Mata uang Bath

SURABAYAPAGI.com - Berhasil beroperasi di Thailand, PT Investree Radhika Jaya telah menyalurkan pembiayaan kepada satu usaha kecil dan menengah (UKM) di negeri gajah putih ini. Co-Founder & CEO Investree Adrian Gunadi menyebut pembiayaan kepada UKM ini senilai 10 juta bath Thailand.

"Thailand sudah luncurkan pada akhir Maret dan awal April sudah ada yang apply, diproses, dan sudah tanda tangan dengan salah satu debitur. Nama perusahaan di sana masih Investree karena kita kerja sama dengan mitra lokal dan kita sebagai pemegang saham dominan," ujar Adrian.

Lanjut Adrian bahasa yang digunakan sudah menggunakan Bahasa Thailand. Adapun skema bisnis yang diterapkan di Thailand dengan menggandeng mitra strategis dengan salah satu agregator cloud accounting provider. Mitra pertama Investree di Thailand ini memiliki akses ke hampir 4.000 UKM di sana.

Dalam menjalankan bisnis di Thailand, Investree tetap membidik pinjaman ke sektor produktif. Sama halnya dengan di Indonesia, produk pinjaman yang ditawarkan adalah invoice financing, buyer financing, working capital term, dan online seller financing.

Adapun target pemberi pinjaman atau lender, Investree Thailand juga membidik institusi. Sedangkan bunga yang ditawarkan kepada peminjam atau borrower atau yang akan diterima oleh lender nantinya disesuaikan dengan ketentuan regulator Thailand maksimal 15 persen.

Adrian mengaku Investree Thailand sudah masuk dalam sandbox Bank of Thailand sebagai regulator. Artinya regulator Thailand sudah mengetahui bahwa Investree sudah beroperasi.

Adrian belum menyatakan target pinjaman yang akan disalurkan sepanjang 2019 di Thailand, lantaran masih dalam tahap finalisasi.

Pastinya, Adrian mengaku tahun ini akan memperluas kerja sama kemitraan dengan agregator yang memiliki ekosistem UKM di Thailand. Saat ini pihaknya tengah melakukan komunikasi dengan salah satu perusahaan semen terbesar di negeri ini. Selain itu akan membidik segmen telekomunikasi serta makanan dan minuman.

Adapun pesaing terdekat Investree di Thailand adalah fintech p2p lending yakni Peer Power. Selain itu, Investree juga akan menyiapkan strategi untuk memasuki Filipina pada semester kedua 2019.

Adrian menargetkan pada Januari 2020 Investree Filipina dapat diluncurkan, Saat ini pihaknya tengah bernegosiasi dengan mitra lokal.

"Kita lihat model yang di Thailand akan kita dibawa ke Filipina. Baik dari sisi teknologi maupun kemitraan, harusnya bisa lebih cepat. Kita juga sudah bangun relasi dengan Bangko Sentral sebagai bank sentral Filipina dan Security Exchange Commission atau OJKnya Filipina," jelas Adrian.

Filipina sendiri saat ini baru memiliki kurang dari 10 fintech p2p lending di negara ini. Adapun pesaing terdekat Investree Filipina saat ini ada dua entitas yang juga menawarkan invoice financing.

Selain itu, Adrian menyatakan belum berminat untuk melakukan ekspansi ke Singapura dan Malaysia. Lantaran penetrasi perbankan di dua negara ini masih baik dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.

Begitu pun dengan penetrasi kredit ke UKM lebih baik. Selain itu, kedua pasar ini memiliki populasi unbankable yang lebih sedikit.