•   Selasa, 17 September 2019
Surabaya

Alun-Alun Surabaya, jadi “Kosmetik” Risma

( words)
Proyek Alun-alun dikonsep dengan tribun dan amphitheater


Proyek Alun-alun Surabaya yang menjadi kesatuan antara Balai Pemuda di Jalan Yos Sudarso dengan lahan di sisi timur Jalan Pemuda 17, terus menjadi sorotan publik. Apalagi Walikota Surabaya Tri Rismaharini sudah menganggarkan proyek prestius itu hingga Rp 80 miliar dari APBD. Menariknya, kritikan justru datang dari akademisi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, kampus yang pernah menempa Tri Rismaharini.
--------
Alqomar-Betari Taya,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Pakar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Putu Rudi Setiawan menyebut bahwa proyek alun-alun Surabaya yang kini sudah tahap pelelangan sebagai "penanda" akan berakhirnya masa jabatan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya. "Pembangunan semacam ini bisa-bisa jadi kapital bagi seorang kepala daerah. Dia meninggalkan penanda di akhir masa jabatan. Penanda ini dijadikan mediator untuk mengingat siapa yang membangun. Ini merupakan kosmetik yang diaplikasikan di Surabaya," kata Putu Rudi ditanya mengenai urgensi pembangunan alun-alun Surabaya, Selasa (12/3/2019).
Menurut Putu, masih ada hal lain yang perlu diprioritaskan dari sekedar Alun-alun. Sebab, kota Surabaya masih menghadapi sejumlah masalah vital, seperti kemacetan dan banjir. "Masih ada segudang persoalan yang perlu diselesaikan, seperti transportasi, kemacetan, dan banjir," lanjut Putu.
Dengan proyek besar di sisa dua tahun pemerintahannya, Putu mengatakan secara finansial mungkin pembangunan Alun-alun akan berjalan secara lancar. Mengingat APBD Kota Surabaya yang mencapai Rp 9 Triliun pada 2019 ini. Namun lokasi yang akan dibangun Alun-alun itu bisa menimbulkan polemik, lantaran terlibat sengketa di pengadilan. Apalagi jika pihak lawan melakukan upaya hukum lain yang prosesnya memakan waktu panjang.
Selain akademisi, tokoh Nahdhatul Ulama (NU) juga angkat bicara dengan rencana Risma membangun Alun-alun Surabaya. Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan sebenarnya sudah ada nama alun alun di Surabaya, tepatnya kawasan Bubutan yang saat ini namanya sudah diabadikan yakni Alun-Alun Contong. Hanya saja, fisik lapangannya saat ini sudah tidak ada.
Ia mengusulkan agar penamaan Alun-alun Surabaya diganti. Menurutnya, perlu penamaan kreatif yang disesuaikan konteks dan citra kota. Ia mencontohkan di Kuala Lumpur, Malaysia ada "Dataran Merdeka", di Melbourne, Asutralia ada "Federation Square" dan lainnya. "Jadi, tidak sekedar alun-alun, lapangan atau oro-oro. Tapi dipadukan dengan kata lain yang mencerminkan citra, identitas, kesejarahan kota sebagai satu frasa," papar dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini.
Untuk di Surabaya, Muhibbin mengusulkan bisa memakai tema pahlawan, perang, plural, majemuk atau semacamnya, seperti halnya nama "Heroic Square" atau "Latar Pahlawan". Untuk "latar" sendiri adalah bahasa asli Suroboyoan. "Waktu kecil saya, semua rumah punya ’latar’, yakni tempat yang cukup luas di depan rumah. Sementara halaman di belakang rumah namanya ’mburitan’," papar dia.
Selain itu, ia menilai salah satu persil di Jalan Pemuda kurang luas kalau disebut alun-alun. "Saya usul lebih tepat alun-alun menjadi ’Latar Pahlawan’," katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DKPCKTR) Iman Kriatian mengatakan proyek alun-alun Surabaya akan dimulai dari pembangunan basemen di bawah Jalan Yos Sudarso. “(Mulainya) di bawah Jalan Yos Sudarso menyambungkan antara Balai Pemuda dan persil Jalan Pemuda 17. Lantai di bawah jalan (basemen) kita rencanakan 2 lantai atau 2 level,” kata Iman.
Dikatakan Iman, konsep alun-alun di lahan persil Jalan Pemuda 17 akan dikonsep dengan memberikan tribun dan amphitheater. Sedangkan untuk patung dan air mancur ditempatkan pada bagian pojok atas tribun. “Persil Jalan Pemuda 17 nanti modelnya amphiteater. Terus nanti idenya bu wali yang mau pasang patung itu di area (pojok) atas sama di air mancur menari juga di sini. Terus nanti ada juga diorama Surabaya di situ juga,” urainya.
“Kalau tribunnya ada 4 tingkat. Kalau amphiteater tepat di depan area ini (tribun). Kan nanti orang-orang nontonnya sambil duduk di tribun dari atas. Mereka bisa duduk-duduk di sini kalau ada performence. Kalau nggak ya mereka bisa jalan-jalan saja di sekitar sini (persil 17). Tribunnya standar tangga,” lanjut Iman. n

Berita Populer