•   Kamis, 2 April 2020
Pendidikan

23 Tahun Jadi Guru, Terbiasa dengan Perbedaan

( words)
Enny Veronita Libra Kusumawati


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Guru merupakan profesi yang mulia. Diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Guru akan sangat bahagia bila melihat anak didiknya sukses dan akan sedih bila anak didiknya tidak berhasil. Beban seorang guru sangat besar karena menopang tugas ganda, menjadi pengajar sekaligus menjadi pendidik. Namun berprofesi apapun tidak akan menjadi kendala apabila sudah paham dengan profesi tersebut.

Sebagai seorang guru di SMK Negeri di Kota Surabaya, Enny Veronita Libra Kusumawati atau biasa disapa Ibu Vero merupakan keturunan suku Tionghoa yang berkecimpung di dunia pendidikan sejak tahun 1996. Ia tidak canggung bersosialisasi dan hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda suku dengannya.

Vero mengaku bahwa dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi menempuh pendidikan di sekolah/PT Negeri hingga tersematkan gelar S.Si dan M.Pd di belakang namanya. Dari kecil ia sudah terbiasa hidup berdampingandengan perbedaan. Ini memudahkannya saat memasuki dunia kerja dan berkecimpung di dunia pendidikan.

Lahir sebagai perempuan keturunan suku Tionghoa tidak membuat ia gentar dalam menghadapi perbedaan. Vero mengaku bahwa ia pernah mendapat pertanyaan tentang agama yang dipeluknya maupun kenapa ia memilih berkuliah di tempat yang lebih banyak berbeda suku dan agama dengannya.

“Iya tentu saja banyak yang bertanya, namun selagi saya berprinsip teguh tentang keyakinan saya, tidak akan ada yang mengusik tentang agama, paling ya kenapa memilih kuliah di sini atau jurusan ini. Tentu saya jawab karena sudah terbiasa tinggal dalam perbedaan, saya tidak lolos UMPTN Teknik Kimia, dan masuk FMIPA Matematika” ujarnya.

Kini Vero telah berprofesi menjadi guru selama 23 tahun tanpa kendala yang berarti. Ia juga menjelaskan bahwa menjadi guru bukanlah profesi yang mudah karena pertama guru sebagai pengajar dan kedua guru sebagai pendidik. Kedua hal ini sangat berbeda fungsi. Sebagai pengajar tugas guru menjadikan peserta didik yang tidak bisa menjadi mengerti dan paham tentang materi yang dipelajari. Namun bila hanya sekedar mengajar, tentu seorang guru tidak mengerti kendala yang dialami oleh peserta didiknya.

Sebagai pendidik bukan hanya materi pelajaran yang disampaikan dalam hal ini yaitu guru mampu mengubah tingkah laku dirinya menjadi seorang guru yang professional. Seorang pendidik harus menjaga wibawa di depan peserta didiknya. Guru mampu mendidik apabila dia mempunyai kestabilan emosi, memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan anak didik, bersikap realitas, bersikap jujur, serta bersikap terbuka dan peka terhadap perkembangan, terutama terhadap inovasi pendidikan

“Kita pasti bisa membedakan orang yang memang passionnya sebagai guru, dia akan mudah masuk pada ranah sensitif seperti psikologi peserta didiknya dan tentu akan diterima oleh mereka,” tambahnya.

Berprofesi sebagi guru memang bukanlah hal yang mudah, dituntut untuk mengajar dengan kurikulum berdinamika mengikuti perubahan zaman. Bila tidak teliti dan sembarangan memberi arahan kepada peserta didik, pasti mereka akan bingung.

Semenjak ia ditunjuk sebagai instruktur provinsi Kurikulum 2013 (K13), ia harus membantu guru-guru lain dalam memahami kurikulum tersebut. Awal kemunculannya yang berdekatan dengan awal tahun pelajaran baru 2013-2014 membuat esensi Kurikulum 2013 di beberapa daerah kurang dipahami oleh guru. Dinamika kurikulum 2013 sering mendapatkan respon kurang karena informasi yang tidak utuh diterima guru.

Menurut pendapat Vero, sebelum membuat kebijakan kurikulum tolong dipertimbangkan bagaimana cara menyampaikan informasi supaya diterima dan difahami oleh guru secara utuh di sekolah-sekolah manapun. Kurikulum 2013 dengan Penguatan Pendidikan Karaker (PPK), Gerakan Literasi, Kecakapan Abad 21 dengan 4K (Kritis, Kreatif, Komunikatif, Kolaboratif), dan Pembelajaran Berorientasi HOTS(Higher Order Thinking Skills) diharapkan dapat menyiapkan peserta didik untuk survive di zamannya.

Vero juga memiliki harapan besar terhadap dunia pendidikan saat ini dengan terpilihnya Nadiem Makariem sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang baru. “Memulai perubahan itu tidak mudah, namun harus ada yang memulai kalau tidak mau tertinggal,” ucapnya.
byta

Berita Populer