Rumah warga di Desa Watubonang, Badegan, Ponorogo, yang ditinggal pemiliknya pindah ke Malang karena termakan isu kiamat, Rabu (13/3/2019).

Lestari-Suad Bagio,

Wartawan Surabaya Pagi

Ini bukti masyarakat di Jawa Timur gampang digoyang isu tak jelas. Padahal, Jawa Timur dikenal sebagai daerah santri. Seperti terlihat di Ponorogo yang dipimpin Ipong Muchlissoni, politisi Partai Nasdem. Hanya lantaran isu kiamat segera tiba, puluhan warga Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, bedol desa. Mereka ramai-ramai pindah ke Malang. Kejadian ini menjadi heboh dan viral di media sosial.

Dalam satu bulan ini, sudah sudah ada 16 KK yang terdiri dari 52 warga Desa Watubonang meninggalkan desa. Dari 52 warga, 22 diantaranya anak-anak. Bahkan beberapa warga ada yang sampai menjual harta benda berupa rumah dan tanah. “Semua warga yang pindah ini tidak ada yang pamitan kepada pihak desa, jadi kami juga tidak tahu alasan pastinya seperti apa,” ujar Kepala Dusun Sogi saat ditemu di rumahnya, Rabu 12 Maret 2019.

Sogi memaparkan meskipun ia mengetahui ada warga yang menjual tanah dan rumah, namun ia merasa tidak memiliki hak untuk melarang warganya menjual harta bendanya. Apalagi setelah puluhan warga yang pindah ini diketahui ingin menuntut ilmu di pondok pesantren.

Ia menuturkan puluhan warga yang pindah ini merupakan jemaah pengajian yang ada di desanya. Namun ia menilai tidak ada yang aneh dalam jamaah pengajian tersebut, semua seperti pengajian pada umumnya. “Warga pengajian ini juga biasa saja, membaur dengan masyarakat, masalahnya baru tiga tahunan ini pengajian ini diadakan,” terang dia.

Namun Sogi menyayangkan sikap warga yang pindah dengan mengajak semua saudara hingga anak-anak untuk ikut. Ia takut jika mereka yang sudah menjual harta bendanya kehabisan bekal. Dari data yang ia himpun ada tiga KK yang telah menjual rumah dan tanah, sisanya masih meninggalkan harta benda di desanya. “Pada saat saya tanya kenapa dijual, mereka bilangnya hanya punya rumah dan tanah, sehingga ya itu yang mereka jual untuk bekal pergi mondok,” terangnya.

Sampai saat ini puluhan warga tersebut tidak ada yang mengurus surat kepindahan. Sehingga semua warga tersebut masih tercatat sebagai warga Watubonang.

Sementara itu Camat Kecamatan Badegan, Ringga DH Irawan membenarkan adanya sejumlah warga yang tiba-tiba meninggalkan desa dengan isu akan terjadi kiamat. Saat ini ia bersama Babinsa dan Babinkantibmas masih melakukan penyelidikan terhadapa isu yang berkembang. “Ini isu sensitif, saat ini kami masih mendata siapa saja yang pindah dan alasannya apa, mengingat masih ada 200 jemaah pengajian di desa tersebut,” ungkapnya.

Jamaah Musa

Informasi yang diperoleh, 52 warga Ponorogo yang pindah massal ke Malang akibat doktrin kiamat dari kelompok pengajian. Mereka mengaji di Padepokan Gunung Pengging di Desa Watubonang, Badegan, Ponorogo. Saat melihat kondisi padepokan tersebut, bangunan itu berdiri di atas tanah berukuran 96 meter persegi. Terdapat tiga bangunan yang terdiri dari aula besar, surau seperti rumah panggung serta gazebo.

Di dalam surau, pengimaman berada di atas. Dan ada poster bertuliskan Musa AS, Pulausari, Kesambon, Kabupaten Malang. Tidak ada aktifitas apapun. Hanya ada dua orang selesai melakukan salat di lokasi tersebut. "Saya di sini mencari kabar teman saya. Kok juga ikut hijrah. lha sudah tutup padepokannnya," ucap salah seorang pria yang ditemui di lokasi. Ada juga yang menyebut aliran yang mendoktrin kiamat ini adalah Thoriqoh Muso.

Bupati Ipong Kaget

Sementara itu, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni sudah mendengar kabar warganya yang pindah masaal ke Malang, lantaran isu kiamat. Dia pun geleng-geleng kepala dan prihatin karena masih ada warganya yang percaya dengan hal-hal yang tidak masuk akal.

"Prihatin, masih ada yang percaya hal-hal begitu. Jelas itu nggak masuk akal. Sesungguhnya kita sudah melakukan pembinaan sekaligus memberikan pemahaman. Tapi ya sulit, mereka terlanjur percaya dan meyakini," kata Ipong saat dikonfirmasi, Selasa (13/3/2019).

Ipong mengatakan, agar isu ini tidak semakin meluas pihaknya akan segera berkoordinasi dengan MUI dan ormas keagamaan untuk melakukan pembinaan.

"Ya kita terus mengadakan pembinaan pada masyarakat yang belum kena pengaruh ini. Nanti akan berkoordinasi dgn MUI dan ormas keagamaan untuk turun melakukan pembinaan," ujar Ketua Bappilu Partai Nasdem Jatim ini.

Dia menambahkan, menurutnya agar isu tersebut tidak semakin berkembang di Jawa Timur, menurutnya perlu dilakukan upaya yang serius dari ormas keagamaan, MUI, Pemprov Jatim, Pemkab Malang untuk menangani pusat ajaran tersebut di Kasembon, Malang. n