Desain proyek Alun-alun Surabaya yang didanai APBD Rp 80 miliar.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini memiliki proyek besar di sisa dua tahun pemerintahannya. Setelah menyelesaikan basement Balai Pemuda, Risma menyiapkan dana Rp 80 miliar dari APBD untuk mewujudkan proyek alun-alun di Jalan Pemuda 17 yang sempat bersengketa dengan pengusaha Alim Markus. Kini, Risma menjadi sorotan. Anggota DPRD menyebut penamaan Alun-Alun Surabaya untuk perluasan Balai Pemuda itu merusak tatanan sejarah. Kok bisa?

----

Alqomar,

Wartawan Surabaya Pagi

Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi, Pemkot Surabaya saat ini masih melakukan lelang proyek Alun-Alun Surabaya ini. Rencananya, peembangunan Alun-alun ini dimulai dari pembangunan basement di bawah Jalan Yos Sudarso. Sehingga nantinya Balai Pemuda dan Jalan Pemuda 17 tersambung. Nah, di atas persil Jalan Pemuda seluas sekitar 1.800 meter persegi ini Alun-alun itu akan dibangun.

Ini kemudian menjadi polemik. Bukan hanya karena pembangunannya nanti akan menutup Jalan Yos Sudarso selama enam bulan. Padahal di kawasan ini banyak aktivitas perekonomian. Tapi penamaan Alun-Alun Surabaya juga mengundang kritikan. Apalagi alun-alun dibangun lantaran Walikota Tri Rismaharini terinspirasi Rockefeller Center, Manhattan, New York, Amerika Serikat.

Vinsensius Awey angkat bicara. Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya ini meminta Tri Rismaharini belajar sejarah. Sebab penamaan Alun-alun Kota Surabaya untuk proyek perluasan Balai Pemuda dinilai kurang tepat. Bahkan merusak tatanan konsep alun-alun yang selama ini dianut masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

Kata Awey, Tri Rismaharini perlu banyak belajar soal pranata kehidupan sosial yang berkaitan dengan sosiologi antropologi tentang Alun-alun. “Perlu banyak belajar soal pranata kehidupan sosial,” sebut Awey kepada Surabaya Pagi, Senin (11/3/2019) kemarin.

Menurutnya, sejak abad 16 nama Alun-alun sudah terdapat di sejumlah kadipaten-kadipaten yang kala itu di bawah Kotaraja Majapahit. Alun-alun kala itu, lanjut Awey, menukil sejumlah literatur sejarah, digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepada rajanya dan sebaliknya untuk tempat menghukum rakyat yang melanggar oleh pihak kerajaan.

“Makanya konsep yang kemudian disepakati di sekiling alun alun mesti ada bangunan-bangunan yang berhubungan dengan kehidupan sosial dan keagamaan seperti masjid, kantor pemerintahan, penjara, dan pasar,” papar politisi Partai Nasdem ini.

Sementara konsep penamaan alun-alun untuk perluasan Balai Pemuda, menurutnya, tidak jelas sama sekali. Seharusnya, kata Awey, bukan Alun alun kota Surabaya namanya, sebab berada di persimpangan jalan. “Dan harus diketahui sejarah alun alun kota Surabaya dulu sudah ada, tepatnya depat kantor gubernur (kawasan Tugu Pahlawan, red),“ ujar Awey.

Melihat sejarah kota Surabaya yang masih banyak harus digali sejarah kebenaranya, hal ini ditakutkan akan mengaburkan sejarah bagi generasi muda.

“Yang kami takutnya nanti akan terjadi pengaburan sejarah terkait pemberian nama Alun alun kota Surabaya, menurut saya harusnya nama yang tepat adalah simpang kota Surabaya,” usul Awey.

Harusnya ada hubungan kesinambungan antara pemberian nama Alun-Alun Surabaya, menurut sejarah dahulu kantor gubernur adalah alun alun kota Surabaya. “Mickro cosmos dan Makro cosmos harusnya seimbang dalam rencana pemberian nama Alun alun kota Surabaya, jangan sampai membuat binggung masyarakat kota Surabaya. Hal ini membuat kurang tepat sebab hal ini bukan bagian dari satu kesatuan unsur mikro dan makro cosmos,” tandas Awey.

Sebelumnya, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan alun-alun itu bakal menjadi kesatuan antara Balai Pemuda dengan lahan di sisi timur Jalan Yos Sudarso. Alun-alun itu dibangun dua lantai ke bawah. Di lantai satu, akan dijadikan sebagai penjualan makanan-makanan tradisional dan produk-produk khas tradisional Surabaya. Sedangkan di lantai dua, akan dijadikan tempat parkir kendaraan.

“Nanti itu yang Balai Pemuda basementnya nyambung itu tembus, kan terus nyebrang ke Jalan Pemuda, nah nanti itu kan kayak jadi kesatuan jadi kan luas, nanti namanya Alun-Alun Surabaya,” kata Risma di rumah kediaman Jalan Sedap Malam. n