•   Selasa, 12 November 2019
Surabaya

Artis Cewek Bertarung di Surabaya

( words)


Berebut Kursi DPR RI di Dapil Jatim I, Modal Popularitas tak Jamin Lolos

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur 1 yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo bakal menjadi dapil terpanas pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Tak hanya diisi politikus senior, sejumlah selebriti dan keluarga konglomerat ikut berebut jatah kursi DPR RI. Menariknya, artis cewek dan politisi cewek tak mau kalah. Sebut saja Arzetti Bilbina, Puti Guntur Soekarno, Indah Kurnia, Manohara Odelia Pinot, Lucy Kurniasari hingga Angle Herliani Tanoesoedibjo. Jika artis ini hanya bermodal popularitas, mereka diprediksi tak bakal lolos ke Senayan. Apalagi, hanya ada 10 kursi dari dapil Surabaya-Sidoarjo ini.
-----
Dari Daftar Calon Tetap (DCT) yang dirilis KPU, artis cewek yang bertarung di Surabaya-Sidoarjo ada Arzetti Bilbina dari PKB di nomor urut 2 dan Sundari Soekotjo di nomor urut 4. Arzetti punya kans kuat, mengingat ia caleg incumbent yang pernah ikut Pileg 2014. Saat itu, model cantik ini meraih lebih dari 50.000 suara di Dapil Jawa Timur 1.
Kemudian, Manohara Odelia Pinot yang maju sebagai caleg NasDem nomor urut 6. Namun, peluang lolos sangat berat. Selama ini ia hanya dikenal sebagai artis yang membintangi sejumlah film dan sinetron. Sementara yang dihadapi politisi senior. Sebut saja, Indah Kurnia dari PDIP. Pada Pileg 2014, ia lolos menjadi anggota DPR RI setelah memperoleh 68.497 suara di dapil Surabaya-Sidoarjo. Indah dikenal sebagai mantan manajer klub sepak bola wanita pertama di Indonesia. Bahkan, ia mampu membawa Persebaya meraih Juara Liga Indonesia di 2006. Selain itu, Indah memiliki latar belakang sebagai bankir dan profesional.
Masih dari PDIP, ada nama Puti Guntur Soekarno di daftar caleg nomor urut 2. Pada Pemilu 2014 lalu, Puti lolos ke DPR lewat Dapil Jabar X. Dia lalu mundur dari DPR untuk menjadi cawagub Jatim di Pilkada 2018 namun kalah. Di Pemilu 2019, Puti kemudian pindah dapil.
Lucy Kurniasari yang menjadi caleg nomor urut 1 Partai Demokrat, juga memiliki basis massa cukup kuat di dapil Surabaya-Sidoarjo. Pada Pileg 2014, Lucy juga maju dari Demokrat dapil Jatim 1 dan memperoleh suara 75.990. Saat itu, ia kalah dari Fandi Utomo. Namun lantaran Fandi Utomo nyeberang ke PKB, akhirnya dilakukan PAW. Lucy kemudian dilantik menjadi anggota DPR pada rapat paripurna 18 Mei 2018, menggantikan Fandi.
Pesaing lain di Dapil Jatim I adalah Angle Herliani Tanoesoedibjo. Meski pendatang baru di dunia politik, namun wanita muda ini tak bisa diremehkan. Sebab, kekuatan finansialnya tak diragukan lagi. Angle Herliani merupakan penerus kerajaan bisnis Hary Tanoesoedibjo, pemiliki MNC Group, yang juga Ketua Umum Partai Perindo. Di dapil Jatim I, Angle Herliani menjadi caleg nomor urut 1 dari Partai Perindo.
Modal Popularitas
Sekretaris DPD PDI Perjuangan (PDIP) Jatim, Sri Untari Bisowarno mengatakan nyalegnya sejumlah artis di Jawa Timur merupakan hak sebagai warga negara. Setidaknya, artis sudah memiliki modal awal popularitas, yaitu terkenal. Kendati demikian, popularitasnya sebagai publik figur belum tentu bisa membuat masyarakat memilihnya.
Untari juga menyebut setidaknya ada beberapa artis yang juga ikut bertarung melalui PDIP, seperti Krisdayanti yang nyaleg di dapil Jatim V dan Andre Hehanusa di dapil Jatim I. "2014 lalu banyak artis yang nyaleg, ada yang jadi, ada juga yang tidak," terang Untari dihubungi Selasa (25/9/2018).
Namun, Untari tidak merinci dengan pasti hitung-hitungan ongkos politik untuk lolos Pileg dari dapil Surabaya-Sidoarjo. Yang lebih utama selain uang ialah bagaimana caleg itu bisa mengambil simpati masyarakat untuk memantapkan agar dipilih.
"Para caleg baru survei, lihat lapangannya, lihat seperti apa masarakat itu orang mengenal dia. Kalau misal kurang respect jadi harus meningkatkan diri dengan cara sosialisasi terjun langsung ke warga, ke mimbar-mimbar biar tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan," ungkapnya.
Diprotes Kader Parpol
Begitupun diungkapkan politisi Partai Kebangkitan Bangsa, Hikmah Bafaqih. Menurutnya, artis kedudukannya sama dengan masyarakat biasa, mereka punya hak memilih dan dipilih. Maka untuk menjadi caleg dikembalikan kepada masyarakat bagaimana menyikapinya. "Apakah memang mereka (masyarakat) sepakat atau tidak. Populer itu modal sosial utama yang penting. Saya pikir semua modal harus dikerahkan," ucap Hikmah dikonfirmasi terpisah.
Kendati demikian, lanjut dia, di tubuh PKB sendiri ada sedikit protes dari beberapa kader yang merasa disalip oleh datangnya artis di PKB. Namun baginya itu suatu kewajaran yang mesti diterima oleh semua. Pasalnya hal tersebut juga sudah melalui pertimbangan yang matang.
Bagaimanapun juga, lanjut Hikmah PKB juga butuh sosok artis untuk bisa mendongkrak elektoral partai. "PKB tentang mengambil pesohor (artis) juga dengan tetap selektif, setidaknya ideologi keislamannya yang Ahlussunnah Wal Jamaah," tandasnya.
Dongkrak Elektoral Parpol
Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW Partai Nasdem Jatim, Ipong Muchlissoni mengatakan artis memiliki popularitas yang baik dibanding yang bukan artis. Dia memiliki peluang sedikit lebih besar, meskipun itu bukan jaminan juga. "Bagi Nasdem sebuah berkah, sebuah anugerah kita memiliki banyak artis yang nyaleg di Jawa Timur ini. Saya berharap itu bisa menambah suara kita ke depannya," ujar Ipong
Untuk mendapatkan satu kursi legislatif dari dapil Jatim 1(Surabaya-Sidoarjo) menurut Ipong caleg harus kerja keras, karena tingginya persaingan. Nasdem menargetkan pada Pileg 2019 minimal bisa mendapat satu kursi dari Dapil Jatim I.
"Kalau untuk DPR RI (Dapil Jatim 1) setidaknya 220.000 suara itu kalau mau aman. Walaupun pada Pileg 2014, 130.000 itu sudah lolos. Dapil Jatim 1 DPR RI ada 10 kursi," ungkapnya lagi.
Sedang untuk ongkos politik paling tidak setiap caleg harus menyiapkan dana Rp 1 miliar untuk bisa lolos ke Senayan. "Tergantung sejauh mana dia punya rencana aktivitas, tapi kalau bayangan saya sekitar 1 miliar. Karena baliho dibantu KPU. Itu di luar sumbangan-sumbangan yang diberikan caleg," paparnya. n

Berita Populer