Petani rumput laut memeriksa tanaman rumput laut

SURABAYAPAGI.com - Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (Astruli) berharap produksi rumput laut Indonesia bisa meningkat hingga dua kali lipat dari kondisi saat ini.

Sekretaris Jenderal Astruli Adrian Setiadi menyebutkan saat ini produksi rumput laut nasional sudah sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan industri.

“Berapapun target dari pemerintah harapan kami adalah double dari [produksi] 2018 karena barang sangat kurang,” ujar Adrian, Selasa (12/3/2019).

Seperti diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi rumput laut bisa mencapai 11,1 juta ton pada 2018 dan 11,8 juta ton pada 2019. Adapun realisasi produksi rumput laut di mencapai 7,567 per kuartal III/2018.

Tidak sebandingnya produksi rumput laut dengan kebutuhan industri menurutnya tercermin dari harga bahan baku (eucheuma cotonii) yang melompat tinggi ke lebel Rp26.000 per kilogram dari posisi normalnya sekitar Rp17.000 per kilogram.

Beroperasinya salah satu pabrik rumput laut penanaman modal asing yakni Biota Laut Ganggang ditengarai menjadi penyebabnya. Pasalnya, dari 204.078,38 ton kebutuhan rumput laut kering industri, sekitar 50.000 ton diserap oleh BLG.

Adapun dari sisi hulu, pertumbuhan produksi rumput laut dinilai tidak secepat pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri.

Dalam kesempatan berbeda, Sasmoyo yang merupakan Direktur Utama Indonusa Algaemas Prima, salah satu industri rumput laut dalam negeri juga menyampaikan hal yang sama.

Hadirnya perusahaan penanaman modal asing yang bergerak di industri awal rumput laut dinilai menjadi salah satu penyebab peningkatan harga bahan baku rumput laut di dalam negeri.

Terkait hal ini, dia menyebutkan pihaknya tidak anti terhadap investasi asing yang meramaikan industri rumput laut dalam negeri. Namun, penanaman modal asing seharusnya tidak menyentuh segmen yang selama ini dikerjakan oleh industri kecil menengah dalam negeri yang mengubah rumput laut menjadi alkali treated cottoni (ATC) chips.

“Mestinya itu hanya boleh dilakukan oleh industri menengah kecil tetapi justeru pabrik [investasi] China yang dua itu memproduksi itu sehingga mematikan banyak pangsa pasar industri menengah kecil,” ujarnya.

Menurut Sasmoyo, industri rumput laut seperti BLG yang bermodal kuat seharusnya bisa mengisi segmen berikutnya, yakni yang mengubah bahan hasil produksi industri menengah kecil berupa chips menjadi produk akhir.

Dengan demikian, persaingan untuk mendapatkan bahan baku bisa menjadi lebih longgar.