Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melauching 5 Pilot Project Jawa Timur, di Grahadi 27/5/2019.

SURABAYAPAGI.COM - Tepat di hari ke 98 menjabat, Gubernur Khofifah Indar Parawansa- Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak secara resmi meluncurkan lima pilot project program yang menjadi janji kampanye. Lima pilot project yang diluncurkan di Gedung Negara Grahadi, Senin (27/5/2019), antara lain Millenial Job Center (MJC), East Java Super Corridor (EJSC), Jatim Big Data Initative, East Java Smart Province Economic Router (EASIER), serta aplikasi pengaduan masyarakat CETTAR.

Kelima layanan ini menjadi harapan baru bagi kaum millenial dan masyarakat secara umum dalam mengakses informasi sekaligus mendongkrak aktifitas ekonomi Jatim. “Ini program lari-lari kita, program berjejaring kita, program untuk mendapatkan support. Kebetulan, dari Kementerian Kominfo juga memiliki format program dari digital talent scholarshipuntuk memasukkan milenial pada MJC. Mentornya sudah siap, dan klien dunia usaha dan dunia indusrti sudah siap,” tutur Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di sela-sela peluncuran Pilot Project MJC, EJSC dan Big Data di Gedung Negara Grahadi, Senin (27/5).

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini menjelaskan, pilot project EJSC ini merupakan pusat informasi super corridor yang dibangun untuk menciptakan sebuah ekosistem yang memungkinkan antara dunia usaha dan dunia industri, mentor dan talent dari kelompok millenial dapat saling berkolaborasi. Hal itu diperlukan karena menyiapkan skill saja tidak cukup.

“Kemudian didukung juga dengan program Kementerian Kominfo berupa digital talent scholarship sehingga ketemulah format dengan para pemilik start up yang sudah sangat sukses. Masuk lagi pada ESJC ini dan akan menyambungkan UKM serta IKM,” tutur Khofifah.

Khofifah dengan diluncurkannya sejumlah layanan ini, kelompok millennial di Jatim akan tertarik dengan dunia UKM – IKM, sektor pertanian dan sektor kemaritiman. Karena melalui MJC, talent tidak sekadar mendapatkan penguatan skill dari pelaku digital ekonomi tetapi mereka juga menghubungkan akses untuk UKM-IKM melalui EJSC.

Selanjutnya bicara Big Data, Khofifah menegaskan, salah satu pra syarat industri 4.0 adalah tentang pengelolaan data. Keseriusan itu ditunjukkannya sejak awal menjabat sebagai Gubernur Jatim. “Sebelum sertijab, yang saya tanyakan pertama kali adalah data center. Selanjutnya kita melihat Kominfo untuk memastikan kembali data center yang diharapkan itu dapat membangun percepatan-percepatan layanan,” tutur dia.

Dari hasil melihat data center yang ada, akhirnya diketahui bahwa masing-masing punya sistem tetapi tidak terkoneksi. Maka muncullah Jatim Connectyang harapannya dapat diakses hanya menggunakan e-KTP. Selanjutnya, East java Smart Province Economic Router (EASIER) yang berupa pusat pergudangan untuk barang impor yang bisa dikembalikantanpa dikenakan bea cukai sebelum masyarakat mengakses. Harapannya, ada produk-produk tertentuk tidak dikenakan cukai dulu dan disimpan di gudang. Ketika dibeli oleh pelaku UKM-IKM yang kebutuhannya relatif tidak terlalu besar, maka dia belum dikenakan cukai. Setelah pada tahapan tertentu ternyata tidak diminati, bisa dikembalikan dan tetap tidak dikenakan cukai. “Ini harapannya bisa memberikan akses terhadap pelaku UKM-IKM terhadap barang-barang yang masih harus diimpor tetapi tidak harus dibayar cukainya,” ungkap Khofifah.

Terakhir, Khofifah juga menyebut tagline Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan, Akuntabel dan Responsif (CETTAR). Melalui semangat ini, format yang ingin dibangun adalah layanan dengan respon yang cepat kepada masyarakat.

“Ini lima layanan sekaligus dan masih ada satu lagi yaitu bantuan hukum untuk masyarakat kurang mampu yang akan kita luncurkan besok (hari ini) yang sebenarnya tepat pada 99 hari kerja,” pungkas Khofifah. rko/adv**