90 Persen Kader Militan PDIP di Surabaya Utara Pilih MaJu

Ilustrasi karikatur

 

Kader dan Simpatisan PDIP yang Mbalelo ke Paslon 02, MA-Mujiaman Terbesar dari wilayah Surabaya Utara. Menyusul kawasan Gubeng Surabaya Timur. Ditambah Ranting-Ranting yang Dibentuk saat Whisnu Sakti Memimpin DPC PDIP Surabaya. Kader di Ranting-ranting ini dikenal Kader Militan

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Peta politik Pilkada Surabaya 2020 diperkirakan bisa berubah total. Terutama mesin politik PDIP yang dikoordinasi Mat Mochtar dan Kader militan Whisnu Sakti Buana. Mat Mochtar, kader PDIP senior Surabaya yang pada pilkada 2015 banyak mendulang suara ke Tri Rismaharini, sehingga paslon ini bisa meraup 82% suara, kini sudah secara terbuka mbalelo ke paslon 02, Machfud Arifin (MA)-Mujiaman. Apalagi kini namanya dicoret dari keanggotaan di PDIP. Semangat memenangkan paslon MA-Mujiaman, bak banteng ketaton.

Bahkan, tokoh madura di Surabaya yang disegani masyarakat Surabaya berani pasang target 90 persen keluarga Madura yang sudah ber-KTP Surabaya ikut arahannya, mencoblos gambar MA-Mujiaman.

Semangat Banteng Ketaton juga mampu merangkul orang militan Whisnu Sakti Buana yaitu Anugerah Aryadi. Lulusan FH Unair yang membuat posko pemenangan Whisnu di Gubeng Jaya, kini sudah berani terbuka, ke-mbaleloan-nya dengan tidak takut bila ditindak oleh PDIP.

Mereka mbalelo, karena tak suka dengan gaya kepemimpinan Risma yang selama ini dinilai arogan dan tak pernah pikirkan kemajuan ranting-ranting PDIP di Surabaya.

Demikian hasil wawancara dengan tokoh PDIP Surabaya sekaligus pengamatan Surabaya Pagi di beberapa kandang banteng, sejak Kamis lalu sampai Minggu (29/11/2020).

Wawancara dilakukan terpisah dengan Mat Mochtar, tokoh PDIP asal Madura yang juga pendiri Banteng Ketaton, politisi senior PDIP Anugrah Ariyadi dan Jagad Hariseno, yang juga kakak kandung Whisnu Sakti Buana. Kemudian Direktur Komunikasi dan Media Paslon 02 Imam Syafi’i. Serta klarifikasi kepada tokoh struktural DPC PDIP Surabaya Ketua DPC PDIP Adi Sutarwijono dan Ketua Bapilu PDIP Surabaya Anas Karno.

Sementara pantauan Surabaya Pagi di lapangan seperti di kawasan Sidotopo, Bulak, Simo, Gubeng Airlangga, Gubeng Jaya, Gubeng Kertajaya dan Ngagel. Spanduk dan Baliho Eri-Armuji dan MA-Mujiaman, berimbang. Ada hal menarik, beberapa rumah RT dan RW di kawasan Gubeng, yang merupakan “kandang PDIP” paslon Eri Cahyadi – Armuji, justru terpasang cukup banyak baliho MA-Mujiaman yang besar.

Mat Muchtar, saat ditemui di daerah Sidotopo Wetan, Minggu (29/11/2020) menerangkan, dukungan kepada MA-Mujiaman ini, bukanlah bentuk dari perlawanan dirinya kepada PDIP. Namun, sebagai bentuk perlawanan dari kesombongan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Saya tidak melawan PDIP, saya melawan arogansi dan kesombongan Risma," kata Mat Mochtar, tegas.

Politis asal Madura ini memastikan kemenangan MA-Mujiaman, di kawan Surabaya Utara, akan bisa mencapai 90 persen.  "Kita menangkan Pak Jokowi disini. Sekarang Kita buktikan, disini juga kita pastikan kemenangan mutlak untuk pak Machfud dan pak Mujiaman. Saya pastikan 90 persen di daerah Utara (Surabaya Utara, red) untuk kemanangan MAJU," katanya.

Menurut Mat Muchtar, MA-Mujiaman merupakan sosok pemimpin yang sangat mengerti yang tentang promblem warga Surabaya dan semua program-programnya sangat berpihak kepada rakyat.

"Ini lah alasan saya kenapa saya lebih pilih berjuang untuk memenangkan pak Machfud, karana disini butuh pemimpin yang mengerti warga Surabaya. Yang benar-benar bekerja unuk warga Surabaya, tidak pencitraan," tegasnya.

 

Kecewa dengan Erji

Hal senada juga diungkapkan Anugrah Ariyadi, kader PDIP yang dikenal militan dan dekat dengan Whisnu Sakti Buana.

“Saya kecewa karena merasa tidak dibutuhkan oleh tim Erji. Apalagi berkali-kali saya sudah nyelondohi menghubungi mas Adi (Dominikus Adi Sutarwijono, Ketua DPC PDIP Surabaya, red), mas Anas (Anas Karno, Ketua Bappilu PDIP Surabaya) sampai mas Eri dan Cak Ji, yo gak tau onok jebule,” kata Anugrah dengan nada kecewa, Sabtu (28/11/2020) pagi.

Anugrah pun tak gentar bila dirinya dipecat karena membelot dari garis partai. "Pemecatan itu ada mekanisme. Biasanya dipanggil dewan kehormatan partai kalau yang bersangkutan pengurus partai. Nah, saya kan bukan pengurus partai. Jadi hanya punya KTA (kartu tanda anggota) saja. Monggo kalau diminta, akan saya serahkan KTA saya beserta keluarga saya dan pasukan saya," papar pria yang tinggal di Gubeng Jaya, Surabaya ini.

Saat ditanya bila KTA diserahkan dan resiko tidak akan menjadi kader PDIP lagi, Anugrah mengaku tidak akan menyerahkan KTA-nya dengan sukarela.

 

Risma yang Pecah Belah Partai

Sebelumnya, anak kandung pendiri PDI dan mantan Sekjen PDIP (Alm) Ir Sutjipto, yang juga kakak kandung Whisnu Sakti Buana, Jagad Hariseno menyebut bahwa perpecahan kubu PDIP dalam Pilwali Surabaya justru disebabkan karena arogansi Risma.

“Kenapa saya melakukan perlawanan? Nah perlawanan saya itu tidak kepada ketua umum dan DPP PDI Perjuangan. Bukan. Saya melawan terhadap kepentingan Risma, anaknya Risma (Fuad Benardi) dan Eri-Armudji. Jadi saya sudah dalam kategori menuduh, bahwa Risma memecah belah partai. Itu ada alasannya semua,” tegas Jagad, belum lama ini, dalam pesan suara yang tersebar di beberapa media termasuk Surabaya Pagi.

Di antaranya, sambung Seno, sejak PDIP didirikan, dia tidak pernah diajarkan sekalipun oleh sang ayah (Pak Tjip) untuk memanfaatkan jabatan orangtuanya dalam kepentingan menguasai posisi strategis di internal partai.

"Dan ini praktik yang sedang dilakukan oleh Risma, Fuad Benardi anak biologisnya dan Eri selaku anak ideologisnya," ungkap dia.

Seno mengaku perlawanan terhadap Risma, Fuad dan Eri yang ia lakukan demi penyelamatan partai, penyelamatan sejarah PDIP Kota Surabaya.

"Jika titik kemenangan itu diraih, maka bukan menjadi kemenangan hakiki dari saya. Itu kemenangan partai, kemenangan Ibu Megawati Soekarnoputri dan penyelamatan sejarah PDI Perjuangan Surabaya," tegasnya.

Seno pun tetap menyerukan kepada seluruh barisan loyalis Whisnu Sakti Buana, baik dari kalangan kader, simpatisan maupun relawan independen yang kerap tak terlihat untuk melakukan konsolidasi, merapatkan barisan dan menggerakkan langkah bersama.

"Melawan Risma. Melawan upaya pemecah belahan dan pemanfaatan kekuasaan dengan aji mumpung," tegas lagi.

Tak hanya Anugrah dan Mat Mochtar, dari informasi yang dihimpun sumber Surabaya Pagi, beberapa kader PDIP di tingkat PAC yang dikenal militan dengan Whisnu Sakti pun akan memindahkan pilihannya kepada pasangan MA-Mujiaman.

Sama seperti apa yang diutarakan Mat Mochtar dan Anugrah, mereka kecewa dan tak ingin partai berlambang banteng moncong putih itu diinjak-injak oleh kekuasaan Risma dan kroni-kroninya.

“Kita hati masih PDIP. Tetapi Risma itu seperti sedang membuat oligarki di Surabaya. Makanya kita tidak ingin,” jelas sumber Surabaya Pagi, yang berasal dari PAC daerah Tambaksari.

 

PDIP Harus Introspeksi Diri

Terpisah, Direktur Media dan Komunikasi Paslon 02, Imam Syafi’i, menyebut banyaknya kader PDIP yang mbalelo, menunjukkan internal PDIP itu perlu introspeksi diri. Apalagi ada video viral yang menunjukkan beberapa kader PDIP yang meneriakkan yel-yel itu juga pernah memenangkan Risma dalam pilwali sebelumnya. Mereka mengatasnamakan diri Banteng Ketaton.

”Mungkin mereka saking kecewanya pada Risma. Jadi bisa jadi itu ungkapan spontanitas di luar kuasa kami,” terang Imam.

Sebagai mantan direktur di sebuah televisi swasta, Imam juga beberapa kali mengalami kekecewaan terhadap Risma. Terutama ketika Risma tidak menerima kritik membangun yang dilayangkan lewat pemberitaan anak buahnya.

”Bu Risma itu kalau dikritik langsung marah dan minta wartawan yang meliput diganti. Khan cara-cara seperti ini tidak benar,” kata Imam yang pernah menginterupsi Risma dalam rapat paripurna DPRD Surabaya terkait masih maraknya mafia perizinan di Pemkot Surabaya, banyaknya kepala dinas rangkap jabatan, serta mengungatkan agar APBD Surabaya tidak diboncengi untuk kampanye terselubung Eri Cahyadi yang saat itu masih menjabat Kepala Bappeko Surabaya.

Imam menegaskan baik Machfud Arifin maupun Mujiaman, tidak pernah mengarahkan relawan atau pendukung melakukan hal-hal yang tidak patut dalam kontestasi Pilwali Surabaya. Bahkan sampai dianggap sebagai memecah belah.

“Baik Pak Machfud maupun Pak Mujiaman selalu menekankan agar pendukung mengedepankan kampanye dengan cara cara yang baik dan santun,” ujar  mantan jurnalis yang kini menjadi anggota DPRD Surabaya itu.

 

PDIP Surabaya Masih Diam

Sementara, hingga Minggu (29/11/2020) pukul 21:00 WIB, Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Dominikus Adi Sutarwijono, dan Ketua Bappilu PDIP Surabaya Anas Karno, saat hendak diklarifikasi terkait banyaknya kader PDIP yang mbalelo seperti Mat Mochtar dan Anugrah Ariyadi, masih diam.

Wartawan Surabaya Pagi yang menghubungi Adi Sutarwijono sejak pukul 15:00, baik ditelpon melalui pesan WhatsApp dan pesan singkat WhatsApp, juga tidak direspon.

“Maaf bapak, mohon minta tanggapan mengenai viralnya sikap bapak Anugrah Ariyadi. Matur nuwun sebelumnya,” tulis Surabaya Pagi melalui pesan WhatsApp Adi Sutarwijono, Minggu (29/11/2020).

Hal yang sama dengan pertanyaan yang sama, juga wartawan harian kita klarifikasi kepada Anas Karno, Ketua Bappilu DPC PDIP Surabaya. Baik pesan WhatsApp dan telepon melalui WhatsApp juga tidak direspon. alq/byt/cr2/rmc