Puluhan warga yang tergabung dalam Tim Penyelamat Aset Desa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemerintah Kota Surabaya Jalan Jimerto kemarin.

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ratusan warga Medokan Semampir melakukan aksi unjuk rasa di Balai Kota Surabaya, kemarin. Mereka mempersoalkan perluasan area makam Keputih yang dianggap janggal.

"Perluasan area makam itu memakan tanah ganjaran yang dibeli Pemkot sendiri, seperti Pemkot makan Pemkot" ujar Miko Saleh Ketua Umum East Java Corruption Organisation (EJCO) saat mendampingi warga.

Miko menceritakan tanah yang dipersoalkan warga itu seluas 2,2 hektar yang dibagi 3 bidang. Tanah itu menurut Miko merupakan tanah ganjaran Pemkot Surabaya yang seiring dengan berjalannya waktu tiba-tiba dikuasai secara personal oleh seseorang bernama Indra. Tanah inilah yang kemudian dibeli Pemkot untuk perluasan makam.

“Warga menuding kalau ada kolusi yang dilakukan Pemkot Surabaya atas berpindahnya tanah ganjaran itu ke personal yang kemudian sekarang dibeli untuk perluasan area makam,” ungkap Miko.

Kondisi ini membuat warga prihatin.” Warga meminta pemkot transparan atas proses ruislag tanah tersebut, jangan direkayasa,” pungkas Miko.

Aksi unjuk rasa di depan pagar Balai Kota Surabaya itu mendapatkan penjagaan ketat dari aparat kepolisian. Di tengah berjalannya aksi, beberapa perwakilan warga ditemui Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah, Maria Theresia Ekawati Rahayu.

Sempat terjadi perdebatan sengit di antara mereka saat bertemu di halaman Balai Kota Surabaya. Dan Pemkot berjanji akan membahas persoalan ini minggu depan. “Minggu depan kita akan mengundang warga untuk bertemu dengan kita,” kata Yayuk.

Mendapatkan janji itu wargapun membubarkan diri dan akan kembali minggu depan.