Sejumlah aktor dari Sanggar Lidi Surabaya mementaskan pertunjukan berjudul Mata Adil Mata Takdir karya dan Sutradara Toteng MT Rusmawan di gedung pertunjukan Cak Durasim Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/04).

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Di tengah gegap gempita menuju penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan, Sangggar Lidi Surabaya kembali menggelar kegiatan Dhanna Seni Untuk Negeri IV. Dengan mengusung naskah teater berjudul Mata Adil Mata Takdir, Karya & Sutradara Totenk MT Rusmawan, yang dipentaskan di Gedung Kesenian Cak Durasim Komplek Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Rabu (10/04/2019).

Dengan membawakan 13 adegan yang akan diperankan oleh 35 aktor, pria kelahiran Kota Bandung 32 tahun silam ini ingin memberikan sebuah pesan imajinatif, yaitu sebuah keadaan bangsa yang akan terkena dampak atau akibat jika telah hilang sikap toleransi antar masyarakatnya.

Sutradara Totenk MT Rusmawan, mengatakan Secara sadar atau tidak, dalam setiap kontestasi politik, pilihan atau pandangan kita akkan terbelah. Dan hal tersebut sangatlah wajar dalam dinamika demokrasi, namun sebagai bahan mawas dini naskah ini saya tawarkan kepada masyarakat. Sebagai pengingat agar segala macam perbedaan, tidak menjadi embrio dari perpecahan.

Dengan pertunjukan berdurasi 75 menit, penonton akan disuguhkan sebuah tragedi. Dimana terdapat sosok tokoh perempuan bemama Mata, adalah terdakwa yang divonis hukuman mati setelah mendapat tuduhan sebagai dalang atau aktor intelektual dari terjadinya perang saudara.

“Mata adalah sosok yang diciptakan sebagai tokoh yang membawakan kabar kebenaran dari permainan busuk para politisi yang menjual harga diri bangsanya kepada para investor asing. Oleh karena itu, mata seolah menjadi public enemy bagi para penguasa negeri,” lanjutnya.

Mata sendiri diambil dari sosok tokoh yang mempunyai nama panggung Matahari. Mata Hari adalah Margaretha Geertruida "Grietje" Zelle (7 Agustus 1876 – 15 Oktober 1917). Ia adalah seorang penari eksotis dan pelacur yang dihukum tembak mati di Prancis atas tuduhan menjadi mata-mata saat Perang Dunia I.

Tak berhenti sampai disitu, tambahnya, dalam naskah ini juga diangkat berbagai polemik peristiwa sosial yang tengah terjadi di masyarakat di tahun politik ini. Adanya kebijakan perpu yang memerintahkan bahwa setiap pemuka agama berhak mengadili setiap tindakan kriminal yang dilakukan oleh masyarakat, tutupnya. Jul