Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa diiringi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim (kiri belakang) bertemu dengan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto di Gedung Grahadi, Selasa (12/3).

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bertekad akan menanam jagung sepanjang tahun. Terget ini dikeluarkan untuk mengatasi keluhan peternak ayam petelur di Jawa Timur.

“Kita targetkan Jawa Timur bisa menanam jagung sepanjang tahun. Sehingga tidak ada kelangkaan jagung dan tidak ada kesulitan akses peternak ayam pada ketersediaan jagung,” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto di Gedung Grahadi, Selasa (12/3).

Gubernur yakin, masalah kelangkaan jagung yang sempat dikeluhkan peternak ayam petelur Jawa Timur bakal segera teratasi. Ini karena Pemprov Jawa Timur bakal mendapatkan benih jagung dari Kementerian Pertanian untuk ditanam di lahan pertanian Jawa Timur.

"Kita sama-sama mendengar peternak ayam petelur terutama dari Blitar mengeluhkan ada kesulitan akses jagung, sementara jagung itu 50 persen bahan pakan ayam," kata Khofifah usai pertemuan dengan Dirjen Tanaman Pangan.

Dari pertemuan tersebut, Dirjen Tanaman Pangan memberikan solusi antisipasi agar kelangkaan jagung di Jawa Timur tidak terulang dan dapat diselesaikan. Caranya yaitu dengan memperbanyak penanaman jagung di area persawahan.

"Maka benihnya akan disiapkan dirjen tanaman pangan. Nanti malam saya akan koordinasikan dengan bupati-bupati di Madura dan LMDH, supaya sama-sama dapat pemetaan sebetulnya lahan kita berapa yang bisa ditanami jagung," tegas Khofifah.

Masa tanam jagung hanya 90 hari. Dalam tiga bulan saja petani sudah bisa memanen hasil jagung yang ditanam. Dengan proses yang cepat seharusnya Jawa Timur ke depan aman stok jagungnya untuk memenuhi kebutuhan untuk konsumsi maupun untuk pakan ternak.

Khofifah menarget paling lambat pekan depan benih dari Kementerian Pertanian sudah didapatkan oleh petani jagung di Jawa Timur. Termasuk para Lembaga Mayarakat Desa Hutan (LMDH) yang lahannya bisa ditanami jagung.

Di sisi lain, Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, secara persentase produksi jagung Jawa Timur, hitungannya memang surplus. Akan tetapi Jawa Timur menjadi daerah penyangga kebutuhan daerah lain, bahkan nasional.

"Nah, kalau produksi ini ketarik, maka harga naik, imbasnya harga produk ternak juga naik, yang akhirnya menyebabkan inflasi. Maka kita harus jaga Jawa Timur produksi jagungnya berlebih, tumpah ruah, supaya produk turunannya bisa berkembang terus," urai Gatot. (arf/**)