•   Selasa, 17 September 2019
Pilpres 2019

Perusuh Aksi Demo Bawaslu Terorganisir

( words)


Polri Ungkap Dalang, Provokator, Pembuat Setting, Pendana dan Pelaksana Lapangan dengan dana Operasional Rp 5 juta. Jumlah yang Ditangkap ada 257 orang. Mayoritas dari luar Jakarta

Laporan: Jaka Sutrisna, Erick Kresnadi (Kontributor Surabaya Pagi di Jakarta)

Luar biasa. Polri yang digoyang melakukan kekerasan, bisa membuktikan bahwa peristiwa demo penolak hasil rekapitulasi KPU Pilpres 2019, gabungan demonstrasi dan kerusuhan, periode Selasa (21/5/2019) sampai Rabu (22/05/2019) kemarin. Ditangkap 257 tersangka dari tiga lokasi Bawaslu, Petamburan dan Gambir, Jakarta Barat. Disita juga celurit, bom Molotov, busur panah dan petasan ukuran besar. selain uang dollar US dan Handphone. Menariknya, ada sejumlah amplop berisi uang Rp 300 ribuan lengkap dengan nama-nama. Indikasi, amplop ini akan dibagikan kepada perusuh yang ada di tiga lokasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, dalam keterangan pers tadi malam menyatakan, jumlah tersangka akan bertambah. ‘’Pelaku ini diorder untuk membakar Asrama Brimob Petamburan. Ada pengakuan. Dalangnya sudah kita ketahui dan akan dilacak,’’ jelas Argo Yuwono,

Ini berarti, perusuh bayaran ditemukan Polri. Mereka yang bikin onar di Tanah Abang dan Petamburan Jakarta Barat, Rabu dini hari tadi. Perusuh ini menyerang aparat kepolisian yang mengawasi ulahnya. Ada enam orang tewas dan puluhan luka. Korban luka terkena peluru karet. Ada korban yang setelah dirawat pulang, minta peluru karet yang bersarang di tubuhnya. Kejadian di Jakarta Barat ini mencekam warga Jakarta. Berbeda dengan masa pendemo di depan Bawaslu, yang meski jumlahnya puluhan ribu, petugas tidak sampai bentrok.

Peran Water Cannon
Pantauan wartawan Surabaya Pagi, Rabu (22/5/2019), massa tampak melempari polisi dengan bebatuan. Polisi lantas menembakkan water cannon guna mendesak masa perusuh tersebut. Ada massa yang mundur ke gang-gang di sekitar lokasi. Polisi terus berjaga di gang-gang itu.
Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi mengatakan pihaknya saat ini masih mengamankan massa. Hengki menyebut massa bukan dari Jakarta.
Hengki mengatakan massa menyerang petugas ketika dihadang di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat. Massa mencoba ke Bawaslu, kemudian menyerang petugas dengan beberapa barang berbahaya.
Hingga saat ini, massa masih bertahan di lokasi. "Ini massa dari daerah dan bukan santri," kata Hengki.
‘’Saya menyaksikan sendiri ada beberapa korban yang malah membawa peluru karet itu saat dibawa ke RSUD Tarakan. Beberapa yang kami bantu mengeluarkan peluru karet itu dari tubuhnya," kata Kepala Bagian Umum dan Pemasaran Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Reggy S Sobari, saat ditemui di RSUD Tarakan, Jakarta, Rabu (22/5/2019).
Selain ada 6 korban meninggal dibawa ke RS Tarakan, Pelni RS Budi Kemuliaan RSCM dan di RS AL Buntoharjo.Selain ada sekitar 200 orang luka-luka.

Image

Tak ada Terkena Peluru Tajam
Sampai sore, jumlah korban rusuh di beberapa titik di Jakartadirawat di RSUD Tarakan. Pihak RS menyebut semua korban terkena peluru karet.
Reggy mengatakan tidak ada korban yang terluka akibat peluru tajam. Sore kemarin, beberapa korban malah sudah diperbolehkan pulang malah meminta proyektil peluru karet yang mengenai tubuhnya untuk dibawa.
Berdasarkan data yang dipasang pengelola RSUD Tarakan, terdapat 140 pasien korban . Seluruhnya laki-laki dengan usia yang beragam. Yang termuda berusia 15 tahun.
Malam tadi, hanya tinggal 13 korban yang masih dalam perawatan lanjutan di RSUD Tarakan, karena harus menjalani pembedahan akibat patah tulang atau luka robek

Kesaksian Wartawan
Rabu dini, wartawan Surabaya Pagi turut meliput petugas kepolisian menghadapi perusuh yang melempar batu, bamboo bahkan toking yang sudah disulut api.
Massa diminta mundur. Tetapi ada diantara anggota masa sempat meminta polisi sama-sama mundur. Petugas Brimob terus merangsek dan bentrokan pecah tepat di depan masjid.
Pasukan Brimob, pagi itu dihujani lemparan batu. Lemparan yang bertubi-tubi itu dibalas dengan tembakan gas air mata. Rentetan tembakan itu pun ternyata tak membuat massa mundur.
Mereka ada yang malah maju mendekati pasukan Brimob sambil berlindung menggunakan tempat sampah dan tripleks. Setelah sekitar 20 menit, massa kembali mundur, karena ada tembakan gas air mata bertubi-tubi dari polisi


Image
Bukan Massa Spontan
Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal, menduga, masa yang menyerang petugas Rabu dini hari kemarin, dipersiapkan untuk membuat kerusuhan tadi malam hingga pagi tadi. Peolri malah menemukan sejumlah amplop berisi uang. Amplop ini diamankan.
"Ada juga massa yang masih simpan amplop, uangnya masih ada, dan kami sedang mendalami itu," ungkapIrjen M Iqbal.
"Bahwa peristiwa dini hari kemarin adalah bukan massa spontan, bukan mass spontan. Ada Settingan," ucap Iqbal.

Dalang Aksi Sudah Ditangan Polri
Sebelumnya Menko Polhukam Wiranto menanggapi pernyataan seorang wartawan dalam konferensi pers mengenai kemungkinan pelakunya adalah elite Gerindra. Wiranto tak menjawab lugas pertanyaan terkait Gerindra itu. Namun, dia menegaskan Polri telah mengetahui dalang aksi-aksi rusuh.
"Makanya kita simpulkan bahwa dalang itu kita sudah tahu dan sedang dalam kajian penyelidikan lebih dalam lagi. Jangan dikira kemudian kita tidak tahu, kita tahu. Tetapi kan ada hal-hal yang menyangkut hukum yang harus kita taati," ucap Wiranto
Menko Polhukam Wiranto menyebut pemerintah telah melakukan investigasi terkait sejumlah aksi. Kini telah mengantongi dalang nya. “Temuan Kami, pelaku kerusuhan adalah preman bayaran,’’ jelasnya. Banyak yang bertato dan mengaku dibayar. Jadi mereka bukan bagian dari pedemo yang berunjuk rasa di Bawaslu.
"Itu perusuh, bukan pendemo. Yang serang adalah preman bertato yang dibayar," kata Wiranto saat konferensi pers di Kantor
Wiranto juga membantah tuduhan sejumlah tokoh yang menuduh pendemo ditembak oleh aparat. Wiranto mengklaim saat menghadapi massa usai pengumuman hasil pilpres 2019 oleh KPU, Selasa (21/5) dini hari, seluruh aparat diinstruksikan tidak menggunakan senjata api.

Pembuat Kekacuan
"Aparat hanya dibolehkan menggunakan perisai dan pentungan, sehingga tidak mungkin aparat membunuh pendemo," kata Wiranto.
"Yang membuat kekacauan adalah preman-preman yang dibayar, bertato," kata Wiranto kepada wartawan di Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Utara, Rabu (22/5/2019).
"Dari apa yang telah kita lakukan di berbagai kesempatan, kita mencoba untuk melakukan investigasi di beberapa kejadian. Maka kesimpulan kita adalah bahwa ada niatan atau skenario untuk membuat kekacauan dengan menyalahkan petugas, aparat keamanan, membangun antipati kepada pemerintah yang sah dan membangun satu kebencian kepada pemerintah yang saat ini sedang melakukan upaya-upaya bagi kesejahteraan masyarakat kita," tambah Wiranto di Kemenko Polhukam, Rabu (22/5/2019).

Berita Populer