Ayo Hidup Dengan The New Normal

Hingga Senin (18/5/2020) sore hari, warga kota Surabaya di daerah Wiyung, masih memadati jalanan meski sedang menjalani PSBB. Mereka seolah ingin hidup berdamai dengan Corona. Foto: SP/Patrik

Tatanan Hidup Baru Agar tak Tertular Covid 19, Ajak RT/RW untuk Jaga Kebersihan, Kesehatan dan Disiplin Masyarakat


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya
– Di Indonesia, warga yang terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19) sudah mencapai 18.010 kasus. Kenaikan cukup melonjak drastis, termasuk di Jawa Timur dan Surabaya. Pada Senin (18/5/2020) kemarin, kasus positif sudah mencapai 2.281 kasus. Sementara Surabaya masih yang terbanyak di Jatim, ada pelonjakan 50 kasus, dibanding sehari sebelumnya, menjadi 1.109 kasus positif Covid-19. Hal ini yang membuat pemerintah meminta agar masyarakat di Indonesia dapat lebih terbiasa dengan tatanan hidup normal yang baru (The New Normal) untuk menghadapi penyebaran virus corona (Covid-19) yang hingga masih merebak di Indonesia. Pasalnya, vaksin Covid-19 sendiri hingga kini masih belum bisa ditemukan.

Melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menganggap semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya mengubah pola hidup selama krisis ini. "Kebiasaan ini, mestinya harus bisa kita galakkan. Harus bisa jadi darah daging kita untuk menghadapi pandemi secara global ini," kata Achmad Yurianto, di Graha BNPB, Senin (18/5/2020).

Yuri menjelaskan, masyarakat kini sudah banyak melakukan perubahan dalam melaksanakan pola hidup sehat. Hal itu, kata dia, lantaran masyarakat semakin memahami penyakit Covid-19 ini. Dengan demikian, setiap individu diharapkan dapat mengambil sikap yang tepat sesuai anjuran pemerintah dan juga protokol kesehatan.

Perminataan pemerintah agar masyarakat bisa menerapkan hidup the New Normal, pun direspon beberapa akademisi, pakar hingga tokoh masyarakat di Surabaya yang dihubungi Surabaya Pagi, Senin (18/5/2020) secara terpisah. Para akademisi hingga tokoh masyarakat di Surabaya menilai, hidup The New Normal, bisa dilakukan dengan beberapa syarat yang ketat.

 

Budaya Gotong Royong

"Saya sudah mulai melihat ada perubahan. Mulai dari prioritas kebutuhan bagi keluarga, lebih meningkatkan solidaritas gotong royong, menikmati dan memanfaatkan stay at home, memanfaatkan teknologi dan media sosial, serta pergeseran pola pergaulan sosial seperti lebih menjaga jarak," ujar Ronny Herowind Mustamu, yang dihubungi Surabaya Pagi, Senin (18/5/2020) sore kemarin.

Menurutnya, yang paling terlihat menonjol perubahan masyarakat menuju the new normal adalah penggunaan masker dan rajin mencuci tangan. Dengan perubahan ini, dirinya yakin bahwa masyarakat mampu menjalankan the new normal. "Masyarakat Indonesia yang mempunyai budaya gotong royong dan tata krama. Karena pada dasarnya the new normal adalah menjaga kebersihan dan kesehatan bersama," jelasnya.

Dirinya menambahkan bahwa masyarakat hanya perlu membiasakan diri untuk menjaga jarak sosial dan fisik, serta kebersamaan yang guyub untuk menerapkan standar kesehatan seperti menggunakan masker dan meminimalisir jabat tangan.

Ronny juga berharap pemerintah mampu menjadi fasilitator. Contohnya memberi edukasi dan informasi kepada publik seluas-luasnya, serta memudahkan informasi tersebut diakses secara transparan. Menurutnya fokus terpenting dalam hal ini adalah menjalankan layanan publik agar tetap terjaga dan mendapat kepastian.

 

Masyarakat Harus Disiplin

Terpisah, KH Zahrul Azhar Asad atau yang biasa dipanggil Gus Hans, Pengasuh Pondok Pesantren Queen Darul Ulum Jombang melihat, dengan adanya Covid-19 ini, masyarakat harus merubah pola hidup yang berbeda dari normal. Seperti dengan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak

Untuk itu, Gus Hans melihat, bila the new normal ini bisa dilaksanakan dengan baik dan efektif maka pemerintah tidak perlu lagi memberlakukan PSBB. Namun hal ini perlu adanya kesadaran dan disiplin dari seluruh masyarakat untuk mendukung tatanan hidup baru setelah Covid-19 ini.

"Meskipun dengan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda, konsumsi informasi yang berbeda-beda serta budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda, saya yakin masyarakat mampu melakukan the new normal ini," ujar Gus Hans saat dihubungi Surabaya Pagi pada Senin (18/5/2020).

Optimisme itu tentu harus diikuti dengan pemerintah yang konsisten dengan langkah-langkahnya. Karena menurut Gus Hans, akan sama saja jika hanya bergantung pada masyarakat untuk melakukan tetapi pemerintah tidak mendukung dengan langkah yang jelas. Begitu juga sebaliknya. "Agar lebih berjalan efektif, sebaiknya pemerintah mengajak masyarakat melalui RT / RW serta tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk sosialisasi pola hidup tersebut. Karena mereka lah yang lebih tahu kondisi masyarakat seperti apa," kata Gus Hans.

Gus Hans berharap pemerintah mulai sekarang lebih bisa mengalokasikan dana Covid-19 dengan mengedepankan sosialisasi guna mempersiapkan the new normal tersebut, menurutnya ini lebih baik daripada membuat program penanganan yang justru menunjukkan inkonsistensi dari pemerintah itu sendiri.

 

Akibat Lumpuhnya Ekonomi

Sementara itu, seorang Psikologi Sosial & Kepribadian Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Achmad Chusairi, MA melihat bahwa the New Normal merupakan respon lanjut dari upaya menghadapi penularan Covid-19. "Harus kita pahami new normal sebenarnya respon lanjutan dari upaya untuk menghadapi  atau mengurangi penularan. Upaya ini jangan dianggap kontradiksi dengan upaya-upaya sebelumnya," jelasnya.

Achmad Chusairi berpendapat bila akibat dari pandemi ini berdampak pada lumpuhnya ekonomi di seluruh dunia. Apalagi menghadapi aspek pandemi ini membuat kebijakan pemerintah itu salah satu nya menuju pada new normal. “Karena secara ekonomi tidak ada negara yang punya cadangan devisa yang bisa menutup untuk melakukan PSBB secara penuh. Masalah ekonomi dan industri lainnya," terangnya.

Ia kemudian meminta pemerintah untuk belajar dari permasalahan sebelumya, terkait dengan komunikasi sosialisasi, dan edukasi masyarakat tentang the new normal. Menurutnya, new normal harus diikuti oleh protokol kesehatan dan keamanan yang sesuai. Ia juga berharap bila pemerintah ikut menggandeng komunitas dan organisasi masyarakat untuk turut membantu penanganan Covid - 19 di wilayahnya masing-masing.

"New normal pasti akan diikuti oleh protokol kesehatan, persiapan dari segi keamanan, dan seterusnya. Mudah-mudahan seperti itu persiapannya dan ini adalah langkah yang logis. Seringkali tulang punggung kebijakan pemerintah dalam kasus Covid ini adalah birokrasi, mungkin ada baiknya juga melibatkan komunitas atau organisasi masyarakat harus ditingkatkan. Karena tugas pokoknya sudah banyak dalam birokrasi" harapnya.

Terpisah, Pdt. Abraham Nelson Handoyo juga berpendapat bila wabah dari Covid - 19 bisa mengajarkan pola hidup sehat, sebab ia menilai masih banyak masyarakat yang belum sadar dengan kesehatan. "Covid-19 mengajarkan pola hidup sehat, dengan makanan bergizi, selalu mengkonsumsi vitamin, istirahat yg cukup, serta menjaga kebersihan. Maaf karena masyarakat Indonesia masih jauh dengan hal-hal seperti ini. Kalo mau menyadari Covid-19 justru kita dipaksa mengerti arti menjaga kesehatan dan hidup bersih, bersih untuk diri sendiri, dan bersih untuk orang lain. Jangan menyepelekan dan bilang gak faham cara hidup sehat," pungkasnya. jk/adt/byt/cr1/rmc