•   Minggu, 29 Maret 2020
Ekonomi Global

5 Krisis Ekonomi Paling Konyol Sepanjang Sejarah

( words)
Ilustrasi/FEE.ORG


SURABAYAPAGI.com - Pada umumnya, kita mengetahui Indonesia pernah diterpa badai krisis ekonomi pada tahun 1997 yang berujung pada ketidakpercayaan rakyat terhadap rezim Presiden Soeharto. Setahun kemudian, Presiden Soeharto pun mundur. Tahun 1998 pun dikenal dengan masa reformasi.
Negara maju seperti Amerika Serikat pun sejatinya acap kali mengalami krisis ekonomi. Bahkan, sejak tahun 2008, Negeri Paman Sam ini kerap berjibaku bertahan dari krisis yang melanda, misalnya karena housing bubble dan keruntuhan Wall Street.
Namun begitu, sejatinya krisis ekonomi juga dialami oleh negara-negara lain di segala penjuru dunia pada masa lampau. Dalam daftar ini, terdapat 10 keruntuhan ekonomi paling menarik sepanjang sejarah, sehingga kita bisa merasa sedikit lebih baik hidup pada masa sekarang. Yuk, kita tengok 10 peristiwa hancurnya ekonomi pada masa lampau.
1. Koin Emas yang Tak Berharga (Abad ke-IV M)

Image

Romawi dikenal dalam sejarah sebagai bangsa besar yang menguasai sebagian dunia. Tetapi, tidak banyak yang tahu kalau Kekaisaran Romawi hampir hancur lantaran tidak mampu mengelola perekonomian mereka. Adalah Kaisar Diokletanus pemimpin Romawi pada abad ke-IV M, yang menjadi biang keladi kehancuran.
Dibebani proyek-proyek pembangunan yang mahal dari kaisar-kaisar sebelumnya, tak membuat Kaisar Diokletanus menjadi lebih berhemat. Dia tetap melancarkan perang-perang yang biayanya menguras kas negara. Bahkan, mata uang Romawi menjadi kian tak berharga. Karena krisis keuangan melanda, dia mengambil kebijakan dengan menerbitkan sistem mata uang baru.
Masalahnya adalah, pada masa itu alat tukar perdagangan adalah menggunakan koin emas. Kaisar Diokletanus sendiri menerbitkan sistem mata uang yang nilainya lebih rendah daripada emas itu sendiri. Akibatnya, rakyat pun berbondong-bondong melelehkan koin-koin mereka menjadi emas, sehingga harganya menjadi lebih mahal.
Karena banyak yang memiliki emas, maka terjadilah inflasi. Akhirnya, Kaisar Diokletanus membuat kebijakan dengan menempatkan pagu harga pada sebagian besar barang untuk melawan inflasi. Kebijakan Diokletanus ini menyebabkan banyak kebingungan sehingga banyak wilayah Romawi menolak untuk mengikuti perintah Kaisar. Ketika masalah memburuk, Diokletianus menjadi kaisar Romawi pertama yang secara sukarela meninggalkan tahta. Kebijakan ekonominya yang sangat cacat melemahkan kekaisaran dan status kaisar, di samping semakin merusak ekonomi Roma.
2. Persaingan Keluarga Besar di Italia (1470-an)

Image

Keluarga Medici adalah salah satu keluarga terkemuka zaman Renaissance Italia. Mereka mengendalikan politik di Kota Florence dengan menjabat sebagai paus dan membantu populernya Leonardo DaVinci. Sumber kekayaan keluarga Medici ini berakar pada jaringan perbankan di seluruh dunia yang mereka dirikan pada akhir abad ke-XIV.
Di bawah kepemimpinan Cosimo de ’Medici, bank-bank berkembang pesat. Saat menjelang ajal, jaringan perbankan Medici sudah terlampau banyak sehingga sulit dikontrol. Pada saat yang sama, terdapat keluarga Pazzi dan Salviaiti yang diam-diam berkonspirasi untuk menggulingkan kekuasaan keluarga Medici di Florence.
Pada tanggal 26 April 1478, dua anggota keluarga Medici diserang dan nyaris terbunuh pada sebuah misa di Florence. Meskipun plot jahat itu gagal, keluarga Medici tidak dapat menegaskan kembali kontrol penuh mereka terhadap Florence. Peperangan antara keluarga Medici dan Pazzi pun terus menguras keuangan Medici.
Akhirnya, pemimpin keluarga Medici, Lorenzo de ’Medici, mengenakan pajak penduduk Florence atas nama pertahanan militer. Akhirnya, pada 1494 bank-bank milik Medici runtuh karena korupsi, salah investasi dan manajemen yang tidak kompeten. Setelah bank-bank Medici runtuh, butuh waktu bertahun-tahun bagi ekonomi Florence untuk pulih sepenuhnya.
3. Spanyol yang Serakah (1600-an)

Image

Emas adalah benda berharga paling dicari, tidak terkecuali pada masa lampau. Setelah penemuan Dunia Baru (benua Amerika) oleh Christopher Columbus, Spanyol memulai pencarian mereka akan emas di tempat itu. Selama beberapa dekade, sumber daya yang kaya di Amerika Selatan itu dikuras habis-habisan, sehingga menjadikan Kerajaan Spanyol sebagai salah satu negara terkaya di dunia.
Namun, pada paruh kedua abad ke-XVI, Spanyol malah meningkatkan penambangan emas ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena peredaran emas dan perak yang baru dicetak di Eropa sangat tinggi, hal itu justru menurunkan nilai mata uang dan menyebabkan hiper-inflasi di seluruh Eropa.
Dikombinasikan dengan perang yang sedang dihadapi Spanyol untuk mempertahankan kerajaan mereka, inflasi juga merusak ekonomi yang tidak dapat diperbaiki. Alih-alih menuai kekayaan besar, Spanyol justru gagal membayar utangnya. Gejolak ekonomi ini mengakibatkan Kerajaan Spanyol hancur sekaligus menjadikan Kerajaan Inggris memulai kekuasaan mereka akan dunia.
4. Krisis Tipper and See-Saw (1621)

Image

Pada masa lampau, negara-negara menggunakan utang untuk membiayai perang. Hanya saja, hasilnya tidak pernah baik. Pada abad ke-XVII, ketika itu tidak ada cara untuk memastikan pendapatan via pajak yang efektif. Sehingga, negara-negara zaman dahulu, khususnya Kekaisaran Romawi mulai mencetak uang untuk meningkatkan pendapatan demi Perang Tiga Puluh Tahun (Thirty Years War).
Untuk melakukan hal ini, kekaisaran menarik semua uang koin dari peredaran, meleburnya dan mencampurkannya dengan logam yang bernilai lebih rendah. Nama krisisTipper and See-Saw sendiri mengacu pada timbangan yang digunakan untuk menimbang koin sebelum dicairkan. Koin-koin yang direndahkan ini kemudian disebarkan ke wilayah asing, untuk membatasi kerusakan ekonomi yang terjadi dalam negeri.
Namun yang tidak diduga sebelumnya oleh Kekaisaran Romawi adalah, koin yang direndahkan itu akhirnya kembali ke wilayah Kekaisaran Romawi dalam bentuk pajak. Ketika rakyat menjadi sadar akan praktik tersebut, terjadi kerusuhan, bahkan tentara menolak menerima koin yang direndahkan itu sebagai bayaran.
Pamflet-pamflet hasutan pun dibagikan. Uang koin yang direndahkan itu akhirnya menjadi sangat tidak berharga sehingga dibuat mainan oleh anak-anak di jalanan. Kenaikan harga yang terjadi juga melumpuhkan perekonomian banyak negara dalam wilayah kekaisaran.
5. Krisis Gara-Gara Bunga Tulip (1636-1637)

Image

Krisis yang satu ini boleh dibilang menjadi krisis ekonomi paling aneh dalam daftar ini. Tulipmania, begitulah krisis ekonomi ini diistilahkan, menjadi gelembung ekonomi pertama yang tercatat dalam sejarah ekonomi dunia.
Ketika bunga tulip pertama kali diperkenalkan di Belanda pada awal 1600-an, seketika itu juga bunga tulip menjadi populer. Bagi warga negara Belanda yang gengsi, mereka harus memiliki bunga tulip terbaru. Pasalnya, bunga tulip hanya tumbuh pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Oleh sebab itu, Belanda menyiapkan pasar untuk ’masa depan.’ Ketika tulip tidak tersedia, konsumen dapat membeli hak untuk bunga tulip ketika tersedia.
Dengan segera, para spekulan mulai memainkan pasar ’masa depan’ dengan mendorong gelembung bunga tulip ke tingkat yang mengejutkan. Pada puncak gelembung, beberapa bunga tulip dijual dengan harga yang setara dengan gaji sepuluh tahun rata-rata buruh.
Gelembung akhirnya meletus pada 1637 dan nilai bunga tulip turun kembali ke level sebelumnya. Sama seperti jatuhnya pasar saham pada 2008, investor dalam hal ini pembeli bunga tulip, harus rela investasi tingginya, terbalas dengan harga yang terjun bebas alias murah. Gara-gara bunga,Negeri Kincir Angin itu membuat banyak orang tak punya uang.
Itulah lima krisis ekonomi yang diakibatkan oleh kekonyolan.

Berita Populer