Armuji menunjukkan kontruksi Jembatan Bambu Mangrove yang dinilainya tidak kuat dan membahayakan.

SURABAYAPAGI,com, Surabaya - Sependapat dengan Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji, Joko Suwondo selaku Pengelola Kawasan Eco Wisata Mangrove mengungkapkan, pembuatan jembatan bambu tersebut merupakan inovasi yang emosional untuk menyaingi pengelola kawasan tersebut. Joko mengatakan, pembuatan jembatan tersebut dinilainya kurang efektif.

“Kalau toh mau dibuat jembatan yang kontruksi terbuat dari bambu, tidak perlu tinggi seperti ini. Cukup pendek saja, karena membahayakan pengunjung mengingat bahanya terbuat dari bambu,” ucap Joko sembari menunjuk ke arah jembatan tersebut.

Joko juga menyatakan, sebenarnya di kawasan bosem yang menjadi lahan proyek jembatan itu tidak boleh terdapat bangunan. Karena tempat tersebut digunakan untuk sarana penampungan air. Justru dirinya ingin di bosem tersebut dibuat lokasi wisata out bound, menurutnya wahan tersebut lebih safety, ketimbang membuat jembatan berbahan bambu tersebut.

“Justru kalau out bound itu safety, kalau membangun sebuah wahana harus keamanan yang utama. Karena orang berkunjung itu kadang tidak memperhatikan kanan dan kirinya. Enak-enak swafoto, tiba-tiba jatuh gitu kan bahaya,” jelasnya.

Dirinya berharap Pemkot dapat memberikan dirinya pengarahan untuk mengelolah kawasan Eco Wisata Mangrove. Ia mengungkapakan, juga telah menghabiskan dana milyaran untuk membangkitkan kawasan tersebut dengan dana swadaya masyarakat. “Jadi saya swadaya dengan warga sekitar, membuat mangrove ini bisa menjadi seperti ini. Jadi tolong lah pemkot dapat memberikan kami arahan agar kami turut bisa membantu ide maupun tenaga agar kawasan ini bisaenjadi lebih baik lagi. Padahal kami tidak berniat untuk menyaingi program pemkot juga,” tandasnya. (Adv/Alq)