Gapura Paduraksa, pintu masuk Kabupaten Lamongan ini sudah menjadi icon dan simbul serta kebanggaan masyarakat Lamongan

SURABAYA PAGI, Lamongan - Minggu (26/5/2019) Kabupaten Lamongan merayakan kelahiranya yang ke 450 tahun. Tentu diusia 4 setengah abad ini Lamongan sudah banyak capaian yang dihasilkannya, seiring dengan kondisi wilayah yang cukup kondusif, sehingga pembangunan dapat berjalan dengan optimal.

Di Lamongan pula, tersebutlah Desa Balun di Kecamatan Turi yang menjadi role model kerukunan. Balun sejak lama dikenal sebagai Desa Pancasila, karena beragam agama hidup berdampingan dengan damai.

Tiga tempat ibadah Agama Islam, Kristen dan Hindu berdiri berdampingan di sekeliling alun-alun desa. Warga Desa Balun memiliki kearifan unik, sehingga setiap ritual keagamaan dapat berjalan lancar.

Desa Balun baru-baru ini ditetapkan sebagai Desa Wisata Religi. Dengan harapan, role model kerukunan ini akan dapat diadopsi setiap pengunjung. Kondusifitas di Lamongan ini mendapat ujian dengan adanya polarisasi tajam terkait pemilihan presiden dan wakil presiden lalu.

Namun rupanya modal dasar masyarakat yang rukun ini, dengan sinergitas seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat, kondusifitas di Lamongan tetap terjaga.

Sehingga tidak terdengar adanya gejolak konflik sosial yang terjadi. Persatuan dan kesatuan di Lamongan yang tengah memperingati hari jadi ke 450 ini juga tetap terjaga. Lamongan saat ini bahkan tengah memantapkan jati dirinya sebagai bumi dilahirkannya Maha Patih Amangkubumi Kerajaan Majapahit, Gajah Mada. Berpedoman pada makam Dewi Andong Sari di Desa Cancing Kecamatan Ngimbang yang diyakini sebagai ibunda Gajah Mada.

Sarasehan untuk meneguhkan jejak Gajah Mada di Lamongan semakin sering digelar. Dipuncaki dengan seminar sejarah dan peluncuran buku hasil penelusuran jejak Gajah Mada di Lamongan pada 25 Juni mendatang di Pendopo Lokatantra.

Sehingga tidak salah, jika Lamongan ditetapkan sebagai kabupaten peringkat pertama terbaik nasional dalam penghargaan Pelaksanaan Program Terpadu Penanganan Konflik Sosial tahun 2019 oleh Kementerian Dalam Negeri.

Bagi Lamongan yang tengah gencar-gencarnya membangun, kondusifitas daerah menjadi sangat penting. Kelancaran berbagai program pembangunan mustahil terlaksana tanpa adanya situasi yang kondusif. Sinergitas yang mantap bersama jajaran Forkopimda yang didukung seluruh komponen masyarakat, tokoh agama dan tokoh masyarakat, menjadi kuncinya.

Bupati Lamongan Fadeli di momen sakral peringatan HJL ke 450 yang tahun ini jatuh di Bulan Suci Ramadhan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga perahu yang lebih besar, Indonesia.

Dia berharap semuanya untuk kembali merajut persatuan, demi kemajuan bangsa. “Mari kita bersatu, berlapang dada dan sudahi segala perbedaan. karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan,” pesan Fadeli.

“Ada pendidikan anak-anak kita yang harus diperhatikan, kualitas pelayanan kesehatan yang harus terus ditingkatkan, dan infrastruktur yang harus terus dibangun, demi kesejahteraan masyarakat,” katanya menambahkan.

Dengan Situasi yang kondusif pula, Lamongan secara konsisten mampu berprestasi. Sehingga di awal tahun 2019 ini saja, masih mampu meraup sejumlah penghargaan yang memberi kebanggan bagi masyarakatnya.

Seperti dengan kembali diraihnya anugerah tertinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup, Piala Adipura.

Bersamaan dengan itu, 3 sekolah di Lamongan ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri. Selaras dengan itu, kinerja instansi pemerintahan juga semakin baik. Ditandai dengan Standar Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Pemkab Lamongan yang untuk pertama kali mendapatkan Predikat A.

Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun anggaran 2018 ditetapkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dengan status opini wajar tanpa pengecualian (WTP). Berarti menjadi WTP untuk yang ketiga kali secara berturut-turut. Yang menunjukkan bahwa roda pemerintahan telah dikelola secara akuntabel.

“Lamongan ini memiliki modal dasar yang lebih dari cukup untuk menjadi besar. Kita punya sejarah besar di masa lalu. Kita punya sumber daya alam melimpah. Kita juga punya sumber daya manusia yang dikenal struggle, mampu lepas dari berbagi kesulitan dan memiliki upaya yang luar biasa untuk melakukan sesuatu,” ujar Fadeli.

“Pemerintah daerah memiliki berbagai program inovatif, yang mustahil terwujud tanpa situasi yang kondusif dan sinergitas semua pihak. Mari bersama-sama, bersatu, bergandeng tangan, demi kemajuan bersama,” pesan Fadeli. jir


Busana adat khas Lamongan dipakai oleh bupati bersama forkopimda dalam kirab HJL ke 450. FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN