•   Rabu, 16 Oktober 2019
Surabaya

Ketua DPRD Surabaya Dorong Penerapan PPDB Sistem Zonasi

( words)
Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji, bersama anggota Komisi DPRD Surabaya D Dyah Katarina, didampingi Kepala SMPN 1 Surabaya Titik Sudarti saat meninjau pelaksanaan UNBK dari luar ruangan, Senin (22/4).


SURABAYAPAGI.com - Sebanyak 379 SMP/MTs di Surabaya menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun 2018/2019. Pada hari pertama Senin (22/4) pelaksanaan UNBK, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Armuji meninjau langsung pelaksanaan UNBK.
Didampingi anggota Komisi D Dyah Katarina dan ditemui Kepala SMPN 1 Surabaya Titik Sudarti, Armuji meninjau pelaksanaan Unas di SMPN 1 ini. "Kami mendorong agar siswa SMP yang saat ini ujian tetap semangat. Keberhasilan masa depan juga tercermin dari ujian sekolah," kata Cak Ji.
Armuji mendorong agar seluruh siswa yang saat ini menempuh Ujian Nasional (Unas) tetap semangat meraih prestasi terbaik. Ia mengatakan Para siswa itu tak boleh kendur mengukir prestasi terbaik di bidang akademik lantaran adanya perubahan sistem PPDB tahun ini.
Menurut Armuji UNBK ini penentuan masuk sekolah ke jenjang lebih tinggi, SD ke SMP maupun SMP ke SMA didasarkan pada Zonasi atau kedekatan tempat tinggal siswa dengan sekolah.
Armuji mendukung penerapan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini. Menurutnya hal ini sangat adil karena adanya pemerataan.
“Jadi tidak terjadi blocking sekolahan. Karena selama ini yang terjadi adalah seperti itu,” ujarnya saat melakukan inspeksi mendadak ke SMP Negeri 1 Surabaya terkait persiapan penerapan sistem zonasi PPDB, Senin (22/4).
Politisi PDIP ini mengaku sangat sepakat dan menganggap perlu dengan sistem zonasi ini. Menurut Armuji tujuan dari sistem zonasi ini untuk mempermudah masyarakat bersekolah. “Kalau dulu yang jadi favorit hanya sekolah-sekolah yang di tengah kota, kini juga merambah ke sekolah-sekolah pinggiran. Nah inilah yang disebut pemerataan,” katanya.
Lebih lanjut Armuji mengatakan sistem zonasi dalam PPDB memberi kesempatan pada calon siswa yang tempat tinggalnya berada di dekat sekolah yang dituju. “Apalagi dengan sistem zonasi akan membuat arus lalu lintas di jalan raya akan terkurangi dengan siswa bersekolah di dekat tempat tinggalnya,” jelasnya.
“Kalau sampai tidak diterima di sekolah yang dekat rumahnya dan harus bersekolah di tempat yang jauh tentu juga akan membebani psikologis siswa yang bersangkutan,” imbuhnya.
Tidak hanya siswa SMP, siswa SD yang juga melaksanakan UNBK saat ini juga didorong untuk tetap mengukir prestasi terbaik. Diakui bahwa perubahan sistem PPDB berdasarkan Zonasi sekarang tengah berdampak pada cara pandang masyarakat.
Cak Ji tak menampik bahwa banyak orang tua mengikutkan les dan privat anaknya demi mengejar sekolah favorit dan unggulan. Dianggapnya menjadi jaminan masa depan. "Ini mitos. Tidak demikian," kata Cak Ji.
Kepala SMPN 1 Titik Sudarti menyampaikan bahwa pelaksanaan UNBK jenjang SMP ini tidak sepenuhnya memengaruhi kelulusan siswa. Namun sebagai evaluasi belajar ujian akhir masih diperlukan. Sebab kemampuan anak bisa tercermin dari hasil UNBK ini.
"Evaluasi belajar siswa tetap diperlukan. Saat ini ini memang kurikulum 2013 yang mementingkan karakter anak tengah dijalankan," kata Titik.
Terkait regulasi yang saat ini tengah hangat diperguncingkan masyarakat terkait sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang juga tidak melihat hasil Unas. Titik melihat bahwa sistem baru itu berlaku nasional.
"Kami menunggu juknis di Kota Surabaya nanti bagaimana. Yang jelas kami siap mencetak generasi terbaik. Tanggung jawab sekolah menciptakan siswanya berprestasi," kata Titik. (Adv/Alq)

Berita Populer