SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Para pembeli unit Apartemen The Frontage yang berharap uangnya kembali, tampaknya sulit terwujud. Pasalnya, uang sebanyak Rp 123 miliar yang telah mereka bayarkan sudah dihabiskan oleh PT Trikarya Graha Utama (TGU), pengembang Kondotel Apartemen The Frontage. Sementara bank milik BUMN dikabarkan tak mau mendanai proyek itu, setelah Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, tersangkut kasus korupsi penjualan aset PT Panca Wira Usaha (PWU). Dampaknya, proyek properti yang menggunakan lahan milik PT PWU (BUMD milik Pemprov Jatim) di Jalan Ahmad Yani Surabaya, mangkrak sejak 2016 lalu.

Saat Surabaya Pagi mendatangi kantor PT TGU di Jalan Dukuh Kupang Barat IA Surabaya, Selasa (19/3/2019), suasananya tampak lengang. Sejumlah motor terlihat parkir di halaman depan. Di bagian dalam kantor, para karyawan bekerja seperti biasa. Di lantai 3 beberap arsitek yang rata-rata masih berusia muda, tampak serius menggambar desain gedung.

Di suatu sudut ruangan para arsitek muda itu, terdapat puluhan dokumen portofolio PT TGU. Sementara di suatu ruangan lain, ada rombongan dari mahasiswa Unair yang hendak melakukan studi.

Tak lama kemudian, Direktur Utama (Dirut) PT Trikarya Graha Utama, Setia Budhijanto menemui Surabaya Pagi. Dirut PT Trikarya Graha Utama (TGU) Setia Budhijanto akhirnya buka suara. Dia meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia tak menampik proyek The Frontage sedang dalam masalah. “Kami masih proses mencari investor. Dalam waktu dekat akan ada (investornya). Proyek The Frontage masih tetap jalan dan direalisasikan. Kami tetap bertanggungjawab," ucap Budi saat ditanya tanggapannya atas somasi dan pengaduan puluhan pembeli ke Komisi C DPRD Jatim.

"Kami minta maaf kepada para pelanggan. Atas kejadian ini, kami masih belum bisa mengembalikan investasinya,” lanjut Budhijanto.

Ditanya soal dana Rp 123 miliar yang telah disetorkan para pembeli, jawaban Setia Budhijanto cukup mengagetkan. Ternyata, dana sebanyak itu telah habis.

Menurut Budhijanto, dana Rp123 miliar dari pembeli itu digunakan untuk membiayai operasional proyek The Frontage, seperti menyewa arsitek profesional kelas dunia, menggaji pekerja, membayar pajak-pajak dan lain sebagainya. "Semua kami kerjakan sesuai aturan undang-undang. Seluruh aturan dan tahapan kami ikuti. Izin-izin kami lengkap," tutur Budhijanto.

Ditanya soal calon investor, Budhijanto tak mau mengungkap. Ia hanya mengatakan proyek The Frontage akan sangat bermanfaat bagi daerah. Soalnya, selain menyerap ratusan pekerja saat berlangsungnya pembangunan, ribuan lapangan pekerjaan bakal tersedia kalau The Frontage berdiri. Selain itu, akan menambah penghasilan daerah dari sektor pajak yang nilainya tidak sedikit.

Mengenai dugaan campur tangan Dahlan Iskan dalam proyek The Frontage, Setia Budhijanto membantah. Dijelaskan, Dahlan Iskan hanya datang saat groundbreaking dengan kapasitasnya sebagai Menteri BUMN. Sedang Asrul Ananda, putra Dahlan, diakuinya pernah menjadi Komisaris PT TGU. Namun, lanjut Budi, sejak Dahlan Iskan terbelit kasus korupsi, Azrul mundur dari kursi komisaris pada tahun 2016. "Jadi, proyek ini tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Dahlan," ungkap Budi.


Kondisi proyek apartemen The Frontage yang mangkrak. (Foto:SP/Hermi)

Lindungi Arif Affandi

Mengenai awal kerja sama dengan PT PWU sewaktu dirutnya Arif Affandi, mantan Wakil Walikota Surabaya, Budhijanto enggan mengungkap. Kristanto, mantan direksi PT TGU Kristanto juga menjamin proyek The Frontage tetap dilanjutkan. Menurut Kristanto, dalam waktu dekat bakal ada investor yang bersedia melanjutkan proyek kerjasama pemerintah dan swasta yang mangkrak tersebut.

"Yang jelas, kami mencari investor yang siap, mampu dan mumpuni," timpal Kristanto, mantan direksi PT TGU, yang menyusul datang ke kantor PT TGU dan mendampingi Budhijanto.

Jika investor sudah ada, maka customer yang telah membeli unit akan dipersilahkan untuk memilih menarik kembali uangnya atau meneruskan investasinya. "Kepentingan pelanggan akan tetap diprioritaskan," tutur Kristanto.

Meski begitu, sumber di kalangan PT TGU dan PT PWU mengungkap bahwa proyek The Frontage berawal ketika PT PWU yang dipimpin Arif Affandi, diberi mandat untuk mengoptimalkan aset daerah yang tidak produktif. Salah satunya aset di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, tepatnya di utara kampus UIN Sunan Ampel dan selatan gedung JX Expo. “Lokasi itu dulunya bekas pabrik kulit Wonocolo, itu aset PWU,” sebut sumber ini yang meminta namanya tak disebut.

Setelah Arif Affandi tak menemukan investor atau developer, hingga kemudian PT TGU yang dipimpin Setia Budhijanto bersedia mengerjakan. Saat itu,

Bank BTN yang merupakan bank milik pemerintah (BUMN) menyanggupi pendanaan proyek The Frontage sebesar Rp 1,5 triliun. Saat itu, Dahlan Iskan masih Menteri BUMN.

Namun belakangan, Bank BTN membatalkan rencana pendanaan tersebut, setelah mengetahui Dahlan Iskan terjerat kasus korupsi aset PT PWU. Ini yang kemudian membuat kelimpungan PT TGU hingga proyek tak berjalan hingga saat ini. “Jadi awal masalahnya di situ,” tukas sumber ini.

Arif Affandi tak Merespon

Sementara itu, Arif Affandi yang dikonfirmasi melalui ponselnya 08123033994 tidak merespon panggilan Surabaya Pagi, Selasa (19/3/2019). Padahal, terdengar nada sambung. Begitu pula dikonfirmasi melalu pesan WA, juga tak menjawab. Pesan konfirmasi tersebut terkirim ke WA-nya Arif Affandi pukul 16.38 WIB. Meski terkirim dengan tanda centang dua, namun tidak dibaca oleh Arif Affandi.

Isi konfirmasi yang dikirim ke WA Arif Affandi berisi, ”Pak Pak Arif Afandi, saya Rangga dari Harian Surabaya Pagi, ingin wawancara dengan bapak terkait beberapa hal berikut ini:

1. Informasi yg kita peroleh, proyek the Frontage ini karena ada dorongan dari Pak DI. Apa benar?

2. Informasinya proyek the Frontage jual/kerjasama atas aset pemprov/negara ke Waskita Karya? Kok bisa? Padahal Ini aset negara?

3. Lalu Kemana saja uang nasabah yg mencapai Rp 123 miliar?

4. Smntra kini, bgmana nasib pembangunan proyek the Frontage menurut versi Mas Arif Afandi yg menyetujui aset negara untuk proyek Apartemen.

5. Tanah yg pak Arif kerjasamakan dgn PT TGU adalah tanah negara. Apa dasar pak Arif saat itu sebagai Dirut PWU mengijinkan tanah negara dibangun bangunan komersial, antara lain dibangun apartemen yg strata tittle?

6. Dari informasi yg kita dpt, Pak Arif dgn pak Setijo budhianto sama-sama orang dekat Pak DI, benarkah pembangunan kondotel di tanah negara, karena dorongan Pak DI, yg saat itu mnjabat Menteri BUMN?

7. Saat pak Arif sebagai dirut PT PWU, dan tandatangan dgn PT TGU, apa tidak konsultasi ke biro hukum pemprov bahwa itu melanggar hukum?

8. Lantas Kemana saja dana konsumen yg sdh pesan unit yang mencapai Rp 123 miliar sekarang berada?”


Kantor marketing The Frontage di Jalan Ronggolawe juga sepi tak berpenghuni.

Kantor Pemasaran Sepi

Surabaya Pagi juga mengecek kantor pemasaran The Frontage di belakang Hotel Grand Mirama Surabaya, Selasa (19/3/2019) kemarin. Kantor ini juga sepi, tidak ada aktivitas apa-apa. Setelah menunggu cukup lama, kemudian ditemui oleh Lilik yang tinggal di kantor tersebut.

Ia mengaku kerja serabutan. Dikatakannya, kadang sebagai resepsionis, tukang bersih-bersih, hingga melayani tamu kalau ada yang datang. Menurut Lilik, proyek The Frontage di Jl Ahmad Yani sudah tidak lagi proses pembangunan. Bahkan, tenaga marketingnya sudah keluar (resign) semua.

"Sudah tidak ada pembagunan di sana, karena dananya sudah tidak ada dan marketingnya sudah keluar semua. Tidak jualan semenjak 2016," cerita Lilik yang mengaku tinggal di kantor pemasaran The Frontage bersama security. “Lebih jelasnya tanya ke kantor pusat mas,” pungkasnya.