Rangga Putra-Hermi,

Tim Wartawan Surabaya Pagi

Sisa dua tahun menjadi Walikota Surabaya, Tri Rismaharini terus menggenjot pembangunan infrastruktur. Mulai proyek bozem di Bundaran PTC (Pakuwon Trade Center), underpass Bundaran Satelit, proyek Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT), hingga proyek kereta gantung (cable car) di kawasan pesisir Kenjeran. Terbaru, wanita yang telah menjadi kader PDIP itu bakal membangun Alun-alun di pusat kota yang terintegrasi dengan kompleks Balai Pemuda. Di sisi lain, Tri Rismaharini juga kerap mendapat penghargaan (award) dari dalam negeri maupun internasional, seperti Online Populer City Guangzhou International Awards pada akhir 2018 lalu.

Namun, kebijakan-kebijakan Tri Rismaharini selama dua periode sebagai Walikota Surabaya, dinilai sejumlah pihak lebih menguntungkan pengusaha properti (pengembang) ketimbang rakyat kecil.

------

Kritikan itu dilontarkan oleh anggota DPRD Kota Surabaya M. Mahmud, budayawan dan pakar ekonomi Tjuk Sukiadi, dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Ucu Martanto, dan pakar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Putu Rudi Setiawan. Sedang Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jatim, Danny Wachid, justru memuji-muji Walikota Risma. Sumber-sumber tersebut dihubungi Surabaya Pagi secara terpisah, Jumat (15/3/2019).

Machmud menilai selama delapan memimpin Surabaya, Tri Rismaharini hanya memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Padahal, menurut Machmud, banyak aspek pembangunan lain yang juga tak kalah penting. "Dia (Risma) itu seakan menomorsatukan taman, yang lain nomor sekian. Dia suka mengadopsi infrastrukstur di luar negeri. Pembangunan alun-alun kota itu bakal menimbulkan masalah baru, misalnya boleh buka parkir dan jualan," tutur anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya ini.

Machmud juga menyoroti pembangunan JLLB dan JLLT yang yang dinilai menguntungkan para pengembang. Padahal, dana pembangunannya berasal dari APBD. Seperti di ruas jalan di Surabaya barat, yang pembangunannya lebih banyak menguntungkan pihak pengembang dan para penghuninya. Di antaranya di kawasan Citraland dan Pakuwon.

Anti Kritik

Hal senada diungkapkan Tjuk Sukiadi. Pria yang dikenal sebagai budayawan dan pakar ekonomi dari Unair ini mengkritik Tri Rismaharini yang dinilainya anti-ktirik. Menurut dia, mestinya Risma bisa mendengarkan kritik dan saran dari orang-orang di sekelilingnya maupun masyarakat. Sebelum memutuskan sesuatu, sambung Tjuk, wali kota hendaknya berkonsultasi lebih dahulu dengan yang lebih ahli.

Ia mencontohkan Tol Tengah Kota yang bakal dibangun pemerintah pusat untuk mengurasi kemacetan di Surabaya. Sebab, tol ini membentang dari Aloha, Waru hingga Pelabuhan Tanjung Perak. Namun kebijakan ini justru ditolak Risma dengan mengerahkan sejumlah akademisi ITS.

Belum tuntas soal kemacetan di Surabaya, transportasi publik menjadi masalah tersendiri. Proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang dirancang Risma menjadi Kepala Bappeko, gagal diwujudkan meski ia menjadi walikota dua periode. Padahal, sejumlah infastruktur penunjang sudah dibangun Risma, seperti membangun belasan gedung park and ride di beberapa titik. Padahal, untuk membangun gedung-gedung itu menghabiskan dana ABPD ratusan miliar. Paling besar park and ride di Terminal Joyoboyo, yang dianggarkan Rp 217 miliar dari APBD Kota Surabaya.

Alih-alih gagal di proyek MRT, Risma membeli belasan Bus Suroboyo. Namun pengadaan bus ini dinilai tidak menjadi solusi kemacetan di Surabaya dan bukan menjadi alternatif transportasi massal di Surabaya. Terakhir, proyek Alun-Alun Surabaya yang bakal dibangun di Jalan Pemuda 17, seberang Komplek Balai Pemuda.

Kata Tjuk Sukiadi, Risma temperamental sehingga sulit menerima kritik dari pihak luar. "Dia (Tri Rismaharini, red) itu temperamental, bukan contoh yang baik. Dia sulit menerima kritik dari orang-orang yang kritis kepadanya," tandas Tjuk.

Lemah di 3 Bidang

Dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga, Ucu Martanto juga mempunyai pendapat sama dengan Tjuk Sukiadi. Menurut Ucu, pembangunan infrastruktur oleh Wali Kota Tri Rismaharini memang boleh diacungi jempol.

Meski begitu, Wali Kota Risma mendapat rapor merah untuk bidang transportasi publik, sanitasi dan permukiman. Kalau dibandingkan dengan tiga bidang tadi, sambung Ucu, pembangunan Alun-alun kota itu tidak memiliki urgensi yang signifikan. "Memang ada kebijakan tentang transportasi publik. Tapi masih kurang. Saya tidak melihat progres yang luar biasa," papar Ucu.

Menurut Ucu, dengan menyisakan waktu sekitar 1,5 tahun lagi sebagai wali kota, Risma mestinya meninggalkan warisan yang baik untuk dilanjutkan penggantinya kelak.

Problem Vital di Surabaya

Pakar tata kota dari ITS Surabaya, Putu Rudi Setiawan menyebut bahwa proyek alun-alun Surabaya yang kini sudah tahap pelelangan sebagai "penanda" akan berakhirnya masa jabatan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya. "Pembangunan semacam ini bisa-bisa jadi kapital bagi seorang kepala daerah. Dia meninggalkan penanda di akhir masa jabatan. Penanda ini dijadikan mediator untuk mengingat siapa yang membangun. Ini merupakan kosmetik yang diaplikasikan di Surabaya," kata Putu Rudi.

Menurut Putu, masih ada hal lain yang perlu diprioritaskan dari sekedar Alun-alun. Sebab, kota Surabaya masih menghadapi sejumlah masalah vital, seperti kemacetan dan banjir. "Masih ada segudang persoalan yang perlu diselesaikan, seperti transportasi, kemacetan, dan banjir," lanjut Putu.

REI Puji Risma

Ketua REI Jatim Danny Wachid punya pandangan berbeda. Sebagai praktisi bisnis, ia justru mengapresiasi Tri Rismaharani selama memimpin Surabaya. Apalagi, Risma memiliki penghargaan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

"Bu Risma ini memang untuk Surabaya tambah maju, kalau saya lihat bagus dibuktikan dengan penghargaan yang dia dapat. Jadi memang dia ini berprestasi," tandas Wachid dihubungi terpiah, Jumat (15/3/2019).

Lebih lanjut, kata dia, pembangunan di Surabaya memang tumbuh dan belum ada celah kurangnya. "Menurut saya bagus prestasinya (Risma) untuk Surabaya ini", puji dia.

Danny Wachid juga mengakui jika kebijakan Walikota Tri Rismaharini membuat iklim yang baik di bidang properti. Ketika Pemkot Surabaya membangun jalan kawasan, ditunjang dengan infrastruktur yang memadai. "Jadi saya lihat Surabaya belum ada yang kurang dengan kebijakannya. Tidak seperti daerah lain. Memang kota ini sudah maju, menatanya juga beliau bagus dan tambah cantik kotanya. Begitu juga pelayanan publiknya. Ini harus dipertahankan," papar dia.

Ia berharap pengganti Tri Rismaharini nanti jauh lebih baik. "Mudah-mudahan penggantinya Wali kota Surabaya bisa lebih baik karena bu Risma sudah menjabat dua periode," tutupnya. n