Dr. H. Tatang Istiawan *)

Sejak awal kampanye bulan Agustus 2019, jumlah isu-isu atau hoax yang beredar di media sosial makin banyak. Termasuk memasuki bulan puasa.

Padahal berita hoax banyak menyusahkan, tapi mengapa masih ada orang yang menebar hoax dan isu-isu?

Apalagi berita- berita hoax acapkali tidak akurat. Setidaknya belum dapat dibuktikan kebenarannya. Ini yang diperingat Allah SWT melalui firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujarat: 6)

Soal hoax atau isu bohong, juga pernah terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw. Saat itu pernah beredar isu bohong yang menyangkut keluarga Nabi. Salah seorang Umahaatul Mukminin dituduh terlibat dalam sebuah “skandal”. Ketika berita itu tersebar, banyak orang terkecoh. Hampir saja keluarga yang mulia itu porak-poranda, sekiranya Allah swt tidak menurunkan ayat-ayat yang menunjukkan kepalsuan berita itu.

Ayat-ayat Alquran itu juga mengingatkan kaum muslimin untuk tidak lagi mudah mempercayai desas-desus. “Allah memperingatkan kamu agar jangan kamu mengulangi lagi berbuat seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan Allah menerangkan ayat-ayatnya bagi kamu. Dan Allah Mahatahu dan Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang suka menyebarkan berita keji di tengah-tengah orang yang beriman, bagi mereka siksa yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 17-19).

Inilah sebagian dari ayat-ayat yang diturunkan Allah swt untuk mengajarkan etika berkomunikasi yang sebenarnya. Khususnya terkait penyebaran berita ke tengah-tengah masyarakat.

Syaikh Nashir Makarim Syirazi, dalam Tafsir al-Amtsal menjelaskan “siksa yang pedih di dunia” sebagai keharusan sanksi hukum yang berat dengan undang-undang di dunia buat penebar hoax. Jadi penyebaran berita bohong harus dianggap sebagai tindak pidana. Sedang

“Siksa di akhirat” menunjukkan sanksi etis dan moral, yang menunjuk pada hati nurani.

Sejarah Islam mencatat Islam sangat keras memerangi penyebaran fitnah, namimah, atau berita-berita keji lainnya. Maklum, semua itu dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Artinya, bila berita keji itu berkenaan dengan para ulama yang menjadi panutan masyarakat, dampaknya bisa pada kehancuran moral sangat besar. Bila berita itu menyangkut orang-orang awam, kerugian moral dan material akan menimpa para korban dalam jangka waktu yang pendek. Dan dalam jangka panjang, seluruh masyarakat akan resah, karena saling mencurigai dan saling menyalahkan. Padahal, secara psikologis, tak seorang pun warga masyarakat dapat hidup tentram dalam situasi saling membenci.

Jadi berita-berita hoax, seperti ada people power tanggal 9 Mei di Jakarta, tapi ternyata hanya demo di depan kantor Bawaslu. Ini jelas bohong.

Dalam sejarah Islam, hoax menjadi sebab guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad. Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar).

Saat itu, umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Usman untuk kepentingan politik, sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam. Perpecahan yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam.

Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali, buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak, karena terprovokasi oleh berita bohong atau hoaks.

Nah, bulan Puasa tentu dapat menjadi momentum untuk mengendalikan hoax. Mengingat berpuasa tidak sebatas menjaga nafsu dan syahwat. Lebih dari itu, berpuasa adalah menjaga diri agar tidak melakukan berbagai hal yang dibenci oleh Allah, baik yang bisa dilakukan oleh mata, lisan, telinga, atau bagian tubuh yang lain.

Mari pada bulan ramadan ini, sama-sama menjaga diri agar tidak berkata membikin hoax, agar tidak diharamkan oleh Allah SWT.

*) Penulis adalah Pembelajar agama Islam secara otodidak.