‘Anak-anaknya Saya Diperhatikan juga ya Biar Mereka Happy’

Sofyan Basir Diduga Beri Kode Minta Suap

Sidang lanjutan mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, mengungkap fakta mencengangkan. Dalam agenda sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019) ini. Jaksa KPK membongkar tangkapan layar WhatsApp (WA) yang berisi komunikasi antara Eni Maulani Saragih dan Johanes Budisutrisno Kotjo. Di sana terkuak percakapan keduanya yang membahas soal pembagian uang suap.

Wartawan SurabayaPagi, Jaka Sutisna

Dalamtangkapan layar WhatsApp (WA) itu terungkap adanya pesan mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir yang disampaikan Eni.

Eni merupakan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR, sedangkan Kotjo adalah pengusaha. Eni membantu Kotjo berhubungan dengan PLN, dalam hal ini Sofyan, untuk mendapatkan proyek. Salah satu pertemuan yang terungkap adalah di Hotel Fairmont Jakarta.

"Benar Bu Eni Maulani Saragih melakukan pertemuan dengan Sofyan Basir di Hotel Fairmont, yang mana pertemuan itu Pak Sofyan mengatakan bahwa Ibu harus mendapatkan the best dan anak-anaknya harus diperhatikan?" tanya jaksa kepada Eni, yang duduk sebagai saksi dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Sofyan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019).

"Saya sudah sampaikan iya (benar)," jawab Eni.

Jaksa kemudian menanyakan tentang ucapan ’anak-anaknya harus diperhatikan’, yang menurut Eni disampaikan Sofyan kepadanya. Namun Eni mengaku lupa maksud ucapan itu. Jaksa pun membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Eni. Berikut isinya:

Bahwa saya benar pernah bincang-bincang dengan Sofyan Basir saat rapat dengan mitra di Hotel Fairmont. Saat itu Pak Sofyan Basir ada rapat juga dengan orang lain dan pas kebetulan kami bertemu di lobi Hotel Fairmont dan kami berbincang masalah proyek Riau-1. Dan saat itu Pak Sofyan Basir bahwa dia bertekad proyek 35 ribu megawatt harus selesai akhir tahun 2017. Kemudian beliau menyampaikan bu Eni Maulani Saragih harus mendapatkan yang the best dari Pak Kotjo (Johanes B Kotjo) dan saya hanya ketawa saja atas penyampaian itu. Dan Pak Sofyan Basir menyampaikan anak-anaknya di PLN agar diperhatikan juga oleh Pak Kotjo dan saya mengatakan akan menyampaikan Pak Sofyan Basir kepada Pak Kotjo, dan saat bertemu Pak Kotjo ditanggapi iya saja.

Isi BAP itu diamini Eni. Namun lagi-lagi Eni tetap tidak ingat dengan maksud ’anak-anaknya harus diperhatikan’ yang dimaksud Sofyan kepadanya.

"BAP di bagian akhir, ’Saya juga sampaikan Pak Sofyan, staf di bawahnya seperti Pak Iwan (Supangkat Iwan Santoso) dan staf lain di PJB (PT Pembangkitan Jawa Bali) agar diperhatikan dan saya sampaikan Pak Kotjo sebagai pengusaha saya pikir sudah memahami, kalau ada rezeki, jangan dimakan sendiri oleh Pak Kotjo. Atas hal itu, Pak Kotjo mengirimkan tanda jempol’," kata jaksa membacakan BAP Eni lainnya.

Eni mengamini lagi keterangannya dalam BAP yang dibacakan jaksa itu. Untuk memperkuat hal itu, jaksa kemudian menampilkan tangkapan layar komunikasi WA antara Eni dengan Kotjo.

Berikut tangkapan layar komunikasi WA antara Eni dengan Kotjo:

Eni: SB bilang Bu Eni dapatnya harus yang the best ya.., karena di sini Bu Eni yang fight saya bilang aman.. yang fight kita bertigalah.. Pak SB juga fight, Pak kotjo.

Kotjo: Hahaha iya ibu, kita semua.

Eni: SB sangat mengerti hitung-hitungan, besok-besok katanya jangan di-print-print, langsung saja, biar cepat, gak bolak-balik hahaha.

Kotjo: Besok-besok lebih cepat karena sudah tahu maunya PLN.

Eni: Thema baru harus langsung aja biar cepat.

Kotjo: Beres.

Eni: SB: anak-anaknya saya diperhatikan juga ya biar mereka happy.

Kotjo, yang juga duduk sebagai saksi dalam sidang itu, mendapat giliran ditanya jaksa. Isi WA itu dicek jaksa ke Kotjo yang turut diamininya.

"Iya, pernah dengan Bu Eni melalui WA," ucap Kotjo.

Dalam sidang ini, Sofyan didakwa membantu Eni mendapatkan suap dari Kotjo terkait proyek PLTU Riau-1. Eni sendiri sudah divonis bersalah menerima suap dari Kotjo dan saat ini sedang menjalani hukuman pidana, begitupun Kotjo, telah divonis bersalah memberikan suap ke Eni.

Eks Dirut PLN Sofyan Basir menjelaskan soal pesannya yang meminta mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih memperhatikan anak-anaknya. Sofyan menyebut maksud anak-anaknya harus diperhatikan yaitu terkait pengurusan administrasi proyek PLTU Riau-1.

"Jadi saya langsung tolong administrasi diurus di bawah, adik-adik diurus jangan sampai ada yang tertinggal. Maksud saya administrasi tolong diurus, masih tanda tangan dan masih simpang siur, proses masih tumpang tindih dan ini masih program baru," kata Sofyan yang duduk sebagai terdakwa dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Sofyan, terdakwa kasus suap terkait proyek PLTU Riau-1, juga membantah menerima uang terkait proyek tersebut. Selain itu, ia juga mengaku tidak mengetahui adanya pembagian fee dari Eni Saragih dan Johanes Budisutrisno Kotjo.

"Masalah uang, saya tidak bisa terima uang, saya sangat cukup diberikan negara. Untuk fee, tadi disampaikan Pak Kotjo, demi Allah saya tidak tahu sama sekali soal fee, sampai akhir pun tidak tahu kecuali di berita. Yang dibagikan Bu Eni dan Pak Kotjo saya tidak pernah tahu satu rupiah pun," jelas Sofyan berdalih.

Untuk pertemuan di Hotel Fairmont, Jakarta, Sofyan mengaku bicara masalah batu bara. Dalam pertemuan itu, kinerja Eni Saragih di DPR bagus.

"Bu Eni soal the best di Fairmont itu pertemuan begitu saja. Waktu itu Bu Eni bicara masalah batu bara, masalah energi. Waktu ketemu ibu saya spontan karena dukung ibu di DPR. Bu top kerjanya, maksud saya diskusi hasil pertemuan dengan Komisi VII DPR, Pak Sofyan dan Pak Kotjo juga kerja keras, ini salah," sebut Sofyan.