Ketua DPRD Surabaya Armuji mengecek kondisi Jembatan Bambu Mangrove, di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Selasa (12/3/2019), yang kini mangkrak.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Wacana Pemkot Surabaya akan melanjutkan kembali jembatan di Ecowisata Mangrove, Wonorejo, Rungkut, mendapat sorotan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Armuji. Sebab, jembatan senilai Rp 1,2 Miliar itu mangkrak hampir dua tahun.

Betapa kagetnya saat Armuji mengecek proyek Jembatan Bambu Mangrove di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Selasa (12/3/2019). Banyak bambu dan papan kayu berserakan. Tali serabut hitam (Jawa: Tali duk) masih gulungan dibiarkan menumpuk di atas jembatan. Tali rumbia ini sebagai pengikat antar pucuk bambu. Papan yang sudah dipotong-potong juga berantakan di atas jembatan. Tidak hanya itu, bambu-bambu penyangga jembatan sepanjang kurang lebih 300 meter itu tampak rapuh karena lapuk.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, setelah melihat langsung ke lokasi, jembatan dengan sebutan ’Jembatan Cahaya’ itu harus dibongkar. Bahan bambu kering yang dipakai terlihat reot, lapuk dan rawan ambruk. Hingga pengerjaan tahun 2017, jembatan belum juga difungsikan. “Lho ini proyek dengan nilai Rp 1,2 miliar dibiarkan mangkrak begini. Berani-beraninya ada jembatan bambu di atas ketinggian begini. Saya kepengan tahu siapa kontraktor dan perencana proyek ini. Dia harus tanggung jawab. Apanya yang diteruskan, itu harus dibongkar,” tandas Armuji di lokasi, Selasa (12/3) kemarin.

Ketua Umum Asosiasi Dewan Kota Se-Indonesia (Adeksi) ini mengatakan jika jembatan itu terbuat dari baja, masih bisa diteruskan. Nah ini, hanya pondasi saja yang terbuat dari beton. Sementara lainnya dari bambu dan hanya diikat tali ijuk. Bahkan Armuji kemarin mencoba memberanikan diri berjalan ke tengah, dan jembatan goyang.

Karena mengkhawatirkan, pengelola setempat lantas menutup jalan menuju ke jembatan. “ Memang itu pondasi saja yang beton. Ada kabel sling juga, tapi nggak bisa kabel dipakai bambu nggak ketemu. Bambu hanya ditali ijuk, lama kelamaan lapuk. Ayo.., siapa yang berani jalan ke tengah. Bisa dibayangkan, kalau 50 orang naik ke atas dengan kondisi seperti ini, sudah pasti jatuh,” katanya.

Untuk itu, pihaknya meminta Pemkot Surabaya mendukung langkah pengelola yang sudah menjadikan wilayah mangrove ini menjadi jujugan wisata. “Harusnya pemkot mendukung langkah yang sudah dilakukan pegiat lingkungan yang sudah jalan. Dulu, tempat ini tidak pernah disentuh sama sekali. Sehingga tidak ada orang yang mau berinvestasi. Nah, kalau sudah baik seperti ini, harus didukung. Daripada membuat jembatan miliar rupiah, tapi tidak bisa difungsikan,” papar Armuji.

Pria yang akrap disapa Cak Ji ini mengingatkan, kalau tidak segera dibongkar, dikhawatirkan ada masalah. Terutama jika ada warga Surabaya yang bwrwiasata ke mangrove, lalu selfi-selfi dan akhirnya menjadi korban dari jembatan rapuh. "Siapa yang bertanggungjawab, ini yang perlu diaudit. Harus bener-bener dinvestigasi, bahwa ini penghamburan tanpa ada satu perencanaan yang matang, cuma emosional sesaat. Bikin suatu hal-hal yang kontroversi. Mana ada bambu dibikin kayak jebatan Suramadu konstruksi kabel, nggak pernah ada dimana mana. Kalau baja beton, komposit itu konstruksi kabel ada. Pasti lapuk, jebol,” urai caleg DPRD Provinsi dapil Jatim I Surabaya ini.

Sebagai anggota dewan, pihaknya berhak melakukan kontrol terhadap kinerja yang dilakukan Pemkot Surabaya. “Fungsi kontrol kita mengkritiki hal semacam ini, oleh karena itulah harus betul-betul diperhatikan,” pungkas Cak Ji.

Sementara Pengelola Eco Wisata Mangrove Wonorejo Joko Suwondo mengaku eman dengan proyek besar tanpa manfaat tersebut. Namun pihaknya mendukung untuk penambahan fasilitas untuk mempercantik wisata mangrove. “Kami ingin selalu diarahkan. Bisa jadi jembatan bambu bisa menambah destinasi baru. Namun kenapa jembatan itu tidak tuntas dan mangkrak. Bagi kami, flying fox di ketinggian mangrove lebih menggoda,” kata Joko. (Adv/Alq)