Damayanti yang berperan sebagai Drupadi

SURABAYA PAGI, Surabaya - Peristiwa monolog dibangun dengan lampu utama kali pertama menyorot seorang perempuan yang menari perlahan. Ia berada di tengah panggung yang sederhana. Patahan-patahan dalam tariannya mampu menunjukkan ada sesuatu yang murung dalam dirinya – tentang seorang calon permaisuri dengan tubuh kurus yang berjalan terlampau jauh dari istana dan sejak mula dipermainkan kebudayaan. Musik pengiring mengiris, menjelang akhir melemah dan bersama itu ia berdiri di atas kain merah. Tatap mata nanarnya mengirim pertanyaan ke dalam pikiran penonton: Apakah ia bersungguh-sungguh menciptakan citra baru bagi dirinya?

Ada cahaya yang perlahan naik. Perempuan itu bernama Drupadi: seorang yang sempurna untuk pertaruhan, karena ia tak pernah benar-benar punya kata-kata, kecuali dalam lingkaran Kresna. Itulah gambaran adegan awal pada pertunjukan monolog Drupadi karya Damayanti pada 18 Mei 2019 di Kanopi, Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa. Pertunjukan yang disadur dari novel Drupadi: perempuan poliandris karya Seno Gumira Ajidarma itu tidak hanya menampilkan sisi lain dari kecemasan dan ketakberdayaan yang ada pada diri Drupadi pasca ia diasingkan bersama Pandawa.

Menjadi satu bunga padma untuk Pandawa adalah titik tolak perjalanannya untuk menerima takdir. Kresna, sebagai sosok yang menolongnya, juga memiliki peranan penting dalam kisah dendam atas liciknya permainan dadu Kurawa. Damayanti mampu menegaskan kesan bahwa dengan menggeser peranan Drupadi, ia bisa membuat jeda yang menggerakkan tafsir antara penonton dan teks Mahabharata yang selama ini hanya melangkah ke satu arah. Dan apa yang dilakukannya sedikit-banyak telah membuka ruang makna lebih luas lagi.

Di bagian paruh ketiga dari monolog itu, bahkan Drupadi mengartikan bahwa dirinya bukan hanya objek. Tapi bisa juga ia subjek. Kita tahu, wacana ini punya risiko besar apabila sebuah monolog flash back tidak memberi pernyataan apa-apa tentang bagaimana posisi orang-orang yang tak mengakui apa yang diyakininya. Karena ia hadir tak hanya untuk merepresentasikan gagasan yang sesuai dengan isu feminisme di zaman ini.

Selain itu, saya melihat ada satu pernyataan penting dalam kerja monolog Damayanti adalah bagaimana ia mengakui ketidakutuhan dalam dirinya karena berjarak dengan sesuatu (cerita) yang tak nyata. Dan Damayanti agaknya hanya memanfaatkan gerak tubuh dan artikulasinya sebagai sebuah pendekatan. Mungkin memang ada pola seperti itu. Atau mungkin itu caranya memperkenalkan dramaturg yang ia pelajari dan hayati selama ini di Teater Kaki Langit. Apa pun, kiranya jelas, bahwa cara memandang sesuatu yang jauh itu, yang juga menjadi bagian darinya, bergema di pementasan.

Penutupan pertunjukan dilakukan dengan epik: perempuan itu bersimpuh menghadap utara dengan cawan di hadapannya, perlahan ia ciduk cairan berwarna merah pekat, yang diibaratkan sebagai darah Dursasana, untuk mengeramasi rambutnya. Darah itu tidak sekadar perwujudan pembalasan dendam, tapi juga membangun narasi baru atas rasa sakit yang selama ini disimpan seorang perempuan. Dari situlah kita bisa melihat sosok Drupadi sebagai seorang yang berpoliandri, yang kita kenal lebih jauh, ada untuk diperjuangkan.

Di luar kerja bahwa monolog Drupadi itu adalah tugas kuliah, Damayanti berusaha mengajak penonton, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk memahami bidang hitam yang ada dalam diri manusia, memikirkan kembali dampak dari dendam dan kecemasan yang terus berkembang bila disimpan. Sebab selalu ada alasan di balik setiap tindakan dan pilihan. ra