•   Senin, 18 November 2019
Pilwali 2020

ANALISIS PILWALI, Politisi-Birokrat, Paling Berpeluang

( words)
Didik Presetiyono, Direktur Surabaya Consulting Group


SURABAYAPAGI.com - Direktur Surabaya Consulting Group (SCG) Didik Presetiyono menilai tiga tokoh sentral di internal PDIP Surabaya, yakni Bambang DH, Tri Rismaharini dan Whisnu Saktu Buana, mempunyai pengaruh kuat di hadapan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Bahkan, masukan Bambang DH maupun Risma, bakal dipertimbangkan dengan serius oleh Megawati.

SCG sendiri sebelumnya telah merilis enam tokoh yang berpotensi maju sebagai cawali sekaligus bisa mengantongi approval dari Bambang dan Risma. Dari yang terbanyak menurut survei, mereka adalah Wisnu Sakti Buana. Disusul Puti Guntur Soekarno, Armuji, dan Eri Cahyadi. Dua orang yang siap menyalip di tikungan adalah Hendro Gunawan dan Mochamad Nur Arifin (Ipin).

Enam orang tersebut, sambung Didik, berpeluang mendapat rekom dari Bambang DH maupun Risma. Seperti yang sudah diketahui, Eri Cahyadi dan Hendro Gunawan merupakan birokrat pembantu wali kota Surabaya. Artinya, keduanya berpotensi mendapat rekom dari Risma.

Di sisi lain, Puti Guntur Soekarno dan Mochamad Nur Arifin, sudah menyatakan tidak akan ikut ambil bagian dalam kontestasi Pilwali Surabaya. Daftar ini pun menyisakan Armuji dan Wisnu Sakti. Namun di antara keduanya, masih belum jelas bakal mendapat rekom dari siapa. "Jadi, ini bukan siapa yang maju cawali melalui jalur siapa," ungkap Didik kepada Surabaya Pagi, Kamis (25/7/2019), "Tetapi enam tokoh itu semuanya berpeluang mendapat rekom Bambang DH maupun Risma."

Mantan komisioner KPU Jatim ini menilai, persaingan antara Bambang DH dan Risma merupakan persaingan yang sehat. Soalnya, mereka berdua bersaing demi membesarkan partai. Bambang DH sebagai ketua Bapilu DPP PDIP sukses mengantar partai banteng menang dalam Pemilu 2019. Di lain pihak, Risma berprestasi sebagai wali kota.

"Saya lebih melihat keduanya bersaing untuk membesarkan partai. Mereka ini satu pekarangan, satu korps, sama-sama PDIP," papar Didik. "Bisa saja nanti cawali dan cawawalinya, kombinasi dari rekom Bambang dan Risma."

Wisnu Loyalis PDIP
Sementara itu, di samping memperhatikan rekom Bambang dan Risma, DPP PDIP sendiri juga bakal memelototi hasil survei. Nama Wisnu Sakti Buana sendiri diketahui sebagai yang tertinggi dari sederet survei eksternal. Oleh sebab itu, wakil wali kota Surabaya ini punya peluang ditunjuk oleh Ketum Megawati untuk maju cawali dalam Pilwali Surabaya mendatang. Di atas kertas, Wisnu Sakti untuk sementara sedang berada di atas angin.

"Seandainya tidak mendapat rekom, saya yakin Pak Wisnu bisa menerima. Dia orang loyalis PDIP. Saya tidak melihat Pak Wisnu bakal maju dari jalur independen," tutur Didik.

Terlebih, sambung Didik, Wisnu Sakti Buana kini diberi tanggungjawab yang lebih besar oleh partai yaitu menjabat sebagai wakil ketua DPD PDIP Jatim Bidang Keorganisasian. Kini, Wisnu Sakti tidak lagi mengurus DPC Surabaya saja sebagaimana biasa, tetapi mengurus seluruh DPC se-Jatim.

Apakah dengan jabatan yang lebih tinggi, Wisnu Sakti punya kewenangan untuk mengatur atau mengendalikan DPC? Terkait hal ini, Didik menilai PDI merupakan partai besar yang segala keputusan kepartaian, berada di kepengurusan pusat alias DPP. "Sesuai tupoksi, bukan mengatur atau mengendalikan, melainkan menata organisasi," ungkap Didik. "Yang mengatur dan mengendalikan adalah tetap DPP."

Fatsun PDIP
Di lain pihak, dari semua tokoh yang masuk survei SCG, baru Armuji yang menyatakan secara terbuka, siap maju sebagai cawali jika ditugaskan oleh partai. Bahkan, dia terang-terangan bakal menggandeng Eri Cahyadi. Armuji pun rela dipasangkan dengan Eri sebagai cawawali bila partai menghendaki demikian.

Terkait hal ini, Didik menilai semuanya masih punya peluang yang sama, termasuk Armuji dan Eri Cahyadi. Apalagi, hal ini sesuai dengan fatsun yang dijalankan oleh PDI dalam tiga Pilwali Surabaya terakhir. "Semua masih open to possibilities atau terbuka terhadap semua kepentingan. Sangat menarik karena mereka merupakan kombinasi politisi dan birokrat," cetus Didik.

Menurut Didik, masyarakat Surabaya saat ini mempunyai standar wali kota ideal adalah sosok Tri Rismaharini. Oleh sebab itu, sederet kandidat diketahui sulit mendongkrak elektabilitas mereka masing-masing karena benchmark kepuasan pemerintahan era rezim Tri Rismaharini. "Masyarakat Surabaya ini cerdas. Tahu siapa yang layak memimpin Kota Surabaya," pungkas Didik. n

Berita Populer