Proyek Alun-Alun Surabaya yang dicanangkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan anggaran Rp 80 miliar, terus menjadi perbincangan publik. Ada yang mendukung, ada pula yang mengkritisi. Kali ini, aktivis lingkungan menyoroti proyek Alun-alun itu yang dinilai tidak menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sebab, saat ini Pemkot Surabaya justru mengobral perizinan pembangunan apartemen dan hotel yang justru menggerus RTH di kota pahlawan.

----

Hermi – Alqomar,

Tim Wartawan Surabaya Pagi

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Rere Christanto menilai Walikota Tri Rismaharini hanya fokus pada estetika dalam mengelola kota Surabaya ini. Tak heran jika banyak taman dibangun, termasuk rencana pembangunan Alun-alun Surabaya menjadi kesatuan antara Balai Pemuda di Jalan Yos Sudarso dengan lahan di sisi timur Jalan Pemuda 17.

Menurut Rere, kebijakan Risma seperti itu tidak membantu perbaikan kota. Sementara pembangunan proyek properti oleh pengembang tak terkendali. Dampaknya seperti banjir besar di Surabaya barat yang melanda wilayah Citraland dan sekitarnya.

"Kalau hanya fokus di estetika saja meskipun mau bangun sekian banyak taman atau alun-alun, namun kemudian merusak kawasan ekologi di tempat lain, sama saja tidak membantu perbaikan kota," ungkap Rere kepada Surabaya Pagi, Rabu (13/3/2019).

Rere menjelaskanRTH itu bagian sangat penting di Kota Surabaya. Bukan hanya di urusan estetika kotanya, tapi urusan fisik. "Yang paling utama yaitu di urusan fisik ruang terbuka hijaunya," tegasnya

Lebih lanjut, Rere menyebutkan Wali Kota Surabaya lupa bahwa sisi utama RTH untuk wilayah resapan, terutama resapan air dan karbon menjadi terpinggirkan.

"Jadi terfikir dengan banyaknya kawasan-kawasan penting terutama resapan air, apalagi di Surabaya Barat itu banyak yang hilang," imbuhnya.

Ulama ikut Kritik

Selain akademisi, tokoh Nahdhatul Ulama (NU) juga angkat bicara dengan rencana Risma membangun Alun-alun Surabaya. Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Surabaya Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan sebenarnya sudah ada nama alun alun di Surabaya, tepatnya kawasan Bubutan yang saat ini namanya sudah diabadikan yakni Alun-Alun Contong. Hanya saja, fisik lapangannya saat ini sudah tidak ada.

Ia mengusulkan agar penamaan Alun-alun Surabaya diganti. Menurutnya, perlu penamaan kreatif yang disesuaikan konteks dan citra kota. Ia mencontohkan di Kuala Lumpur, Malaysia ada "Dataran Merdeka", di Melbourne, Asutralia ada "Federation Square" dan lainnya. "Jadi, tidak sekedar alun-alun, lapangan atau oro-oro. Tapi dipadukan dengan kata lain yang mencerminkan citra, identitas, kesejarahan kota sebagai satu frasa," papar dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini.

Untuk di Surabaya, Muhibbin mengusulkan bisa memakai tema pahlawan, perang, plural, majemuk atau semacamnya, seperti halnya nama "Heroic Square" atau "Latar Pahlawan". Untuk "latar" sendiri adalah bahasa asli Suroboyoan. "Waktu kecil saya, semua rumah punya ’latar’, yakni tempat yang cukup luas di depan rumah. Sementara halaman di belakang rumah namanya ’mburitan’," papar dia.

Selain itu, ia menilai salah satu persil di Jalan Pemuda kurang luas kalau disebut alun-alun. "Saya usul lebih tepat alun-alun menjadi ’Latar Pahlawan’," katanya.

Ruang Publik

Terpisah, Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DKPCKTR) Iman Kriatian mengatakan proyek alun-alun Surabaya akan dimulai dari pembangunan basemen di bawah Jalan Yos Sudarso. “(Mulainya) di bawah Jalan Yos Sudarso menyambungkan antara Balai Pemuda dan persil Jalan Pemuda 17. Lantai di bawah jalan (basemen) kita rencanakan 2 lantai atau 2 level,” kata Iman.

Dikatakan Iman, konsep alun-alun di lahan persil Jalan Pemuda 17 akan dikonsep dengan memberikan tribun dan amphitheater. Sedangkan untuk patung dan air mancur ditempatkan pada bagian pojok atas tribun. “Persil Jalan Pemuda 17 nanti modelnya amphiteater. Terus nanti idenya bu wali yang mau pasang patung itu di area (pojok) atas sama di air mancur menari juga di sini. Terus nanti ada juga diorama Surabaya di situ juga,” urainya.

“Kalau tribunnya ada 4 tingkat. Kalau amphiteater tepat di depan area ini (tribun). Kan nanti orang-orang nontonnya sambil duduk di tribun dari atas. Mereka bisa duduk-duduk di sini kalau ada performence. Kalau nggak ya mereka bisa jalan-jalan saja di sekitar sini (persil 17). Tribunnya standar tangga,” lanjut Iman.

Sedangkan untuk total lahan, alun-alun Surabaya akan memakai sekitar 1,4 hektar. Luas itu merupakan satu kesatuan dari Balai Pemuda, basemen Yos Sudarso dan persil Jalan Pemuda 17. n