengamati umumnya peseta (tidak hanya panelis) sama-sana mengembangkan pemikiran kritis. Dan RG, sosok yang sering diundang untuk mengambil bagian dalam perdebatan.

Jujur, semula saya, termasuk yang terpesona dengan komentator -komentator RG. Maklum, di forum ILC itu, RG, sepertinya mengembangkan kemampuan dalam berpikir bebas dan kritis.

Komentatornya yang kritis ini semula RG saya kira akademisi. Tapi lama-lama saya tak yakin, sebab RG dalam berargumentasi suka melompat lompat, tidak bicara sistematis. Rekaman yang saya miliki, RG hampir tak pernah mengutip teori-teori terdahulu yang memiliki validitas.

Profesor pengajar filsafat ilmu di Untag Surabaya, pernah mengajarkan cara berdebat atau berdiskusi dengan sudutpandang adat istiadat budaya timur,Pesannya, dalam debat dengan isu actual, meski berada dalam kebebasan berkomunikasi, profesor dari Bali ini mengingatkan jangan karena debat bisa berujung ke permusuhan dan sindir-menyindir.

Selain itu, gunakan bahasa yang sopan. Ini menurut etika merupakan awal yang sejuk saat memulai debat.

Penggunaan tutur kata yang sopan, katanya, tidak hanya membuat orang lain lebih memahami maksud pernyataannya, tapi juga akan lebih dihargai. Sebutan dungu, adalah bukan termasuk tutur kata sopan. Bahkan guru ngaji saya berpesan ungkapan kata-kata dungu kepada lawan-lawan berdebat atau pihak ketiga, menurut Islam tidak layak .

Mengingat, hampir setiap orang, dipastikan tidak menyukai pembicara yang gemar menghujat dan bernada merendahkan. Terutam,a untuk mempertahankan pendirian dalam berdebat . Apalagi sampai mengeluarkan dalih untuk menjatuhkan lawan berdebat secara personal.

Profesor filsafat ilmu yang mengajar saya berpesan, sebagai seorang vang berpikir intelektual, bisa saja ia mengeluarkan pendapat, tapi pendapatnya belum tentu valid. Terutama selama pendapatnya tidak ada bukti. Pendapat valid ini yang membedakan antara debat kusir dan debat berakal sehat. Disarankan, sebagai lulusan S-3 yang ikut berdebat, agar tidak kehilangan bobot keilmiahannya, saya disarankan menghadirkan bukti yang kredibel.

Ini karena bagi cendekiawan, tujuan dari debat, bukan untuk menjadi pemenang kontes, tetapi untuk belajar dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Makanya disarankan untuk membuat argument yang benar dan masuk akal.

Apalagi seorang yang mengklaim filsuf, disarankan membuat argumen yang membangun dan memberikan kritik. Maklum, filsuf sering memandang pertukaran ide dalam debat merupakan sebuah jalan menuju kepada kebenaran.

***

Sebagai keluarga jawa, dalam interaksi kehidupan sehari-hari, saya sejak kecil diajarkan untuk menghindari sikap "jangan merasa paling benar", "jangan merasa benar sendiri", "jangan merasa paling baik", dan "jangan merasa paling suci". Dan ini saya serap acapkali muncul saat perdebatan di ILC yang menghadirkan RG.

Ibu dan eyang saya mengatakan perilaku merasa paling benar membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Guru ngaji saya bahkan menyebut orang yang merasa paling benar tergolong ujub dan takabur. Orang semacam ini acapkali kurang dipercaya dan dihargai oleh orang lain.

Dalam etika perdebatan, saya pernah belajar tentang public speaking. Salah satu ajaran yang masih saya ingat bahwa kita tidak boleh merasa paling benar. Mengingat kebenaran yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif dan kewenangan Allah SWT.

RG, bisa saja dia tidak tahu bahwa sesungguhnya yang paling benar adalah Allah SWT, bukan manusia, apapun menu bacaan hariannya. Maklum RG, bukan pemeluk Islam.

Referensi yang saya peroleh, selama berkuliah, RG, dekat dengan para aktivis berhaluan sosialis seperti Marsillam Simanjuntak, Hariman Siregar, dan lain-lain.

Bersama tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra, RG, tercatat ikut mendirikan Institut Setara, sebuah wadah pemikir di bidang demokrasi dan hak asasi manusia, pada tahun 2005.

Dalam wikipedia, tidak dijelaskan agama RG, kecuali kota kelahiran dan tahunnya yaitu kota Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959.

Ada sebuah studi yang dilakukan peneliti University of Chicago Booth School of Business. Studi yang dilansir dari psychcentral.com, mencari tahu mengenai fenomena apakah benar orang cenderung merasa dirinya lebih bermoral dari orang lain ketika ia berbuat baik? Atau apakah orang cenderung merasa lebih suci ketimbang orang lain ketika ia berbuat baik?

Jawabannya selaras dengan pemikiran di awal pertanyan. Bahwa kecenderungan seseorang merasa lebih benar, lebih suci, dan lebih bermoral, cenderung dimiliki oleh manusia.

Hal ini disebabkan ada kecenderungan orang merasa paling benar, karena kebanyakan orang suka mengevaluasi diri dengan cara berpikir dan penilaiannya sendiri. Kadang seseorang mengevaluasi tanpa mempertimbangkan perspektif lain di luar diri sendirinya.

Islam agama yang saya anut mengajarkan hal-hal yang humanis. Umat Islam diajarkan menghindari perilaku merasa paling benar. Makanya, umat Islam diperintahkan untuk selalu melakukan koreksi diri (muhasabah). Hal ini untuk meluruskan niat untuk kebaikan daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Allah SWT.

Saya pikir RG tahu bahwa manusia dituntun untuk menggunakan akal sehat agar bisa memecahkan persoalan- persoalan yang dihadapi. Maklum, akal sehat itu berisi pengetahuan dan pengalaman mengenai berbagai hal yang bila dirangkai- rangkai bisa untuk menyelesaikan suatu masalah.

Makanya, ayah saya sebelum meninggal berpesan nak, akal sehatmu perlu dijaga agar benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan yang kompleks.

Hasil liputan saya sejak kampanye bulan Agustus 2018 lalu, kehidupan politik praktis di Indonesia sekarang ini tampak menunjukan tanda-tanda bahwa sejumlah politisi, partisan dan simpatisannya mulai mengalami depresi.

Malahan banyak politisi, partisan dan simpatisan bergumul dengan kegiatan-kegiatan emosional, saling menjelekan, mengejak, menghina dan membenci.

Diantaranya ada yang sedang “menjual pesan” seperti yang dilakukan RG, Pesan berupa argumentasi seolah dirinya saja partisan politik yang paling benar. Ironisnya, RG berani menafsirkan semua persoalan kebangsaan yang diperdebatkan menurut ukuran-ukurannya sendiri, tanpa landasan teori. Ini yang kemudian ada pihak yang menuding RG, sosok yang kontroversial. (tatangistiawan@gmail.com)