•   Rabu, 17 Juli 2019
Surabaya

Proyek Risma yang Disusui APBD Rp 10 Miliar

( words)
Foto: SP/HERMI, Suroboyo Bus saat melintas di froantage road Jl Ahmad Yani Surabaya, Rabu (10/4/2019).


Suroboyo Bus Setelah Setahun Beroperasi

Saat ini Pemkot Surabaya mengoperasikan 20 unit Suroboyo Bus sejak peluncurannya pada 7 April 2018 oleh Walikota Tri Rismaharini. Keberadaan angkutan ini menjadi polemik, lantaran dinilai bukan menjadi solusi kemacetan di kota Surabaya. Justru Suroboyo Bus seakan-akan menjadi proyek pencitraan, lantaran Walikota gagal menghadirkan angkutan transportasi massal cepat berupa trem maupun monorel. Benarkah demikian?
-------------
Hermi,
Wartawan Surabaya Pagi
Suroboyo Bus tampaknya tak diproyeksi untuk mendulang pendapatan daerah. Setahun beroperasi, Dinas Perhubungan (Dishub) tak memungut tarif dengan uang, seperti angkutan pada umumnya. Sampai saat ini, setiap penumpang yang ingin menikmati fasilitas Suroboyo Bus hanya membayar dengan botol bekas. Yakni, tiga botol ukuran besar dan lima botol bekas ukuran kecil.
Tak heran, cara ini membuat beban biaya operasional Suroboyo Bus tak sebanding (gak nyucuk) dengan pendapatan yang diterima. Dimas, pengawas Suroboyo Bus, yang ditemui Surabaya Pagi mengungkapkan setiap unit Suroboyo Bus membutuhkan operasional bahan bakar minyak (BBM) sekitar 800 ribu sampai Rp 1 juta. Belum lagi untuk kebutuhan operasional lainnya, seperti service bus dan penggantian sparepart.
“Jika 10 unit bus saja, sudah menghabiskan Rp 10 juta per harinya untuk BBM. Sebulan sudah Rp 300 juta. Tinggal dikalikan jika saat ini ada 20 bus. Sedang botol plastik yang terkumpulkan setiap hari rata-rata 100 kg hingga 150 kg,” ungkap Dimas, kemarin (10/4/2019).
Botol-botol itu nantinya dikumpulkan ke Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH). Berdasarkan informasi di DKRTH, jumlah plastik botol yang didapatkan lebih dari 100 ton per tahunnya. Hanya saja, Pemkot belum menentukan nilai jual plastik tersebut.
Jika diestimasi dari harga pasaran, setiap botol hanya dihargai Rp 1000 per kg. Jika didapati 100 ton botol yang didapat dari 10 unit bus, hanya mendapatkan Rp 100 juta per tahunnya.
“Sangat berbeda jauh dengan kebutuhan operasional BBM, mas. Sedang rata-rata penumpang tiap hari 5.000 sampai 6.000 penumpang dari jam 6 pagi hingga jam 10 malam,” papar Dimas.
Disubdisi APBD
Meski begitu, informasi yang diperoleh Surabaya Pagi, operasional Suroboyo Bus masih disubsidi oleh APBD kota Surabaya. Dalam setahun, ada anggaran sekitar Rp 10 miliar yang yang digunakan untuk membayar gaji driver dan karyawan bus, termasuk BBM solar.
Kepala Seksi Angkutan Jalan dan Penumpang Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Frangky Iwanus, membenarkan adanya subsidi itu. Sebab, biaya operasional bus tidak sepadan dengan pendapatan yang diperoleh. "Jika ngomong pendapatan tidak sesuai dengan biaya operasional, ya pasti. Misalkan pakai botol plastik sekilo dihargai Rp 1 ribu dan saya bayar 3 botol yang 1,5 liter dan dijual berapa per kg ? Gak ada Rp 1.000 karena tidak sampai sekilo. Dengan biaya BBM segitu, biaya tenaga kerjanya, biaya service rutin per 10 ribu kilo meter harus pergantian oli. Belum nanti ada yang rusak dan pergantian sparepart. Ya gak masuk," papar Frangky ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/4/2019).
Menurut dia, Suroboyo Bus bukan untuk profit orinted, tetapi untuk hajat orang banyak dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat. "Transportasi pelayanan gak bisa digabungkan dengan profit, itu sulit. Hampir semuanya bersubsidi. Contoh kereta yang BUMN harusnya kontribusi ke negara tapi kenapa negara subsidi ke kereta itu," jelas Frangky.
Menanggapi anggapan Suroboyo Bus sebagai pencitraan karena gagal mewujudkan trem dan monorel, Frangky membantah. Menurutnya, armada bus yang dihadirkan itu murni untuk melayani masyarakat. “Betul dulunya rencana trem dan MRT itu yang koridor utara selatan dan LRT timur barat berawal dari hal tersebut. Namun karena ada kendala yang belum bisa direalisasikan sehingga Suroboyo Bus hadir untuk pelayanan masyarakat di koridor tersebut,” tandasnya.
Meski begitu, sambung Frangky, nanti ke depan bakal ada sektor-sektor sumber pendapatan di luar itu yang dapat dikelola. Dishub masih menjajaki dan menggali sumber potensi mana yang bisa menutupi kekuarangan operasional. "Doakan," cetus dia.
Jalur Baru
Untuk tahun ini, Franky menyampaikan akan berencana ada jalur rute MERR sehingga nantinya bakal ada 3 jalur. Jalur Selatan Utara (Purabaya-Jembatan Merah), Timur Barat (ITS-UNESA) dan Jalur MERR. "Rute MERR, tidak ada yang melayanin rute angkutan umum, kita nanti perintis. Di sana kita coba dengan Suroboyo Bus. Mungkin jumlahnya tak banyak. Kita lihat animo masyarakat, kalau memang bagus, tahun depan ajukan anggaran," terangnya
Dari jalur yang rencana itu, Frangky menyebutkan Dishub akan terus berbenah dan mengedepankan pelayanan dan evaluasi yang perlu diperbaiki. Inginnya, Surabaya terhubung dan mengoptimalkan yang ada saat ini. "Intinya masyarakat Surabaya itu dimanapun tempatnya kita bisa layanin dan akomodir perjalanannya dengan transportasi yang lebih layak," jelasnya.
Tidak Efektif
Pakar transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya , Machsus, S.T, M.T menyoroti kebijakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terkait pengadaan Suroboyo Bus yang digadang-gadang sebagai angkutan massal. Menurutnya Suroboyo Bus sejauh ini belum ada pergerakan signifikan untuk mengatasi kemacetan Surabaya.
“Tidak terlalu efektif ya,Suroboyo Bus itu bisa dilihat itu. Di hari-hari kerja kok kurang. Saya beberapa kali papasan itu tidak banyak juga penumpangnya, ramenya malah hari minggu orang-orang untuk wisata ,” bebernya.
Dia menjelaskan sepinya minat Suroboyo Bus tersebut karena kurang praktisnya dalam menaikinya. Dengan pembayaran non tunai dirasa membuat banyak warga enggan menaikinya, apalagi secara ketepatan waktu belum teruji.
“Warga juga kesulitan kalau pembayarannya satu rigit menggunakan plastik itu, ketika lupa bawa plastik kan gak bisa naik. Makanya itu kan salah satunya, kemudian angkutan umum itu kan mestinya ketepatan waktu itu masih problem di Surabaya,” pungkasnya. n

Berita Populer