•   Rabu, 17 Juli 2019
Pilpres 2019

Prabowo-Sandi, Goyah

( words)


Dua Kali tak Temani Prabowo Deklarasi dan Syukuran Kemenangan. Sempat Muncul, tapi Ekspresi Cawapres 02 Lesu. Pakar Gestur dan Mikroekspresi Sebut Sandiaga Sedih dan Tertekan

Jaka Sutrisna-Rangga Putra,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Tensi Pilpres 2019 pasca pemungutan suara, belum juga mereda. Ini setelah Capres nomor 02 mengklaim kemenangan 62 persen, yang dilanjutkan dengan mendeklarasikan diri sebagai Presiden 2019-2024. Padahal, rekapitulasi nasional hasil Pilpres baru dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada 25 April-22 Mei 2019. Belum mereda polemik itu, publik dikejutkan tidak hadirnya Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno pada deklarasi kemenangan Prabowo. Baik pada Rabu (17/4) atau telah hasil quick count lembaga survei yang memenangkan paslon capres-cawapres nomor 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, maupun saat syukuran kemenangan pada Jumat (19/4/2019) kemarin. Sandiaga memang ikut mendampingi Prabowo saat deklarasi kemenangan untuk kedua kalinya pada Kamis (18/4). Namun ekspresi Sandiaga yang tak wajar, membuat sejumlah pihak bertanya-tanya. Benarkah Prabowo dan Sandiaga retak? Apalagi, Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengeluarkan instruksi agar kadernya menarik diri dari kegiatan yang bertentangan dengan konstitusi.
------------
Massa pendukung Prabowo-Sandi memadati halaman depan kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, sebagai perhelatan syukuran klaim kemenangan Prabowo di Pilpres 2019. Panggung berukuran cukup luas dibangun secara kukuh untuk tempat Prabowo dan para ulama berorasi.
Sebagaimana umumnya nama capres-cawapres di setiap spanduk tak pernah terpisahkan. Namun acara kali ini, hanya nama Prabowo yang terpampang di spanduk yang terbentang di panggung. Spanduk dengan panjang sekitar 5 meter itu bertuliskan “H Prabowo Subianto Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Tidak ada nama Sandiaga pada spanduk tersebut. Pun halnya sosok Sandiaga yang tak muncul dalam acara syukuran kemarin. Saat salat Jumat, Prabowo melaksanakan salat Jumat di Masjid Al-Azhar, sedangkan Sandiaga di Masjid At-Taqwa. Jarak kedua masjid hanya dalam radius 500 meter.
Ini kedua kalinya Sandiaga tak menampakkan bersama Prabowo. Sebelumnya, pada saat mengklaim kemenangan 62 persen, Rabu (17/4) malam, Sandiaga tak menemani Prabowo menemui para pendukungnya. Padahal, Sandiaga ada di dalam rumah Prabowo.
Kalau pun Sandiaga hadir pada saat deklarasi kemenangan Kamis (18/4), sikapnya yang tak biasa justru mengundang tanya. Pasalnya, ekspresi wajah yang ditunjukan Sandiaga Uno saat itu tak menunjukkan kegembiraan. Justru mimiknya datar seperti orang sedih atau tertekan.
Analisa Pakar
Pakar gestur Handoko Gani menilai, bahwa ekspresi yang ditunjukkan Sandiaga Uno bukan disebabkan karena sakit. "Itu bukan sakit, ekspresi itu adalah ekspresi ketidaksukaan pada sesuatu," sebut Handoko, kemarin.
Ia menjelaskan, jika Sandiaga sedang sakit, maka ada tanda-tanda lain yang terlihat pada anggota tubuhnya. Sandi memang terlihat batuk dan menutup mulutnya dengan lengan, namun menurutnya jika hanya batuk, maka wajahnya tidak sampai kucel seperti itu. "Dengan muka sekucel itu, harusnya kalau benar beliau hanya sakit, maka sakitnya lebih dari sesekali batuk," jelasnya.
Lagipula imbuhnya, secara raut wajah, apabila ternyata Sandiaga sedang sakit maka tanda itu juga terlihat di sejumlah anggota tubuh seperti mata, kantong mata, garis vertikal di mata ke arah pipi dan sebagainya. Sedangkan kali ini hal itu tidak terlihat. "Dan beliau (Sandiaga) tahan berdiri di sana sampai selesai preskon," beber dia.
Selain itu indikasi ketidaksukaan terhadap sesuatu lainnya juga terlihat pada sikap Sandiaga pada momen ketika Prabowo dan orang-orang di sekitarnya mengangkat dan mengepalkan tangan di atas kepala. Sedangkan, Sandiaga terlihat hanya mengangkat tangan setinggi dada.
Kendati demikian, ia tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan ketidaksukaan tersebut. "Itu tidak boleh disimpulkan karena kita tidak melakukan interview klarifikasi soal itu," ungkapnya.
Dua Hipotesis
Hal senada diungkapkan pakar bahasa tubuh dan mikroekspresi, Monica Kumalasari. Ia menyebut Sandiaga Uno keluar dari kebiasaan saat konferensi pers deklarasi kemenangan Pilpres 2019 di kediaman Capres Prabowo, Kamis (18/4). "Sandiaga keluar dari base line. Base line adalah kebiasaan dia. Pertama, dia selalu smile dalam berkomunikasi. Dia sangat santai, gesture sangat natural. Biasanya beliau juga sangat spontan," cetus Monica.
Namun, kebiasaan tersebut menurut Monica tidak ditemukan saat dekralasi kemenangan, di mana Prabowo kembali mendekalarasikan kemenangannya versi real count internal BPN dengan perolehan 62 persen. "Ini bukan gayanya, tangannya ikut ke belakang seperti anak buah. Tangan ke belakang artinya nurut," terangnya.
Monica melihat adanya keteganggan, gugup serta ekspresi sedih, marah, takut pada wajah Sandiaga saat deklarasi kemenangan. Sandiaga juga terlihat cukup lama menatap skrip pidato Prabowo. Saat Prabowo menyebut UUD 1945, Sandiaga mulai batuk dengan menutup mulut atau buang muka ke samping kiri.
Adegan tersebut diikuti dengan Sandiaga mulai menatap ke audience dan meyapu audience saat Prabowo berbicara tentang partai-partai. "Ada dua hipotesis, memang karena dalam kondisi sakit, bisa juga karena kaget," kata Monica. "Sandiaga Uno dalam tekanan berat. Tekanan atas apa? Bisa karena otoritas Prabowo, bisa karena tekanan pihak luar yang terlibat dalam pendanaan ajang pilpres, bisa karena shock hasil quickcount," sambung dia.
Usai pidato Sandiaga Uno menarik napas panjang. Bahasa tubuh ini, menurut Monica berarti ’yang penting lewat’. Pada akhir pidato, tidak seperti biasanya, Sandiaga tidak berjabat tangan dengan Prabowo. Sandiaga juga tidak ikut meneriakkan takbir.
Sementara itu, Monica tidak melihat adanya perubahan bahasa tubuh dan ekspresi pada Prabowo. "Sama seperti biasanya, seperti saat konferensi Ratna Sarumpaet, dan lain-lain. Tidak terlihat ada perubahan base line," tambah Monica. Pasalnya, ekspresi wajah yang ditunjukan Sandiaga Uno saat itu tak menunjukkan kegembiraan. Justru mimiknya datar seperti orang sedih atau tertekan.
Diklaim Sakit
Tak hadirnya Sandiaga, tak membuat risau Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simandjuntak menegaskan kondisi Sandiaga Uno masih sakit dan dijadwalkan cek darah di rumah sakit. Karena itu, dia kemungkinan tak akan hadir dalam acara syukuran yang digelar capres Prabowo Subianto di kediamannya Jalan Kertanegara.
"Kemarin Pak Prabowo juga ingatkan segera ke rumah sakit, karena teman-teman banyak yang kena DBD. Takutnya (demam berdarah) karena teman-teman di BPN banyak yang kena DBD, terutama yang suka keliling ke banyak daerah," jelas Dahnil ditemui di kediaman Sandiaga, Jalan Pulombangkeng, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019).
Dia mengatakan, Sandiaga sebenarnya sangat ingin hadir mendampingi Prabowo dalam acara syukuran. Namun, Prabowo memintanya agar segera ke rumah sakit. "Pak Prabowo khawatir Bang Sandi kena DBD. Itu yang dikhawatirkan Pak Prabowo kemarin. Nah Pak Prabowo sarankan agar Bang Sandi tidak usah memaksakan diri seperti kemarin," ujar Dahnil. "Pak Prabowo malah yang minta agar Bang Sandi segera ke rumah sakit," tambah dia.
Sandiaga Diperiksa Dokter
Meski Sandiaga belum mengklarifikasi mengapa ekspresinya lesu, tapi ia sudah ditemui oleh dokter. Sandiaga menjalani pemeriksaan kesehatan di kediamannya di kawasan Selong, Jakarta Selatan. Adapun dokter yang memeriksa Sandiaga yakni dokter ahli penyakit dalam dari RS Awal Bros, Kartariadi Gandadinata.
Hasilnya, Sandiaga diketahui memiliki gangguan pada lambung dan mengalami radang tenggorokan. "Hasil pemeriksaan sore ini diketahui Pak Sandiaga memiliki gangguan lambung dan radang tenggorokan," kata Tim Sandiaga, Yuga Aden, dalam keterangan tertulis, Jumat (19/4/2019) malam.
Manurver Demokrat
Belum tuntas soal Sandiaga, Partai Demokrat malah bermanuver. Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui suratnya kepada internal Partai Demokrat, menginstruksikan kepada kader partainya yang berdinas di BPN untuk kembali ke Wisma Proklamasi, Kantor DPP Partai Demokrat, Menteng, Jakarta. Dalam surat instruksinya tersebut, SBY meminta kepada para petinggi Partai Demokrat untuk memantau dari dekat perkembangan situasi politik yang terjadi di tanah air. Selain itu SBY ingin memastikan para pengurus dan kader Partai Demokrat untuk tidak melibatkan diri dalam kegiatan yang bertentangan dengan konstitusi dan UU yang berlaku serta tidak segaris dengan kebijakan pimpinan PD.
Dahnil Anzar Simanjuntak enggan berkomentar terkait instruksi SBY itu.
"Mending klarifikasi ke pihak Demokrat karena saya nggak tahu. Kan rumor maka cari ke sumbernya," kata Dahnil kepada wartawan, Jumat (19/4).
Sedang Jubir Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean membantah kabar yang beredar bahwa Demokrat keluar dari BPN Prabowo -Sandi. “Saya ingin mengklarifikasi kesimpangsiuran informasi yang beredar, dikatakan bahwa Partai Demokrat menarik diri dari BPN Prabowo-Sandi dan Koalisi Adil dan Makmur, saya harus menyatakan itu tidak benar. Partai Demokrat tetap berada di Koalisi Adil dan Makmur," tandas Ferdinand, Jumat (19/4).
Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat ini mengaku, dia baru saja berkomunikasi dengan SBY mengenai hal itu. "Yang menjelaskan kepada saya, Partai Demokrat akan menuntaskan kompetisi Pemilu ini dan mendukung Prabowo-Sandi hingga selasai di jalur hukum yang berlaku di negara kita," terang Ferdinand. n

Berita Populer