Anggota aktivis FORMASI, Alief Bahari saat menunjukan surat yang dilayangkan ke Bupati Kediri

SURABAYAPAGI.com, Kediri - Sejumlah warga Desa Janti Kabupaten Kediri menuding hasil ujian pengangkatan perangkat desa di desanya penuh dengan settingan. Tudingan itu muncul setelah sejumlah peserta yang lolos merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA/sederajat).

Tes pengangkatan perangkat desa di Desa Janti Kecamatan Wates Kabupaten Kediri digelar tanggal 6 maret lalu. Tes dilakukan di Balai Desa Sumberagung, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Hasil tes tersebut baru keluar tanggal 8 Maret lalu dua hari setelah tes dilakukan.

Dari tes itu warga menduga ada kebocoran soal ujian pada tes tulis yang digelar pihak panitia pengangkatan perangkat desa. Pasalnya, empat peserta yang lolos tes tersebut sudah mengalahkan belasan peserta lain yang mayoritas memiliki lulusan Sarjana.

Aktivis FORMASI yang juga menjadi perwakilan warga, Alief Bahari mengaku, kepercayaan warga terkait transparasi proses ujian perangkat desa saat ini semakin menurun. Pasalnya, selain proses yang dianggap banyak settingan, hasil ujian juga tidak bisa keluar secara langsung.

"Kita mencurigai ada kebocoran soal, sebab seluruh peserta yang lolos ini justru hanya lulusan SMA. Bahkan mereka memiliki nilai yang tergolong tinggi diantara peserta lain. Selain itu nilai tes ini keluar baru dua hari kedepan setelah tes," ujarnya.

Lanjut Alief, warga juga meminta pengecekan ulang hasil tes para peserta ujian perangkat. "Kami berikan bukti-bukti agar sebagai acuan. Kita harap bukti ini bisa dijadikan dasar sebagai penundaan pelantikan perangkat," imbuhnya.

Diketahui, ketidakpuasan itu warga bersama aktivis FORMASI melayangkan surat keberatan ke Bupati Kediri yang ditembuskan Camat Wates, Kabag Hukum Pemkab Kediri dan Tim Pengangkatan Perangkat Desa Janti, serta Kepala Desa Janti, Kabupaten Kediri. Mereka berharap dengan surat itu Bupati Kediri melalui Camat Wates dapat melakukan penundaan terkait pelantikan perangkat di desa tersebut. Can