•   Rabu, 17 Juli 2019
Pilpres 2019

Gak Perlu Baper

( words)


Analisis Pakar Politik di Surabaya, Menyebut Hasil Survei Capres-Cawapres tak Pengaruhi Pemilih. Tapi Hanya sebagai ”Deteksi Dini”

Rangga Putra, Hermi, Riko Abdiono
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Hasil survei terbaru Litbang Kompas yang mengungkap jarak elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno hanya 11,8 persen, membuat gempat politik nasional. Bahkan, hingga kini masih menjadi polemik panas. Padahal, lembaga survei lainnya mengunggulkan pasangan capres-cawapres nomor 01 itu dengan selisih 20 persen. Meski beda angka, namun hasil survei itu memperlihatkan persaingan antar kedua pasangan calon (paslon) semakin kompetitif dan dinamis. Apalagi, hari pencoblosan 17 April 2019 kian dekat. Sedang hasil survei dinilai tak banyak memberi pengaruh ke pemilih. Tapi hanya sebagai peringatan dini bagi tim pemenangan kubu Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi. Karena itu, kedua belah pihak tak perlu baper (bawa perasaan). Justru tim pemenangan dua kubu makin tertantang, termasuk Tim Kampanye Daerah (TKD) Jatim Jokowi-Ma’ruf maupun Badan Pemenangan Provinsi (BPP) Jatim Prabowo-Sandi.
------
Demikian kesimpulan dari analisis pakar politik di Surabaya maupun tim pemenangan dua kubu di Jatim, yang dihubungi terpisah oleh Surabaya Pagi, Jumat (23/3/2019). Mereka itu Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam; Peneliti senior Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdeham) Surabaya, Aribowo; Analis Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Yayan Sakti Sutyandaru; Pakar Sosiologi Politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Agus Mahfud Fauzi, Ketua TKD Jokowi-Ma’ruf Jatim, Machfud Arifin; dan Ketua Harian BPP Prabowo-Sandi Jatim, Anwar Sadad.
Menurut Surokim, dalam membaca hasil survei harus melihat periode waktu. Sebab hal itu akan bisa mengubah elektabilitas dan perilaku pemilih. Perubahan hasil survei capres-cawapres itu harus dilihat sebagai tren. Apakah tren capres-cawapres itu elektabilitasnya naik atau turun.
“Kalau ada perbedaan hasil survei tidak perlu resah dan baper. Justru hasil dari survei itu akan menjadi manfaat dua kubu karena menjadi alat deteksi dini. Kalau mereka menyadari bahwa H-1 saja, tren pemilih Indonesia rata-rata masih 10-15% yang undecided voter (belum tentukan pilihan), bahkan bisa lebih," ungkap Dekan Fisib Universitas Trunojoyo Madura ini.
Dari 2.000 responden, 49,2% memilih pasangan nomor urut 01. Sedangkan 37,4% responden menjatuhkan pilihannya ke Prabowo-Sandi. Selisihnya Cuma 11,8 persen! Angka ini berbeda dengan survei Litbang Kompas pada Oktober 2018. Ketika itu, Jokowi-Ma’ruf melesat jauh meninggalkan Prabowo-Sandi. Perolehan suaranya 52,6% berbanding 32,7%.
Khusus di Jatim, survei Litbang Kompas pada 22 Februari-5 Maret 2019 itu menunjukkan 57,1 persen untuk Jokowi-Ma’ruf dan 27,8 persen untuk Prabowo-Sandiaga. Sebelumnya, survei yang sama pada bulan Oktober 2018 menunjukkan 69,6 persen untuk paslon 01 dan 18,8 persen elektabilitas untuk paslon 02. Artinya, selisih elektabilitas kedua paslon semakin menipis.
Hasil survei Litbang Kompas itu berbeda dengan lembaga survei lain, yang umumnya Jokowi-Ma’ruf menang dengan selisih sekitar 20 pesen dari Prabowo-Sandi. Selengkapnya lihat grafis.
Meski begitu, Surokhim menilai perbedaan hasil itu hal yang lumrah, dikarenakan perilaku masyarakat sangatlah kompleks dengan pengaruh yang bermacam-macam. "Pengaruhnya tidak hanya faktor teknis (metode survei, red) tapi juga non teknis seperti disparitas kota dan desa, ekonomi, gender. Periode waktu survei juga bisa mengubat elektabilitas dan pandangan politik masyarakat," papar dia.
"Jadi tidak perlu baper, siapapun yang membaca survey, head to head dengan dua calon ya seperti sekarang ini," lanjut Surokim.
Tak Pengaruhi Pilihan
Aribowo juga sependapat dengan Surokim. Dosen Fisip Unair ini menilai hasil survei itu tidak pernah memengaruhi pemilih. "Jadi hasil survei yang dipublish itu jarang sekali mempengaruhi para pemilih," sebut Aribowo dihubungi terpisah, Jumat (22/3) kemarin.
Menurut dia, survei itu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Sejak awal ada kecendurungan elektabilitas Jokowi turun, sedangkan Prabowo naik. Bisa jadi Litbang Kompas dalam surveinya lebih detail daripada lembaga lainnya atau sebaliknya, sehingga mempengaruhi hasil.
“Sebenarnya itu tidaklah masalah apakah hasil survei itu naik atau turun. Yang menentukan itu saat hari pemilihan 17 April,” ujarnya. Aribowo melanjutkan, hasil survei tidak akan memengaruhi terhadap pemilih perkotaan, milenial maupun emak-emak.
Sandi Effect
Yayan Sakti Sutyandaru punya pandangan lain. Pengamat politik asal Unair ini menilai menipisnya selisih hasil survei Litbang Kompas itu cukup signifikan. Menurutnya, ini berkat Sandiaga Uno, Cawapres Prabowo. Yayan menyebutnya dengan Sandi Effect.
Menurut Yayan, dalam sebuah kontestasi Pilpres, penampilan (performance), kapasitas dan popularitas merupakan satu paket yang harus dimiliki oleh para calon. Dalam hal ini, paket yang dimiliki cawapres 02 Sandiaga Uno lebih unggul daripada cawapres 01 KH Ma’ruf Amin.
"Ini kelihatan njomplang. Sandi sukses meraih simpati para swing voters yang kebanyakan dari kaum milenial. Di sisi lain, Ma’ruf Amin lebih dekat dengan pemilih tradisional. Jadi (perolehan) suaranya tidak berubah," cetus Yayan kepada Surabaya Pagi, kemarin.
Oleh sebab itu, sambung Yayan, Jokowi mesti lebih intens lagi merangkul lagi anak-anak muda. Pasalnya, belakangan Jokowi kerap disibukkan dengan tugas-tugas kenegaraan. Yayan memberi contoh masa kampanye awal. "Yang keliling kan Ma’ruf Amin. Ya itu tadi. Dia hanya ke pemilih tradisional. Sementara di sisi lain, Sandi rajin turun ke daerah-daerah guna merayu swing voters. Jokowi kampanye dulu ada yang pakai lagu-lagu. Itu orang banya suka," sebut Yayan.
Walau demikian, menurut Yayan semua survei yang dipublikasikan saat ini sejatinya belum bisa mencerminkan perilaku pemilih pada hari-H pencoblosan. Soalnya, semakin dekat hari-H, semakin dinamis perubahan perilaku pemilih.
"Nanti lihat survei yang dipublikasikan pada masa tenang. Itu bsa menjadi patokan," tuturnya.
Bergantung Relawan
Pengamat politik Unesa Agus Mahfud juga menyatakan hal sama. Menurut Agus, cawapres 02 Sandiaga Uno jauh lebih unggul dari Ma’ruf Amin di mata undecided voters. Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari beberapa faktor yang mempengaruhi seperti debat cawapres lalu. "Kreasi kubu 02 untuk meraih simpati undecided dipromosikan dengan lebih baik. Misalnya dalam debat (cawapres) kemarin. Sebetulnya Sandi bisa menyerang, tapi tidak dilakukannya. Hal ini kemungkinan besar membuat publik bersimpati padanya," papar mantan komisioner KPU Jatim ini.
Menurut Agus, dengan waktu satu bulan lagi, peran relawan, tim pemenangan sekaligus paslon, harus benar-benar bisa membujuk para calon pemilih.
"Waktu satu bulan ini tergantung bagaimana masing-masing paslon meraih simpati dalam proses kampanye," tuturnya.
Tim Prabowo Bersyukur
Ketua Harian BPPPrabowo-Sandi Jatim Anwar Sadad mengaku bersyukur dengan Litbang Kompas yang menunjukkan selisih hasil survei yang terus menipis. Menurut Anwar, hal itu tidak terlepas dari kunjungan Prabowo ke daerah-daerah di Jatim seperti, Pamekasan dan Sampang. Selain Prabowo, Sandiaga Uno juga rajin turun ke daerah-daerah.
Menurut pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim ini, paslon 02 membidik pemilih rasional yang mengedepankan proses analisa informasi alih-alih emosional. Pemilih rasional sendiri mengutamakan komunikasi yang aktif dan terbuka. Hal inilah yang bisa membuat popularitas Sandiaga meroket di mata milenial.
Selain itu, Anwar memuji militansi para relawan sekaligus simpatisan Prabowo-Sandi. Oleh sebab itu, dia berharap militansi tersebut semakin menguat hingga hari-H pencoblosan. "Kami punya 70 organisasi relawan yang terdaftar. Itu belum yang simpatisan, yang jalan sendiri. Kami semakin yakin pada hari-H pencoblosan nanti terjadi crossing (suara)," ungkap Anwar optimis.
Strategi TKD Jatim
Sementara itu, Ketua TKD Jokowi-KH Ma’ruf Amin Jatim, Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin menanggapi hasil survei terbaru Litbang Kompas, yang dipublikasikan Rabu (20/3/2019) lalu. “Tidak apa-apa, buat kami survei ini memacu TKD Jatim agar lebih bersemangat lagi. Ini harus dijaga dan dipertebal. Kami sudah punya rumusan untuk melangkah ke depan seperti apa. Kami berharap betul seluruh ketua partai Koalisi Indonesia Kerja, para caleg, relawan dan tokoh masyarakat memenangkan Pak Jokowi di Jatim,” kata mantan Kapolda Jatim ini.
Dalam sisa waktu yang kurang dari 30 hari ini pun, pihaknya akan mengoptimalkan kerja pemenangan dengan rapat terbuka serta memperkuat strategi door to door, yang dijalankan bersama para caleg dan relawan. “Tidak ada kata lain, harus gencar turun ke bawah. Waktu sudah sangat mepet dan pendek. Pada 24 Maret ada tahapan kampanye terbuka. Semoga kampanye terbuka itu bisa meningkatkan suara Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf di Jatim. Semburan fitnah harus dilawan,” tegasnya. n

Berita Populer