•   Senin, 16 Desember 2019
Peristiwa Nusantara

Arek Sidoarjo, Korban Lion Air Teridentifikasi Pertama

( words)
Rumah keluarga Jannatun Cintya Dewi (24), korban kecelakaan Lion Air JT-610 yang pertama teridentifikasi, di Sukodono, Sidoarjo.


SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo – Korban pertama pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, akhirnya teridentifikasi. Berdasarkan sidik jari dan properti ante mortem yang dibawa keluarga korban, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengidentifikasi satu jenazah korban teridentifikasi bernama Jannatun Cintya Dewi. Perempuan 24 tahun itu ternyata warga Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.
"Berdasarkan hasil rekonsiliasi pukul 16.00 WIB ada satu body part teridentifikasi atas nama Jannatun Cintya Dewi," kata Kapusdokkes Brigjen Arthur Tampi, Rabu (31/10/2018).
Arthur menjelaskan identifikasi terhadap Jannatun dilakukan dengan mengecek sidik jari. Tim mengecek sidik jari sebelah kanan korban. Sidik jari jenazah dibandingkan dengan e-KTP, hasilnya sama.
Tim juga membandingkan dengan ijazah korban. Tak cuma itu tim juga membandingkan dengan properti yang dipakai korban. Saat ditemukan, jenazah mengenakan cincin. "Benar korban selalu memakai cincin mas di jari tengah tangan kanan," tutur dia.
Kapusinafis Bareskrim Polri Brigjen Polisi Hudi Suryanto, mengatakan, dari 24 kantong jenazah, satu kantong ini menjadi yang paling mudah diidentifikasi karena ditemukan sidik jarinya. Hudi menjelaskan korban teridentifikasi ini merupakan mahasiswi dan belum menikah.
Dia juga berharap dengan satu keberhasilan identifikasi ini, juga diikuti dengan keberhasilan pengidentifikasian korban lainnya. "Semoga ini bisa menjadi awal pembuka keberhasilan identifikasi korban lainnya," harapnya.
Rumah Duka
Sementara itu, rumah korban di Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, terus dikunjungi kerabat dan famili. Termasuk karangan bunga juga terlihat berjejer di sekitar rumah. Diketahui, Jannatun Cintya Dewi merupakan anak pertama dari pasangan suami istri Bambang Supriyadi (48) dan Sutiyem (45).
Korban yang akrab dipanggil Yayas itu diketahui baru dua tahun bekerja di Kementerian ESDM. "Iya, barusan tahu kabar bahwa yang dikenali adalah Yayas," ujar seorang kerabat di rumah duka.
Saat ini, sejumlah kerabat dan famili masih berkumpul di rumah tersebut. Baru saja malam tadi digelar istighosah di rumah tersebut. Menurut Nadzir Ahmad Firdaus, adik korban, keluarga mengetahui bahwa Jannatun Cintya Dewi menjadi korban dalam kecelakaan ini saat melihat tayangan berita di televisi.
"Bapak dan ibu langsung syok saat tahu kabar tersebut," cerita dia. Setelah kabar itu, kedua orangtuanya langsung ke Jakarta mencari kabar terkait korban.
Mansur, paman korban menambahkan, rencananya jenazah korban diterbangkan dari Jakarta pagi ini (1/11). Karena itu, pihaknya sedang menyiapkan pemakamannya. Begitu jenazah datang akan dimakamkan di makam umum desa setempat yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka.
Santunan dari Pemprov
Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan menyantuni keluarga lima korban penumpang pesawat Lion Air JT-610. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Rabu (31/10/2018). Soekarwo menyebut ada lima korban pesawat lion air yang tercatat sebagai warga Jawa Timur, diantaranya Deryl Fida Febrianto, warga Simo Pomahan Baru, Surabaya; Pramugari Alfiani Hidayatul Solikah, warga Mojorejo, Kebonsari, Madiun; Hesti Nuraini warga Kelurahan Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Blitar; dan Tri Haska Hafidzi, warga Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Blitar serta yang terakhir diketahui adalah Mujiono, warga Ngingas, kecamatan Waru, Sidoarjo.
"Ada Deryl warga Simo Pomahan Baru Surabaya, Tri Haska Hafidzi warga Blitar, Mujiono Ngingas kecamatan Waru dan Alfiani Hidayatul Solikah itu tetangga saya desa Mojorejo Kebonsari sana," ujar gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini.
Sementara itu untuk hasil identifikasi Pakde Karwo menyatakan bahwa dirinya masih akan menunggu tim yang menanganinya. Ia juga mengatakan jika hasil identitas korban dari penumpang masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat. "Ya kita menunggu, karena ini kan masih identifikasi apa betul itu dan apakah semua sudah meninggal, belum ada keputusan semua. Kita belum bisa memastikan,” imbuh Soekarwo.
Saat ditanya apakah Pemprov akan memberikan bantuan kepada korban pesawat Lion Air, Pakde mengatakan akan memberikan santunan kepada keluarga korban. "Kita peduli terhadap yang meninggal dan yang tidak meninggal. Pemerintah akan memberikan bantuan, uang yang lain-lain apa yang diperlukan di situ, tapi prinsipnya uang," tandasnya.

Image
Direktur Teknik Dicopot
Direktur Teknik Lion Air, Muhammad Asif, dicopot dari jabatannya, buntut dari jatuhnya Lion Air JT 610. Sebanyak 189 penumpang, termasuk pilot dan awak pesawat, yang diyakini tewas. Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan Direktur Teknik Lion Air dibebastugaskan, bukan dipecat. Pembebastugasan itu dilakukan karena direktur tersebut harus jalani serangkaian pemeriksaan.
Pembebastugasan itu berlaku hingga pemeriksaan kecelakaan Lion Air PK-LQP yang jatuh selesai. Jika pemeriksaan selesai, dan si direktur dinyatakan tidak salah, maka bisa kembali ke posisinya. "Kalau sudah ada pemeriksaan, dan dia tidak salah, tidak dibebaskan. Ini sementara," ujar Menhub Budi.
Selain direktur staf teknik yang merekomendasikan penerbangan pesawat PK-LQP itu juga dibebastugaskan. Keputusan membebastugaskan itu diambil setelah Menhub menggelar rapat dengan Dirjen Perhubungan Udara dan direktur-direktur Lion Air. "Dari pengamatan kami dan berdasarkan dari job desc satu perusahaan penerbangan, kelaikan dari satu perusahaan penerbangan itu yang tanggung jawab adalah direktur teknik. Saat ini, seperti yang diketahui, KNKT akan melakukan pemeriksaan terhadap Lion Air dan kejadian itu sendiri. Kemenhub melalui direktur kelaikan akan mengevaluasi kejadian itu, sehingga untuk mempermudah dilakukan pemeriksaan maka direktur teknik dibebastugaskan agar pemeriksaan dilakukan dengan baik dan terang benderang prosedur apa yang benar dan yang salah," papar Budi.
Pemilik Lion Air
Ketua Departemen Hukum dan HAM PKS Zainudin Paru meminta bos Lion Air, Rusdi Kirana, dicopot dari jabatan Dubes RI untuk Malaysia akibat jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. “Teman-teman anggota DPR RI di Komisi I dan Komisi V harus bicara mengenai status Rusdi Kirana sebagai Dubes Indonesia untuk Malaysia," kata Zainudin dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (31/10/2018).
Zainudin menyebut manajemen Lion Air selama ini sering bermasalah. Karena itu, Rusdi disebutnya harus bertanggung jawab. "Dengan kecelakaan Lion Air saat ini dan berbagai permasalahan maskapai itu selama ini, sebaiknya jabatan Dubes Rusdi Kirana harus segera diganti. Agar dia ikut dan harus bertanggung jawab dalam karut-marutnya manajemen Lion Air," jelas Paru.
Sementara itu, Wasekjen PKB Daniel Johan membela Rusdi. Menurut dia, kecelakaan pesawat PK-LQP rute Jakarta-Pangkalpinang itu merupakan musibah yang membuat semua orang berduka. Dia meminta permasalahan ini tak diseret ke politik. "Kecelakaan ini adalah duka kita bersama. PKB sendiri sedang sangat berduka dengan peristiwa ini karena kita kehilangan kader terbaik Ketua DPC Babel. Kita berharap kecelakaan ini tidak dibawa ke ranah politik atau dipolitisasi," ungkapnya saat dikonfirmasi terpisah.
"Kita serahkan kepada pihak yang berwenang untuk investigasi. Di mana kesalahannya dan bagian mana yang harus dievaluasi agar kejadian serupa tidak berulang, harus benar-benar dilaksanakan," jelas Daniel. n jk/arf/sg/nt

Berita Populer