Mapolrestabes menggelar doa bersama lintas agama bersama masyarakat tepat di lokasi bom diledakkan, yakni gerbang masuk Polrestabes Surabaya, kemarin. Foto: SP/JULIAN

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Tepat setahun yang lalu, Mapolrestabes Surabaya menjadi sasaran aksi teror bomber di Surabaya, 14 Mei 2018. Empat bomber tewas, dan satu anak bomber diselamatkan Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya kala itu, AKBP Roni Faisal Fatan.

Guna mengenang tragedi teror itu, Mapolrestabes menggelar doa bersama lintas agama bersama masyarakat tepat di lokasi bom diledakkan, yakni gerbang masuk markas korps seragam coklat itu.

Suasana haru tersirat dari raut wajah mereka yang datang dalam peringatan tersebut. Mereka benar-benar khusyuk saat para tokoh agama memanjatkan doa sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Wali Kota Surabaya, Tri Risma Harini memberi pengantar dalam sambutannya. Ia meminta agar masyarakat menjaga kesatuan persatuan di tengah perbedaan. Dalam refleksi setahun tragedi bom di Mapolrestabes Surabaya, Risma juga meminta agar masyarakat lebih peduli terhadap bahaya ideologi terorisme di sekitar mereka.

"Surabaya ini Kota Pahlawan, banyak narasi yang terbangun dari moment perjuangan. Perjuangan tidak dilakukan satu golongan saja, melainkan semua elemen masyarakat kala itu. Maka dari itu, jadikan perbedaan ini sebagai harkat. Kita juga harus peduli dengan lingkungan sekitar kita agar ideologi terorisme ini tidak menyebar luas," ujar Risma.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Sandi Nugroho mengatakan jika refleksi tragedi bom ini menjadi momentum untuk mengingat betapa bahayanya aksi terorisme yang didasari dari ideologi radikal. Sandi meminta kepada seluruh elemen masyarakat untuk membantu kepolisian guna mengeleminir ideologi radikal tersebut.

"Tentu kami tidak bisa sendiri. Ini adalah tanggung jawab bersama. Selain kepolisian sebagai fungsi penindakan, peran serta masyarakat juga perlu karena masyarakat yang saling bersentuhan setiap waktu. Peduli terhadap lingkungan adalah salah satu caranya. Itu akan efektif mengeleminir paham-paham radikal yang berpotensi menjadi aksi terorisme," kata Sandi.